Selasa, 01 Mei 2012

METODE DAKWAH AL QUR’AN

Bahasa Al Quran

Al Quran sebagai kitab petunjuk bagi seluruh manusia di sepanjang zaman. Luas bumi dan panjangnya masa diliputi oleh  cahaya matahari sedangkan cahaya petunjuk Al Quran bersinar selama kehidupan manusia berlangsung.  Allah swt dalam menjelaskan ruang lingkup risalah Nabi saw berfirman:”Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada Mengetahui”. Surat Saba` ,ayat 28. Dengan demikian risalah beliau saww dan Al Quran, ialah mendunia dan abadi. Umat beliau mencakup seluruh manusia, tidak terbatas pada kelompok tertentu.  Dalam surat Al Furqaan, ayat 1 dikatakan:   ”Maha Suci Allah yang Telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam”. Kitab yang merupakan petunjuk bagi seluruh umat manusia mempunyai dua kriteria:
  1. Al Quran berbicara dengan bahasa dunia supaya dapat difahami oleh semua orang  dan tidak ada jalan  bagi mereka untuk beralasan bahwa bahasa Al Quran ialah tidak benar dan literaturnya asing bagi  mereka.
  2. Kandungan Al Quran berguna untuk semua orang laksana air yang merupakan unsur penyebab kehidupan segala makhluk hidup di sepanjang masa.

Fitrah sebagai bahasa dunia

Dalam bab ini, pembahasan masih terkait dengan kriteria pertama     Al Quran. Berkenaan dengan pemahaman terhadap ilmu-ilmu Qurani, ia tidak bergantung pada kultur tertentu sehingga tanpanya, sampai kepada rahasia-rahasia Al Quran menjadi absurd.  Kultur juga bukan sebagai penghalang manusia untuk memahami pesan-pesan pentingnya. Dengan demikian satu-satunya bahasa sebagai faktor   keteraturan alam manusia ialah bahasa fitrah. Bahasa fitrah ialah kultur umum bagi semua orang di segala waktu. Setiap orang yang memahami fitrah, akan menggunakannya sehingga ia tidak bisa beralasan dengan mengatakan bahwa bahasa fitrah adalah aneh. Dalam surat Ar Ruum, ayat 30, dikatan:”  Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. Kosakata dan literatur bukan merupakan maksud dari bahasa Al Quran dalam kajian ini. Sebab, jelas bahwa selain orang-orang arab tidak mengenal bahasa Al Quran sebelum mempelajari bahasa dan literaturnya. Berbicara dengan bahasa umum fitrah, ialah maksud dari bahasa      Al Quran disini.  Manusia berbeda-beda dari sisi bahasa, literatur, budaya-budaya kesukuan dan iklim daerah akan tetapi dari sisi fitrah, mereka mempunyai kesamaan. Dengan bahasa fitrah inilah, Al Quran berbicara dengan manusia. Oleh karenanya bahasa fitrah sebagai bahasa yang dapat difahami oleh semua orang. Rasulullah saww diutus untuk seluruh suku  maupun kelompok  manusia dan berbicara dengan bahasa fitrah sehingga dimengerti oleh berbagai macam sahabat seperti Salman Al Farisi, Shuhaib Ar Ruumi, Bilal Al Habsyi, Uwais Al Qarni, Ammar dan Abu Dzar Al Hijazi. Dalam kitab Bihar Al Anwar, jilid 16, halaman 323 Rasulullah bersabda: Aku diutus untuk orang-orang yang berkulit putih, hitam dan merah. Beragamnya bahasa, suku, iklim, adab, tradisi serta aneka ragam faktor eksternal lainnya berada dalam naungan kesatuan fitrah manusia ini. Di dalam surat An Nahl, ayat 89, Allah swt berfirman:” Dan kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur`an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”. Perkataan Al Qur`an dengan bahasa fitrah manusia dan difahaminya bahasa fitrah tersebut oleh semua orang, tidak berarti sama kadar pemahaman orang-orang terhadap Al Qur`an. Ilmu-Ilmu Al Qur`an memiliki banyak tingkatan dan setiap tingkatannya hanya dapat difahami oleh kelompok tertentu. Dalam kitab Bihar Al Anwar, jilid 75, halaman 278 dikatakan: Al Qur`an mempunyai empat sesuatu, yang pertama ialah penjelasan ( untuk kelompok awam), yang kedua, adalah isyarat ( untuk kelompok alim ), yang ketiga, ialah point-point penting ( untuk para wali ), yang keempat, adalah hakikat ( untuk para Nabi ).  Setiap orang memahami Al Qur`an sesuai dengan potensi dan kapasitasnya, adapun tingkatan  “Al Maknun” khusus untuk Rasulullah saw dan para Ahlul baitnya.  Meskipun Al Qur`an sebagai kitab yang internasional dan abadi, namun tidak semua orang mendapatkan hidayah untuk memanfaatkanya. Dosa, penyelewengan, keatheisan dan taklid batil kepada orang-orang dahulu, merupakan tirai penutup hati manusia dan sebagai penghalang manusia untuk merenung atas rahasia-rahasia Al Qur`an. Allah swt berfirman dalam surat Muhammad, ayat 24:” Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur`an ataukah hati mereka terkunci”. Hati yang tertutup tidak dapat ditembus oleh ilmu-ilmu Al Qur`an, adapun bagi mereka yang menjaga fitrahnya dari noda-noda dosa seperti sahabat yang bernama Shuhaib yang datang dari Roma, Salman Al Farisi yang datang dari Persia, Bilal yang datang dari Habasyah serta Ammar dan Abu Dzar yang datang dari Hijaz, mereka dapat memasuki ilmu-ilmu Al Qur`an. Sebab fitrah yang terjaga sebagai salah satu dari modal yang diperlukan untuk memanfaatkan  Al Qur`an. Walaupun seorang ilmuan matrealisme tatkala fitrah Tauhidinya terjaga dari penyimpangan, maka ia dapat menerima hidayah Al Qur`an. Sebab tirai keatheisan telah memadamkan cahaya fitrahnya sehingga ia tidak akan merenung tentang kebesaran Al Qur`an karena image bahwa Al Qur`an merupakan dongeng yang di buat-buat. Al Qur`an dapat difahami oleh semua orang dengan syarat bahwa mereka telah mengenal qaedah-qaedah bahasa arab dan ilmu-ilmu yang mendasari pemahaman terhadap Al Qur`an.

Metode penyampaian

Allah swt menjelaskan bahwa risalah Nabi saww dimulai dari pembacaan ayat kepada masyarakat, kemudian mengajarkan hikmah-hikmahnya dan pembenahan diri. Risalah tersebut merupakan tanggung jawab para Nabi untuk mengajak umat manusia kepada Tauhid. Dalam surat Al Jum`ah, ayat 2 di katakan:” Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah”. Allah swt telah mengajarkan pelbagai metode dakwah kepada Rasulullah dan rahasia dari metode dakwah yang beraneka ragam ini dikarenakan adanya perbedaan dan tingkatan pada intelektual quality (IQ) manusia sehingga daya pemahaman mereka tidak sama, meskipun fitrah mereka sama. Obyek Quran yang berbeda-beda ini menuntut metode dakwah yang variatif sehingga orang yang mempunyai IQ tinggi, tidak merasa sombong dan tetap memerlukan pesan-pesan wahyu dan sebaliknya bagi orang yang memiliki IQ rendah juga dapat menjangkau pesan-pesan wahyu tersebut.  Oleh karena itu, Al Quran di samping menunjukkan metode dakwahnya  dengan bentuk hikmah, nasehat yang baik serta sanggahan yang bagus, ia juga menunjukkannya dalam bentuk perumpamaan, supaya dapat dijangkau oleh orang awam sekaligus menjadi penekanan untuk orang alim yang pada intinya dapat diserap oleh semuanya. Jalan hikmah, nasehat baik, serta sanggahan yang bagus dari satu sisi dan perumpamaan serta cerita-cerita dari sisi lain merupakan  metode yang komprehensif dalam dakwah dan hal ini sebagai karakteristik Al Quran yang tidak ditemukan dalam    kitab-kitab lainnya. Di samping Al Quran menggunakan premis tertentu untuk menguatkan bukti-bukti atas klaimnya, ia juga menggunakan perumpamaan agar difahami dengan mudah. Dalam surat Az Zumar, ayat 27 Allah swt berfirman:” Sesungguhnya Telah kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran Ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran”. Untuk lebih jelasnya, kita perhatikan Burhan Tamaanu`(bukti kontradiksi) yang dijelaskan dengan Qiyas Istitsna`i dalam Al Quran. Sesuai logika Aristotelian Qiyas ini tersusun dari dua unsur muqaddam dan tali.  Proposisi  kondisional serta susunan Muqaddam dan Talinya berada dalam surat Al An biyaa`,ayat 22, yang berbunyi:“ Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu Telah rusak. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai 'Arsy dari pada apa yang mereka sifatkan”. Proposisi predikatif dan gugurnya Tali tercantum dalam surat Al Mulk, ayat 3 yang berbunyi:“ Yang Telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka Lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? surat Al Mulk, ayat 4 yang berbunyi : Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah”.
Penjelasan tentang argumen tamanu` diatas ialah, Tuhan yang berbilang merupakan faktor rusaknya tatanan yang terdapat di langit maupun di bumi. Tetapi tidak kita saksikan adanya gesekan maupun kekacauan pada tatanan alam ini, sebaliknya tatanan yang terdapat di langit maupun muka bumi berjalan tertib sesuai dengan tugas masing-masing. Dengan demikian gugurlah klaim tentang Tuhan berbilang tersebut. argumen Tamanu` ini juga dikemas dalam perumpamaan dengan penjelasan bahwa apakah seorang budak yang memiliki beberapa tuan yang berbeda kehendak dan kepentingan  sama dengan seorang budak yang hanya mempunyai satu tuan yang bijaksana?   Artinya, budak pertama bekerja dengan tidak teratur karena perintah yang berbeda-beda, namun lain hal nya dengan budak kedua, ia bekerja dengan teratur atas satu perintah. Perumpamaan ini terdapat pada surat Az Zumar, ayat 29 yang berbunyi:“ Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak Mengetahui”.

Perbedaan Al Quran dengan Buku ilmiah

  1. Sebagaimana yang telah disebutkan bahwa Al Quran memiliki metode khusus dalam menyampaikan ilmu-ilmu Ilahi. Sekarang kita amati tentang hal yang membedakan antara Al Quran dengan buku-buku ilmiah dari aspek penyampaian.  Allah swt dalam menguraikan risalah Nabi terkadang dengan metode pembacaan ayat kepada manusia, pengajaran hikmah dan pembenahan diri. Terkadang pula dengan  cahaya petunjukNya, mengangkat manusia dari  kebodohan dan kesesatan. Al Quran sebagai bekal Rasul dalam mengemban tugas risalah dan dalam membimbing serta membenahi diri umat.  Atas dasar ini,         Al Quran berbeda dengan buku ilmiah yang hanya menjelaskan kajian-kajian ilmiah seperti pengetahuan dan eksperimen  tentang kosmos, atau pembahasan tentang ilmu Usul maupun Fiqih yang hanya menguraikan metode serta dasar-dasar pengambilan hukum. Adapun metodologi Al Quran sebagai berikut:
1)    Menggunakan perumpamaan untuk memudahkan pemahaman pelik tentang ilmu-ilmu transendental
       Ilahi. 
2)    Menggunakan sanggahan yang baik dalam berdebat dengan orang-orang yang besikeras menentang
       pokok agama.
3)    Mengkombinasikan ilmu dan hukum dengan nasehat dan akhlak, pengajaran hikmah dengan bimbingan
       dan pembenahan diri.
4)    Menjustifikasikan persepsi yang dinukil dari yang lain secara akurat.
5)    Mengkaitkan permasalahan ontologi dengan teologi. Buku ilmiah mengungkap fenomena alam dan
       menguraikannya secara horizontal, adapun Al Quran sebagai cahaya petunjuk, mengungkap fenomena
       alam serta menjelaskannya secara vertikal (keterkaitan alam dengan ketuhanan dan hari kebangkitan) .
6)    Mengklasifikasikan pentas-pentas sejarah yang mengandung pelajaran dan mutiara kehidupan dalam
       menuturkan cerita-cerita.
7)    Pengulangan konteks dalam Al Quran,  diperlukan  sebagai penekanan dalam petunjuk, sebab Setan
       senantiasa menjauhkan manusia dari jalan Ilahi, sedangkan pengulangan konteks dalam buku ilmiah
       hanya akan mengurangi kualitas isinya.   

HADIS TENTANG PEMBAHASANNYA


PENDAHULUAN
  1. Pada awalnya Rasulullah saw melarang para sahabat menuliskan hadits, karena dikhawatirkan akan bercampur-baur penulisannya dengan Al-Qur’an.
  2. Perintah untuk menuliskan hadits yang pertama kali adalah oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz. Beliau menulis surat kepada gubernurnya di Madinah yaitu Abu bakar bin Muhammad bin Amr Hazm Al-Alshari untuk membukukan hadits.
  3. Ulama yang pertama kali mengumpulkan hadits adalah Ar-Rabi Bin Shabi dan Said bin Abi Arabah, akan tetapi pengumpulan hadits tersebut masih acak (tercampur antara yang shahih dengan, dha’if, dan perkataan para sahabat.
  4. Pada kurun ke-2 imam Malik menulis kitab Al-Muwatha di Madinah, di Makkah Hadits dikumpulkan oleh Abu Muhammad Abdul Malik Bin Ibnu Juraiz, di Syam oleh imam Al-Auza i, di Kuffah oleh Sufyan At-Tsauri, di Bashrah oleh Hammad Bin Salamah.
  5. Pada awal abad ke-3 hijriyah mulai dikarang kitab-kitab musnad, seperti musnad Na’im ibnu hammad.
  6. Pada pertengahan abad ke-3 hijriyah mulai dikarang kitab shahih Bukhari dan Muslim.
PEMBAHASAN Ilmu Hadits: ilmu yang membahas kaidah-kaidah untuk mengetahui kedudukan sanad dan matan, apakah diterima atau ditolak. Hadits: Apa-apa yang disandarkan kepada Rasulullah saw, berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, dan sifat (lahiriyah dan batiniyah). Sanad: Mata rantai perawi yang menghubungkannya ke matan. Matan: Perkataan-perkataan yang dinukil sampai ke akhir sanad. PEMBAGIAN HADITS Dilihat dari konsekuensi hukumnya:
  1. Hadits Maqbul (diterima): terdiri dari Hadits shahih dan Hadits Hasan
  2. Hadits Mardud (ditolak): yaitu Hadits dha’if
Penjelasan: HADITS SHAHIH: Yaitu Hadits yang memenuhi 5 syarat berikut ini:
  1. Sanadnya bersambung (telah mendengar/bertemu antara para perawi).
  2. Melalui penukilan dari perawi-perawi yang adil.Perawi yang adil adalah perawi yang muslim, baligh (dapat memahami perkataan dan menjawab pertanyaan), berakal, terhindar dari sebab-sebab kefasikan dan rusaknya kehormatan (contoh-contoh kefasikan dan rusaknya kehormatan adalah seperti melakukan kemaksiatan dan bid’ah, termasuk diantaranya merokok, mencukur jenggot, dan bermain musik).
  3. Tsiqah (yaitu hapalannya kuat).
  4. Tidak ada syadz. Syadz adalah seorang perawi yang tsiqah menyelisihi perawi yang lebih tsiqah darinya.
  5. Tidak ada illat atau kecacatan dalam Hadits
Hukum Hadits shahih: dapat diamalkan dan dijadikan hujjah. HADITS HASAN: Yaitu Hadits yang apabila perawi-perawinya yang hanya sampai pada tingkatan shaduq (tingkatannya berada di bawah tsiqah). Shaduq: tingkat kesalahannya 50: 50 atau di bawah 60% tingkat ke tsiqahannya. Shaduq bisa terjadi pada seorang perawi atau keseluruhan perawi pada rantai sanad. Para ulama dahulu meneliti tingkat ketsiqahan seorang perawi adalah dengan memberikan ujian, yaitu disuruh membawakan 100 hadits berikut sanad-sanadnya. Jika sang perawi mampu menyebutkan lebih dari 60 hadits (60%) dengan benar maka sang perawi dianggap tsiqah. Hukum Hadits Hasan: dapat diamalkan dan dijadikan hujjah.
HADITS HASAN SHAHIH Penyebutan istilah Hadits hasan shahih sering disebutkan oleh imam Tirmidzi. Hadits hasan shahih dapat dimaknai dengan 2 pengertian:
  • Imam Tirmidzi mengatakannya karena Hadits tersebut memiliki 2 rantai sanad/lebih. Sebagian sanad hasan dan sebagian lainnya shahih, maka jadilah dia Hadits hasan shahih.
  • Jika hanya ada 1 sanad, Hadits tersebut hasan menurut sebagian ulama dan shahih oleh ulama yang lainnya.
HADITS MUTTAFAQQUN ‘ALAIHI Yaitu Hadits yang sepakat dikeluarkan oleh imam Bukhari dan imam Muslim pada kitab shahih mereka masing-masing. TINGKATAN HADITS SHAHIH
  • Hadits muttafaqqun ‘alaihi
  • Hadits shahih yang dikeluarkan oleh imam Bukhari saja
  • Hadits shahih yang dikeluarkan oleh imam Muslim saja
  • Hadits yang sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim, serta tidak dicantumkan pada kitab-kitab shahih mereka.
  • Hadits yang sesuai dengan syarat Bukhari
  • Hadits yang sesuai dengan syarat Muslim
  • Hadits yang tidak sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim
Syarat Bukhari dan Muslim: perawi-perawi yang dipakai adalah perawi-perawi Bukhari dan Muslim dalam shahih mereka. HADITS DHA’IF Hadits yang tidak memenuhi salah satu/lebih syarat Hadits shahih dan Hasan. Hukum Hadits dha’if: tidak dapat diamalkan dan tidak boleh meriwayatkan Hadits dha’if kecuali dengan menyebutkan kedudukan Hadits tersebut. Hadits dha’if berbeda dengan hadits palsu atau hadits maudhu`. Hadits dha’if itu masih punya sanad kepada Rasulullah SAW, namun di beberapa rawi ada dha`f atau kelemahan. Kelemahan ini tidak terkait dengan pemalsuan hadits, tetapi lebih kepada sifat yang dimiliki seorang rawi dalam masalah dhabit atau al-`adalah. Mungkin sudah sering lupa atau ada akhlaqnya yang kurang etis di tengah masyarakatnya. Sama sekali tidak ada kaitan dengan upaya memalsukan atau mengarang hadits. Yang harus dibuang jauh-jauh adalah hadits maudhu`, hadits mungkar atau matruk. Dimana hadits itu sama sekali memang tidak punya sanad sama sekali kepada Rasulullah saw. Walau yang paling lemah sekalipun. Inilah yang harus dibuang jauh-jauh. Sedangkan kalau baru dha`if, tentu masih ada jalur sanadnya meski tidak kuat. Maka istilah yang digunakan adalah dha`if atau lemah. Meski lemah tapi masih ada jalur sanadnya. Karena itulah para ulama berbeda pendapat tentang penggunaan hadits dha`if, dimana sebagian membolehkan untuk fadha`ilul a`mal. Dan sebagian lagi memang tidak menerimanya. Namun menurut iman An-Nawawi dalam mukaddimahnya, bolehnya menggunakan hadits-hadits dha’if dalam fadailul a’mal sudah merupakan kesepakatan para ulama. Untuk tahap lanjut tentang ilmu hadits, silakan merujuk pada kitab “Mushthalahul Hadits” Buat kita orang-orang yang awam dengan ulumul hadits, tentu untuk mengetahui derajat suatu hadits bisa dengan bertanya kepada para ulama ahli hadits. Sebab merekalah yang punya kemampuan dan kapasitas dalam melakukan penelusuran sanad dan perawi suatu hadits serta menentukan derajatnya. Setiap hadits itu harus ada alur sanadnya dari perawi terakhir hingga kepada Rasulullah SAW. Para perawi hadits itu menerima hadits secara berjenjang, dari perawi di atasnya yang pertama sampai kepada yang perawi yang ke sekian hingga kepada Rasulullah SAW. Seorang ahli hadits akan melakukan penelusuran jalur periwayatan setiap hadits ini satu per satu, termasuk riwayat hidup para perawi itu pada semua level / tabaqathnya. Kalau ada cacat pada dirinya, baik dari sisi dhabit (hafalan) maupun `adalah-nya (sifat kepribadiannya), maka akan berpengaruh besar kepada nilai derajat hadits yang diriwayatkannya. Sebuah hadits yang selamat dari semua cacat pada semua jalur perawinya hingga ke Rasulullah SAW, dimana semua perawi itu lolos verifikasi dan dinyatakan sebagai perawi yang tisqah, maka hadits itu dikatakan sehat, atau istilah populernya shahih. Sedikit derajat di bawahnya disebut hadits hasan atau baik. Namun bila ada diantara perawinya yang punya cacat atau kelemahan, maka hadits yang sampai kepada kita melalui jalurnya akan dikatakan lemah atau dha`if. Para ulama mengatakan bila sebuah hadits lemah dari sisi periwayatannya namun masih tersambung kepada Rasulullah SAW, masih bisa dijadikan dalil untuk bidang fadhailul a`mal, atau keutamaan amal ibadah. Sedangkan bila sebuah hadits terputus periwayatannya dan tidak sampai jalurnya kepada Rasulullah SAW, maka hadits ini dikatakan putus atau munqathi`. Dan bisa saja hadits yang semacam ini memang sama sekali bukan dari Rasulullah SAW, sehingga bisa dikatakan hadits palsu atau maudhu`. Jenis hadits yang seperti ini sama sekali tidak boleh dijadikan dasar hukum dalam Islam. Untuk mengetahui apakah sebuah hadits itu termasuk shahih atau tidak, bisa dilihat dalam kitab susunan Imam Al-Bukhari yaitu shahih Bukhari atau Imam Muslim yaitu shahih muslim. Untuk hadits-hadits dha’if juga bisa dilihat pada kitab-kitab khusus yang disusun untuk membuat daftar hadits dha’if. Di masa sekarang ini, para ulama yang berkonsentrasi di bidang hadits banyak yang menuliskannya, seperti karya-karya Syaikh Nashiruddin Al-Albani. Di antaranya kitab Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah yang berjumlah 11 jilid.

BAB: SEBAGIAN ORANG MUSLIM YANG MASUK SURGA TANPA HISAB
11 april 2011 _Soni ahmadi 126. Sahl bin Saad r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda : Pasti akan masuk surga dari umatku tujuh puluh ribu atau tujuh ratus ribu  (periwayat ragu, 70.000 atau 700.000) bersama-sama yang satu memegang yang lain, tidak masuk yang pertama sehingga masuk juga yang akhir, wajah mereka bagaikan bulan purnama.  (Bukhari, Muslim).
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعُونَ أَلْفًا أَوْ سَبْعُ مِائَةِ أَلْفٍ شَكَّ فِي أَحَدِهِمَا مُتَمَاسِكِينَ آخِذٌ بَعْضُهُمْ بِبَعْضٍ حَتَّى يَدْخُلَ أَوَّلُهُمْ وَآخِرُهُمْ الْجَنَّةَ وَوُجُوهُهُمْ عَلَى ضَوْءِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ
قَالَ  قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعُونَ أَلْفًا أَوْ سَبْعُ مِائَةِ أَلْفٍ شَكَّ فِي أَحَدِهِمَا مُتَمَاسِكِينَ آخِذٌ بَعْضُهُمْ بِبَعْضٍ حَتَّى يَدْخُلَ أَوَّلُهُمْ وَآخِرُهُمْ الْجَنَّةَ وَوُجُوهُهُمْ عَلَى ضَوْءِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ

11 april 2011 _Soni ahmadi 113. Abu Musa r.a. berakata: Rasulullah saw. bersabda : Ada dua buah Surga yang terbuat dari perak beserta wadah dan segala isi kandungannya, dan dua buah Surga yang terbuat dari emas beserta wadah dan segala isi kandungannya. Penghalang ahli Surga untuk memandang Rabb mereka hanyalah hijab Keagungan pada Wajah-Nya di Surga Adn.  (Bukhari, Muslim).
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ جَنَّتَانِ مِنْ فِضَّةٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا وَجَنَّتَانِ مِنْ ذَهَبٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا وَمَا بَيْنَ الْقَوْمِ وَبَيْنَ أَنْ يَنْظُرُوا إِلَى رَبِّهِمْ إِلَّا رِدَاءُ الْكِبْرِيَاءِ عَلَى وَجْهِهِ فِي جَنَّةِ عَدْنٍ
11 April 2011 _Soni ahmadi
111. Masruq berkata: Aku bertanya kepada ‘Aisyah r.a.:  Hai Ibu apakah Nabi Muhammad saw. telah melihat Allah?  Jawab Aisyah r.a. :  Sungguh berdiri bulu romaku sebab pertanyaanmu itu, dimanakah engkau dari tiga macam, orang yang menerangkan itu maka ia dusta: 1. Siapa yang menerangkan padamu bahwa Nabi Muhammad saw. melihat Allah, maka ia dusta. Lalu ia membaca : Laa tudrikuhul abshaaru wa huwa yudrikul abshaara wa huwal lathiful (Allah tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, dan Dia yang mencapai semua penglihatan, dan Dia maha halus kekuasaanNya yang maha mengetahui sedalam-dalamnya) dan ayat: Wama kana libasyarin an  yukallimahullah illa wahyan au min waraa’i hijab (Tiada seorang yang berkata-kata dengan Allah melainkan dengan wahyu atau dari balik tabir/hijab). 2. Siapa yang mengatakan bahwa ia mengetahui apa yang akan terjadi esok hari, maka sungguh dusta, lalu dibacakan ayat : Wama tadri nafsun madza taksibu ghada (Dan tiada seorangpun yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari). 3. Dan siapa yang berkata bahwa Nabi Muhammad saw. menyembunyikan apa yang diwahyukan oleh Allah maka sungguh orang itu dusta, lalu Siti Aisyah membaca: Ya ayyuhar rasulu balligh maa unzila ilaika min rabbika (Hai utusan Allah sampaikanlah apa yang diturunkan oleh Tuhan kepadamu). Tetapi Nabi Muhammad saw. telah melihat Jibril dalam bentuk yang sebenarnya dua kali.  (Bukhari, Muslim).
Ditulis dalam
11 April 2011 _soni ahmadi
110.                                                                                                                                                    
أَبُو إِسْحَاقَ الشَّيْبَانِيُّ قَالَ سَأَلْتُ زِرَّ بْنَ حُبَيْشٍعَنْ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى{ فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى }قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ مَسْعُودٍ أَنَّهُ رَأَى جِبْرِيلَ لَهُ سِتُّ مِائَةِ جَنَاحٍ
Abu Ishaq asy-Syaibaniy berkata; Aku bertanya kepada Zirra bin Hubaisy tentang firman Allah Ta’ala QS an-Najm ayat 9-10: “Fa kaana qaaba qausaini aw adnaa. Fa awhaa ilaa ‘abdihii maa awhaa” (“Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) sedekat dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan”). Dia berkata, telah bercerita kepada kami Ibnu Mas’ud bahwa Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam telah melihat Jibril yang memiliki enam ratus sayap”.  (Bukhari, Muslim).

Minggu, 29 April 2012


Panduan Shalat 5 Waktu Yang lengkap oleh M. jufri



Shalat wajib 5 (lima) waktu yaitu Dhuhur (dzuhur), Ashar, Maghrib, Isya' dan Subuh hukumnya fardhu (wajib) dan salah satu tiang utama dalam Islam di samping shahadat, puasa Ramadhan, zakat dan haji. Oleh karena itu, melakukan shalat lima waktu setiap hari adalah wajib bagi setiap muslim dan muslimah selagi dia masih bernafas. Kecuali, karena sebab adanya udzur yang ditentujan oleh syariah seperti haid, nifas, gila, lupa, tertidur. Itupun harus diganti (qadha) pada waktu yang lain, apabila faktor penyebab tidak solat tersebut tidak ada lagi. Misalnya, tidak shalat subuh karena tertidur, maka dia harus mengqadha-nya begitu dia bangun. Yang tak kalah penting adalah mengetahui tata cara shalat dengan benar. Berikut tuntunan tata cara shalat fardhu.
  1. Syarat Sahnya Shalat
  2. Waktu Shalat 5 (Lima) Waktu
  3. Rukun/Bacaan dan Gerakan yang Wajib dalam Shalat
  4. Perkara yang Membatalkan Shalat
  5. Gerakan dan Bacaan Sunnah dalam Shalat
  6. Bacaan Doa Saat Shalat dan Setelah Shalat 5 Waktu
    1. Bacaan Doa Iftitah
    2. Bacaan Doa Tasyahhud (Tahiyat) Awal
    3. Bacaan Doa Tasyahhud (Tahiyat) Akhir
    4. Bacaan Doa antara Dua Sujud
    5. Bacaan Doa Setelah Rukuk
  7. Niat Shalat Fardhu 5 Waktu
  8. Bacaan Dzikir Wirid Doa Setelah Shalat 5 Waktu
    1. Bacaan Wirid Dzikir Pendek
    2. Bacaan Wirid Dzikir Panjang
    3. Bacaan Doa Setelah Shalat 5 Waktu


I. SYARAT SAHNYA SHALAT

Khusus poin no. 1 adalah syarat khusus untuk shalat lima waktu. Sedangkan untuk poin 2 dan 3 berlaku untuk semua shalat, baik fardhu atau sunnah.

1. Masuk waktu shalat: shalat lima waktu baru sah apabila dilaksanakan pada waktu yang telah ditentukan. Misalnya, shalat dhuhur harus dilaksakan pada waktu dzuhur. Kecuali shalat qadha. Maka, boleh bahkan
dianjurkan melaksanakan shalat qadha sesegera mungkin saat ingat.

2. Suci dari hadats besar dan hadats kecil: hadats besar adalah haid, nifas dan junub (keluar sperma). Untuk mensucikannya harus dengan mandi junub atau jinabat. Hadats kecil adalah kentut dan menyentuh wanita bukan mahram. Cara mensucikannya adalah dengan berwudhu.

3. Suci badan, pakaian dan tempat shalat dari najis. Perkara najis adalah darah, segala kotoran (tinja) hewan atau manusia, bangkai (binatang yang mati tanpa disembelih secara syariah), anjing dan babi. Cara mensucikannya adalah dengan air. Khusus najis anjing dan babi harus disucikan tujuh kali siraman air dan salah satunya dicampur dengan tanah menurut madzhab Syafi'i.

4. Menutup Aurat. Aurat (anggota badan yang harus ditutupi) laki-laki adalah antara pusar sampai lutut. Sedang aurat perempuan adalah seluruh anggota badan kecuali wajah dan telapak tangan.

5. Menghadap Kiblat


II. WAKTU SHALAT LIMA WAKTU

1. Shubuh: Waktu Shubuh diawali dari munculnya fajar shaddiq, yakni cahaya putih yang melintang di ufuk timur. Waktu shubuh berakhir ketika terbitnya Matahari.

2. Dhuhur, dzuhur atau zuhur. Waktu dzuhur diawali jika matahari telah tergelincir (condong) ke arah barat, dan berakhir ketika masuk waktu Ashar.

3. Ashar. Waktu Ashar diawali jika panjang bayang-bayang benda melebihi panjang benda itu sendiri. Waktu Ashar berakhir dengan terbenamnya Matahari.

4. Maghrib. Waktu Maghrib diawali dengan terbenamnya Matahari, dan berakhir dengan masuknya waktu Isya.

5. Isya, terdiri dari 4 raka'at. Waktu Isya' diawali dengan hilangnya cahaya merah (syafaq) di langit barat, dan berakhir hingga terbitnya fajar shadiq keesokan harinya.


III. RUKUN SHALAT LIMA WAKTU

Rukun sholat atau perkara yang wajib dilakukan saat menjalankan shalat. Rukun shalat ini berlaku untuk shalat fardhu atau sunnah. Jumlahnya ada 14 sebagai berikut:

1. Niat
2. Berdiri bagi yang mampu
3. Takbiratul ikhram. Yaitu takbir pembuka shalat.
4. Membaca Al-Fatihah
5. Ruku’ (membungkukkan badan)
6. I’tidal (bangun dari ruku')
7. Sujud
8. Duduk diantara dua salam
9. Duduk pada tasyahud (tahiyat) akhir
10. Membaca tasyahud akhir
11. Membaca shalawat Nabi yaitu allahumma shalli 'ala sayidina Muhammad wa 'ala ali sayidina Muhammad.
12. Salam
13. Tertib antara tiap rukun.
14. Thuma'ninah (tenang sejenak) dalam semua amalan. Thuma'ninah saat sujud atau ruku' minimal dengan membaca subhana robbiyal a'la wa bihamdih.


IV. PERKARA YANG MEMBATALKAN SHALAT

Perkara yang membatalkan shalat di bawah berlaku untuk shalat fardhu dan sunnah.

1. Sengaja berbicara
2. Bergerak yang bukan gerakan shalat berturut-turut sebanyak 3 x
3. Berhadats kecil atau besar
4. Terkena Najis
5. Terbukanya aurat dengan sengaja
6. BerUubah Niat
7. Membelakangi kiblat
8. Makan atau minum dengan sengaja walaupun sedikit
9. Tertawa terbahak-bahak
10. Murtad atau keluar dari Islam.
11. Meninggalkan salah satu rukun dengan sengaja
12. Mendahului Imam sebanyak 2 rukun apabila shalat dilaksanakan secara berjamaah.


V. GERAKAN DAN BACAAN SUNNAH DALAM SHALAT FARDHU

Hukumnya mendapat pahala apabila. Tapi tetap sah sholatnya apabila tidak melakukannya.

1. Membaca
do'a iftitah setelah takbirotul ihrom (takbir pertama shalat).
2. Membaca takbir selain takbirotul ihram.
3. Membaca a'udzubillahi minasyaithanirrojim (ta'awudz) sebelum membaca Al Fatihah.
4. Membaca subhana robbiyal adzimi wa bihamdih (سُبْحَانَ رَبِيَ العَظِيمِ وَبحَمْدِه) saat rukuk. Dan membaca subhana robbiyal a'la wa bihamdih (سُبْحَانَ رَبِيَ الأعَلْيَ وَبحِمَدِه) saat sujud.
5. Membaca sami-Allohu liman hamidah (سمع الله لمن حمده) saat bangun dari rukuk.
6. Membaca robbana wa lakal hamdu (ربنا ولك الحمد) setelah tegak berdiri setelah rukuk.
7. Membaca qunut setelah rukuk rakaat kedua shalat subuh.
8. Membaca surat dari Al-Qur’an setelah membaca Al-Fatihah pada dua raka’at awal.
9.
Membaca sholawat pada (tasyahud) awal.
10.
Membaca do'a pada tasyahhud terakhir.
11. Meletakkan dua tangan pada lutut selama ruku’.
12. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri selama berdiri.
13. Duduk di atas kaki kiri dan menegakkan kaki kanan (duduk iftirash( di saat tasyahhud pertama dan ketika duduk di antara dua sujud.
14. Duduk tawarruk di saat tasyahhud (tahiyat) terakhir dalam shalat yang empat rakaat atau tiga rakaat. Duduk tawarruk itu ialah duduk di atas tanah dengan posisi kaki kiri berada di bawah kaki kanan, sementara kaki kanan tersebut ditegakkan.
15. Memberi isyarat (menunjuk) dengan jari telunjuk pada tasyahhud (tahiyyat) pertama dan terakhir, dari mulai pertama kali duduk sampai selesai membaca tasyahhud.
16. Mengeraskan bacaan (jahr) pada waktu shalat Subuh, shalat Jum'at, dan pada dua rakaat pertama dari shalat Maghrib dan shalat Isya'.
17. Menyamarkan bacaan pada waktu shalat Dhuhur, shalat Ashar dan pada rakaat ketiga dari shalat Maghrib dan dua rakaat terakhir dari shalat Isya'.


VI. BACAAN DOA DZIKIR SAAT SHALAT DAN SETELAH SHALAT FARDHU

Berikut bacaan, doa, dzikir dan wirid yang biasa dibaca pada saat shalat dan setelah shalat fardhu.


BACAAN DOA IFTITAH

Adalah bacaan yang dibaca setelah takbirotul ihram (takbir pembuka dalam sholat). Dan umumnya hanya dibaca pada shalat fardhu.

Berikut bacaan doa iftitah:

  ألله أَكْبَرْ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْل
إنِي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِى فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ اْلمُشْرِكِين
إِنَّ صَلاَتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلَّهِ رَبِّ اْلعَالَمِينَ
لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ اْلمُسْلِمِينَ

Artinya: Segala puji bagi Alloh. Maha Suci Alloh dipagi dan petang hari.
Kuhadapkan jiwa ragaku pada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan mengakui kebenaran serta berserah diri, dan tidaklah aku termasuk golongan orang-orang yang musyrik.
Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, matiku hanya untuk Alloh Tuhan semesta alam.
Tiada sekutu bagiNya karena dengan itu aku diperintah. Dan ketahuilah sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.

BACAAN DOA TASYAHHUD (TAHIYAT) AWAL


التَّحِيَّاتُ ألمُبَاركاتُ الصَّلَوَاتُ َالطَّيِّبَاتُ ِلِلَّهِ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلا مُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالحينَ ِ أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ محَمَّدًا رَسُولُُ الله اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ

BACAAN DOA TASYAHHUD (TAHIYAT) AKHIR

التَّحِيَّاتُ ألمباركات الصَّلَوَاتُ َالطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْ؅َةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ ِ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُُ الله اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سيدنا إبْرَاهِيم وعَلَي آلِ سَيدنا إِبْرَاهِيمَ و بَارِِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سيدنا إبراهيم و علي آلِ سيدناإِبْرَاهِيمَ في العالمين إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

الَلهُمّ إنّي أعوذُبِكَ مِن عَذَابِ القَبرِ وَمِنْ عَذَابِ النارِ وِمْن عَذَاِب الِفتْنَةِ المَسِيحِ الدَجّال

يَا مُقَلّبَ القُلُوب ثَبِّتْ قَلْبي عَليَ دِيْنِك


BACAAN DOA ANTARA DUA SUJUD

رَبِّ اغْفِرْ ِلي وَارْحمَني وَاجْبرُنِي وَارْفَعْني وَارْزُقْنيِ وَعَافِني وَاعْفُ عَِني


BACAAN DOA SETELAH BANGUN DARI RUKUK

رَبّنا لَكَ الحَمْدَ مِلْءُ السَمَوَاتِ وَمِلْءُ الأرْضِ وَمِلْءُ مَا شِئْتَ ِمنْ شَيءٍ بَعْدُ


VII. NIAT SHALAT WAJIB LIMA WAKTU

Berikut bacaan niat shalat lima waktu. Untuk shalat berjamaah, tambahkan makmuman atau imaman sesuai dengan posisi Anda.

1. Shalat Subuh

اُصَلِّى فَرْضَ الصّبْحِ رَكْعَتَينِ مُسْتَقْبِلَ الِقبْلَةِ اَدَاءً ِلله تعالى
2. Shalat Dzuhur

اصلّى فرض الظّهراربع ركعات مستقبل القبلة اداءلله تعالى
3. Shalat Ashar

اصلّى فرض العصراربع ركعات مستقبل القبلة اداءلله تعالى
4. Shalat Maghrib

اصلّى فرض المغرب ثلاث ركعات مستقبل القبلة اداءلله تعالى
5. Shalat Isya'

اصلّى فرض العشاءاربع ركعات مستقبل القبلة اداءلله تعالى


VIII. BACAAN DZIKIR WIRID DOA SETELAH SHALAT 5 WAKTU

Setelah shalat, terutama sholat berjamaah, biasanya diiringi oleh bacaan wirid dzikir dan doa yang dipandu oleh imam shalat. Bacaan berikut bisa juga dibaca sendirian.

a. Bacaan dzikir dan wirid pendek yang dibaca persis setelah shalat dhuhur, ashar, maghrib dan isya'

أَسْتَغْفِرُاللهَ الْعَظِيْمَ لِى وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَشَائِخِيْ وَلِأصَحابِ اْلحُقُوْقِ الْوَاجِبَاتِ عَلَيَّ وَلجَمِيعِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ أَلْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالاَمْوَاتِ×3

لاَ اِلهَ اِلاَّ اللّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَه, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ×3

أَللّهُمَّ أَجِرْنِيْ مِنَ النَّارِ×3

أَللّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ وَاِلَيْكَ يَعُوْدُالسَّلاَمُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلاَمِ وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ دَارَ السَّلاَمِ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ يَاذَالْجَلاَلِ وَالاِكْرَامِ. أَللّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَمُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ رَادَّ لِمَا قَضَيْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَالْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
اللَهْمَّ أعِنَا عَلَي ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وحُسْنِ بِعبادَتِك
اِلهِ يَا رَبِّيْ اَنْتَ مَوْلنَا

سُبْحَنَ اللّه. ×33
أَلْحَمْدُ لِلّهِ. ×33
أَللّهُ أَكْبَرُ ×33

أَللّهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَنَ اللّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللّهُ وَحْدَه‘ لاَشَرِيْكَ لَه‘، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلى كُلِّ شُيْئٍ قَدِيْرٌ وحسبنا الله ونعم الوكيل ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

أستغفرالله العظيم ×33

أَفضَلُ الِذكْرِ فَاعْلَمْ أنَهُ لاإله إلا الله مُحمدً رَسُولُ الله×3

لآاِلهَ اِلاَّ اللّه 33×

Bacaan Doa Setelah Shalat 5 Waktu

Setelah wirid selesai, Imam shalat atau Anda dapat berdoa yang Anda kehendaki dengan bahasa Arab atau Indonesia. Salah satu doa Nabi setelah shalat wajib adalah di bawah ini berdasarkan hadits sahih riwayat Muslim.
ُ
اَللَهُمَّ أَصْلِحْ ِلي ِديني الذي هُوُ عِصْمَةُ أَمْرِي، وأَصْلِحْ ِلي دُنْيَايَ الَتِي فيها مَعَاِشي، وَأَصْلِحْ لي آخِرَتِي الَتِي ِفيهَا مَعَادِي، وَاجْعَلْ الحيَاةَ ِزيادَةً لي في كُلِ خَيْرٍ وَاجْعَلْ المَوْتَ رَاحَةً لي مِن كُلِ شَرِّ

b. Bacaan dzikir dan wirid panjang yang dibaca persis setelah shalat subuh

Di sebagian masjid, bacaan wirid panjang dibaca setelah shalat subuh, dzuhur dan maghrib.


أَسْتَغْفِرُاللهَ الْعَظِيْمَ لِى وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَشَائِخِيْ وَلِأصَحابِ اْلحُقُوْقِ الْوَاجِبَاتِ عَلَيَّ وَلجَمِيعِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ أَلْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالاَمْوَاتِ×3

لاَ اِلهَ اِلاَّ اللّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَه, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ×3

أَللّهُمَّ أَجِرْنِيْ مِنَ النَّارِ×3

أَللّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ وَاِلَيْكَ يَعُوْدُالسَّلاَمُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلاَمِ وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ دَارَ السَّلاَمِ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ يَاذَالْجَلاَلِ وَالاِكْرَامِ. أَللّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَمُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ رَادَّ لِمَا قَضَيْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَالْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
اللَهْمَّ أعِنَا عَلَي ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وحُسْنِ بِعبادَتِك

بِس
ۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

ٱلحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلعَـٰلَمِين * ٱلرّحمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ * مَـٰلِكِ يَو
ۡمِ ٱلدِّينِ * إِيَّاكَ نَعبُد وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ * ٱهدِنَا ٱلصِّرَٲطَ ٱلۡمُستَقِيمَ * صِرَٲطَ ٱلَّذِينَ أَنعمتَ عَلَيهِمۡ غَيرِ ٱلۡمَغضُوبِ عَلَيهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ

وَإِلَـٰهُكُم
ۡ إِلَـٰهٌ۬ وَٲحِدٌ۬‌ لَّآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلرّحمَـٰنُ ٱلرَّحِيمُ

ٱللَّهُ لَا
ٓ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَىُّ ٱلقَيُّومُ‌ۚ لَا تَأۡخُذُهُ ۥ سِنَةٌ۬ وَلَا نَوۡمٌ۬‌ لَّهُ ۥ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَمَا فِى ٱلأَرۡضِ‌ۗ مَن ذَا ٱلَّذِى يَشۡفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦ‌يَعلَمُ مَا بَينَ أَيديهِمۡ وَمَا خَلفَهُمۡ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىۡءٍ۬ مِّنۡ عِلۡمِهِ إِلَّا بِمَا شَآءَ‌ۚ وَسِعَ كُرۡسِيُّهُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلأَرۡضَ‌ وَلَا يَؤُدُهُ ۥ حِفۡظُهُمَا‌ۚ وَهُوَ ٱلعَلِىُّ ٱلعَظِيمُ

ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَا
ٓ أُنزِلَ إِليهِ مِن رَّبِّهِ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ‌ۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلا ئكَتِهِۦ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَينَ أَحَدٍ۬ مِّن رُّسُلِهِ وَقَالُواْ سَمِعنَا وَأَطَعۡنَا‌ غُفرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيكَ ٱلۡمَصِيرُ لا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسعَهَا‌ۚ لَهَا مَا كَسَبَتۡ وَعَلَيها مَا ٱكتَسَبَتۡ‌ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَآ إِن نَّسِينَآ أَوۡ أَخطَأۡنَا‌ رَبَّنَا وَلَا تَحمِلۡ عَلَينَآ إِصرً۬ا كَمَا حَمَلتَهُ ۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِنَا‌ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَٱعفُ عَنَّا وَٱغفِرۡ لَنَا وَٱرحَمنَآ أَنتَ مَوۡلا نَا فَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكافِرِينَ

شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُ
ۥ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلۡمَلَا ئكَةُ وَأُوْلُواْ ٱلعِلمِ قَائما بِٱلقِسطِ‌ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلعَزِيزُ ٱلحكيمُ * إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلإِسلَامُ‌

قُلِ ٱللَّهُمَّ مَـٰلِكَ ٱلمُلكِ تُؤ
ۡتِى ٱلمُلكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ ٱلمُلكَ مِمَّن تَشَآءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَآءُ بِيَدِكَ ٱلۡخَيۡرُ‌ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ۬ تُولِجُ ٱلَّيلَ فِى ٱلنَّهَارِ وَتُولِجُ ٱلنَّهَارَ فِى ٱلَّيلِ‌ وَتُخرِجُ ٱلۡحَىَّ مِنَ ٱلمَيِّتِ وَتُخرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَىِّ‌ وَتَرۡزُقُ مَن تَشَآءُ بِغَيرِ حِسَابٍ۬

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـنِ الرَّحِيمِ
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـنِ الرَّحِيمِ
{قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ * مِن شَرِّ مَا خَلَقَ * وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ *
وَمِن شَرِّ النَّفَّـثَـتِ فِى الْعُقَدِ * وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـنِ الرَّحِيمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

اِلهِ يَا رَبِّيْ اَنْتَ مَوْلنَا

سُبْحَنَ اللّه. ×33
أَلْحَمْدُ لِلّهِ. ×33
أَللّهُ أَكْبَرُ ×33

أَللّهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَنَ اللّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللّهُ وَحْدَه‘ لاَشَرِيْكَ لَه‘، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلى كُلِّ شُيْئٍ قَدِيْرٌ وحسبنا الله ونعم الوكيل ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

أستغفرالله العظيم ×33

أَفضَلُ الِذكْرِ فَاعْلَمْ أنَهُ لاإله إلا الله مُحمدً رَسُولُ الله×3

لآاِلهَ اِلاَّ اللّه 33×

Bacaan Doa Setelah Shalat 5 Waktu

Setelah wirid selesai, Imam shalat atau Anda dapat berdoa yang Anda kehendaki dengan bahasa Arab atau Indonesia. Salah satu doa Nabi setelah shalat wajib adalah di bawah ini berdasarkan hadits sahih riwayat Muslim.
ُ
اَللَهُمَّ أَصْلِحْ ِلنا ِديْنَا الّّذي هُوُ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وأَصْلِحْ ِلَنَا دُنْيَانَا الَتِي فِيْهَا مَعَاشِنَا، وَأَصْلِحْ لَنآخِرَتِنَاالَّتِي ِفيهَا مَعَادِنَا، وَاجْعَلْ الحيَاةَ ِزيَادَةً لَنَا في كُلِ خَيْرٍ وَاجْعَلْ المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِن كُلِ شَرِّ