A. Pendahuluan
Setiap kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil
orang untuk beriman dan taat kepada Allah Subhaanahu wa ta'ala sesuai
dengan garis aqidah, syari'at dan akhlak Islam. Kata da'wah merupakan
masdar (kata benda) dari kata kerja da'a yad'u yang berarti panggilan,
seruan atau ajakan.
Syaikh Ali Mahfuzh -murid Syaikh
Muhammad Abduh- sebagai pencetus gagasan dan penyusunan pola ilmiah ilmu
da'wah memberi batasan mengenai da'wah sebagai: "Membangkitkan
kesadaran manusia di atas kebaikan dan bimbingan, menyuruh berbuat
ma'ruf dan maencegah dari perbuatan yang munkar, supaya mereka
memperoleh keberuntungan kebahagiaan di dunia dan di akhirat."
Da'wah adalah usaha penyebaran pemerataan ajaran agama di samping
amar ma'ruf dan nahi munkar. Terhadap umat Islam yang telah melaksanakan
risalah Nabi lewat tiga macam metode yang paling pokok yakni da'wah,
amar ma'ruf, dan nahi munkar, Allah memberi mereka predikat sebagai umat
yang berbahagia atau umat yang menang .
Kata da'wah sering
dirangkaikan dengan kata "Ilmu" dan kata "Islam", sehingga menjadi
"Ilmu da'wah" dan Ilmu Islam" atau ad-da'wah al-Islamiyah.
Yang dimaksud Ilmu da'wah adalah suatu ilmu yang berisi cara-cara dan
tuntunan untuk menarik perhatian orang lain supaya menganut, mengikuti,
menyetujui atau melaksanakan suatu ideologi, agama, pendapat atau
pekerjaan tertentu. Orang yang menyampaikan da'wah disebut da'i
sedangkan yang menjadi obyek da'wah disebut mad'u. Setiap Muslim yang
menjalankan fungsi da'wah Islam adalah da'i.
Adapun
mengenai tujuan da'wah, yaitu: pertama, mengubah pandangan hidup. Dalam
QS. Al Anfal: 24 di sana di siratkan bahwa yang menjadi maksud dari
da'wah adalah menyadarkan manusia akan arti hidup yang sebenarnya. Hidup
bukanlah makan, minum dan tidur saja. Manusia dituntut untuk mampu
memaknai hidup yang dijalaninya.
Kedua, mengeluarkan
manusia dari gelap-gulita menuju terang-benderang. Ini diterangkan dalam
firman Allah: "Inilah kitab yang kami turunkan kepadamu untuk
mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada terang-benderang dengan
izin Tuhan mereka kepada jalan yang perkasa, lagi terpuji." (QS.
Ibrahim: 1).
Selain itu da’wah juga untuk mewujudkan
kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat yang
diridlai oleh Allah Swt. Nabi Muhammad Salallaahu 'alaihi wa salam
mencontohkan da'wah kepada ummatnya dengan berbagai cara melalui lisan,
tulisan dan perbuatan. Dimulai dari istrinya, keluarganya, dan
teman-teman karibnya hingga raja-raja yang berkuasa pada saat itu. Di
antara raja-raja yang mendapat surat atau risalah Nabi Saw adalah kaisar
Heraclius dari Byzantium, Mukaukis dari Mesir, Kista dari Persia(Iran)
dan Raja Najasyi dari Habasyah (Ethiopia).
Suatu kaum yang
senantiasa berpegang teguh pada prinsip ber-amar ma'ruf nahi munkar akan
mendapatkan balasan dan pahala dari Allah Swt. yang antara lain berupa:
1. Ditinggikan derajatnya ke tingkatan yang setinggi-tingginya (QS. Ali Imran: 110).
2. Terhindar dari kebinasaan sebagaimana dibinasakannya Fir'aun
beserta orang-orang yang berdiam diri ketika melihat kedzalimannya.
3. Mendapatkan pahala berlipat dari Allah sebagaimana sabda Nabi Saw.:
"Barangsiapa yang mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan
pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya sampai hari kiamat, tanpa
mengurangi pahala mereka sedikitpun".
4. Terhindar dari laknat
Allah sebagai mana yang terjadi pada Bani Isra'il karena keengganan
mereka dalam mencegah kemunkaran. (QS. Al-Maidah: 78-79).
Secara prinsipil seorang Muslim dituntut untuk tegas dalam menyampaikan
kebenaran dan melarang dari kemunkaran. Rasul Saw. bersabda: "Barang
siapa di antara kamu menjumpai kemunkaran maka hendaklah ia rubah dengan
tangan (kekuasaan)nya, apabila tidak mampu hendaklah dengan lisannya,
dan jika masih belum mampu hendaklah ia menolak dengan hatinya. Dan
(dengan hatinya) itu adalah selemah-lemahnya iman". Hadits ini
memberikan dorongan kepada orang Muslim untuk ber-amar ma'ruf dengan
kekuasaan dalam arti kedudukan dan kemampuan fisik dan kemampuan
finansial. Amar ma'ruf dan khususnya nahi munkar minimal diamalkan
dengan lisan melalui nasihat yang baik, ceramah-ceramah, ataupun
khutbah-khutbah, sebab semua.
Muslim tentunya tidak ingin
bila hanya termasuk di dalam golongan yang lemah imannya.Da'wah dan amar
ma'ruf nahi munkar dengan metode yang tepat akan menghantarkan dan
menyajikan ajaran Islam secara sempurna. Metode yang di terapkan dalam
menyampaikan amar ma'ruf nahi munkar tersebut sebenarnya akan terus
berubah-ubah sesuai dengan kondisi dan situasi masyarakat yang dihadapi
para da'i. Amar ma'ruf dan nahi munkar tidak bertujuan memperkosa fitrah
seseorang untuk tunduk dan senantiasa mengikuti tanpa mengetahui hujjah
yang dipakai, tetapi untuk memberikan koreksi dan membangkitkan
kesadaran dalam diri seseorang akan kesalahan dan kekurangan yang
dimiliki.
Ketegasan dalam menyampaikan amar ma'ruf dan nahi
munkar bukan berarti menghalalkan cara-cara yang radikal.
Implementasinya harus dengan strategi yang halus dan menggunakan metode
tadarruj (bertahap) agar tidak menimbulkan permusuhan dan keresahan di
masyarakat. Penentuan strategi dan metode amar ma'ruf nahi munkar harus
mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat yang dihadapi. Jangan sampai
hanya karena kesalahan kecil dalam menyampaikan amar ma'ruf nahi munkar
justru mengakibatkan kerusakan dalam satu umat dengan social cost yang
tinggi.
Dalam menyampaikan amar ma'ruf nahi munkar
hendaknya memperhatikan beberapa poin yang insya Allah bisa diterapkan
dalam berbagai bentuk masyarakat:
1. Hendaknya amar ma'ruf
nahi munkar dilakukan dengan cara yang ihsan agar tidak berubah menjadi
penelanjangan aib dan menyinggung perasaan orang lain. Ingatlah ketika
Allah berfirman kepada Musa dan Harun agar berbicara dengan lembut
kepada Fir'aun (QS. Thaha: 44).
2. Islam adalah agama yang
berdimensi individual dan sosial, maka sebelum memperbaiki orang lain
seorang Muslim dituntut berintrospeksi dan berbenah diri, sebab cara
amar ma'ruf yang baik adalah yang diiringi dengan keteladanan.
3.
Menyampaikan amar ma'ruf nahi munkar disandarkan kepada keihklasan
karena mengharap ridla Allah, bukan mencari popularitas dan dukungan
politik.
4. Amar ma'ruf nahi munkar dilakukan menurut Al-Qur'an
dan Al-Sunnah, serta diimplementasikan di dalam masyarakat secara
berkesinambungan.
Dalam menyampaikan da'wah amar ma'ruf
nahi munkar, para da'i dituntut memiliki rasa tanggung jawab yang
tinggi, baik kepada Allah maupun masyarakat dan negara. Bertanggung
jawab kepada Allah dalam arti bahwa da'wah yang ia lakukan harus
benar-benar ikhlas dan sejalan dengan apa yang telah digariskan oleh Al
Qur'an dan Sunnah. Bertanggung jawab kepada masyarakat atau umat
menganduang arti bahwa da'wah Islamiyah memberikan kontribusi positif
bagi kehidupan sosial umat yang bersangkutan. Bertanggung jawab kepada
negara mengandung arti bahwa pengemban risalah senantiasa memperhatikan
kaidah hukum yang berlaku di negara dimana ia berda'wah. Jika da'wah
dilakukan tanpa mengindahkan hukum positif yang berlaku dalam sebuah
negara, maka kelancaran da'wah itu sendiri akan terhambat dan bisa
kehilangan simpati dari masyarakat.
Dalil
Adalah keterangan yang dijadikan bukti atau alasan sesuatu kebenaran.
Dalam Islam (ilmu matiq) dikenal dua macam dalil, yakni dalil naqli yang
bersumber dari Al-Qur'an dan as-Sunnah dan dalil aqli, yaitu dalil yang
berdasarkan hukum akal(logika), analisa akal dan pembahasan ilmu
pengetahuan.Kata dalil juga boleh diartikan kaidah, patokan dalam suatu
pembahasan, saranan, dan sebagai kaidah yang harus diterapkan
kebenarannya dalam ilmu pasti.
Dalil-dalil Naqli yang
berasal dari ayat-ayat al-Qur'an semuanya berstatus sebagai dalil-dalil
ang qat'i al-wurud, artinya sudah diyakini merupakan wahyu Allah swt
yang terpelihara dari campur tangan manusia. Sedangkan dalil aqli yaitu
dalil-dalil yang diperoleh melalui proses penalaran akal(ijtihad).
Ijtihad ini adakalanya dilakukan dengan membandingkan segi persamaan
('illat) yang terdapat pada suatu perbuatan yang belum ada ketentuan
hukumnya dengan berbuatan lain yang sudah ada ketentuan hukumnya dalam
dalil naqli(kias). Ijtihad biasanya dilakukan dengan memperhatikan ruh
tasyri'(jiwa atau semangat hukum), kemaslahatan umum, dan sebagainya.
B. Kewajiban Da’wah
Islam adalah agama yang sangat memperhatikan hubungan manusia
dengan manusia yang lainnya. Sehingga individu dipandang sebagai bagian
yang tak terpisahkan dari masyarakat . Tidak ada satupun agama ataupun
ideologi lain yang memiliki aturan seperti itu apalagi menandinginya.
Rosulullah SAW telah menjelaskan hubungan individu dengan masyarakat ini
melalui sabdanya :
“ Perumpamaan orang yang menjaga dan
menerapkan batas ( peraturan ) Allah adalah laksana kelompok penumpang
kapal yang mengundi tempat duduk mereka . Sebagian mereka mendapat
tempat dibagian atas dan sebagian lain dibagian bawah, jika mereka
membutuhkan air maka harus berjalan melewati bagian atas kapal. Maka
merekapun berujar,” bagaimana jika kami lubangi saja bagian bawah kapal
ini (untuk mendapatkan air), toh hal itu tidak menyakiti orang yang
berada dibagian atas”. Jika kalian biarkan mereka berbuat menuruti
keinginan mereka itu, maka binasalah mereka dan seluruh penumpang kapal
itu. Tetapi jika kalian cegah mereka, maka selamatlah mereka dan seluruh
penumpang yang lain”. (HR. Bukhari)
Dari hadist diatas
Rasulullah menunjukkan bagaimana keterpaduan individu dan masyarakat,
dimana individu berbuat untuk kemaslahatan masyarakat dan masyarakat
berbuat untuk menjaga individu. Oleh karena itu jika masyarakat
melakukan kemaksiatan seperti syirik kewajiban kitalah yang mengerti
agama islam ini dengan kaffah menjaga mereka dari api neraka yaitu
caranya dengan berdakwah.
Dulu ketika Rosulullah SAW
diangkat sebagai utusan Allah SWT, Beliau menyebarkan islam dengan cara
berdakwah baik secara sembunyi – sembunyi (karena pada waktu itu kaum
Quraisy masih sangat kuat sedangkan Rosul tidak punya kekuatan untuk
melawannya) maupun terang – terangan . Beliau berusaha untuk menyebarkan
agama islam ini keseluruh penjuru dunia, setelah Beliau wafat
diteruskan oleh Kulafaur Rasyidin kemudian diteruskan oleh para ulama’.
Namun zaman sekarang ini yaitu zaman modernisasi, aturan - aturan agama
islam semakin mengikis, dengan pengikisan aturan agama ini sehingga
negara – negara yang penduduknya sebagian besar islam akan hancur karena
mereka mengikuti aturan –aturan dari barat. Contohnya negara kita
sendiri meskipun 87% penduduk negara kita adalah islam namun seks bebas
dimana-mana sehingga AIDS menyebar dengan cepat dan dengan sangat bangga
kita merupakan negara korupsi urutan ke 3 sedunia. Selain itu
Rosulullah SAW juga bersabda bahwa orang-orang islam pada suatu masa
akan tunduk kepada orang-orang kafir . Dalam kenyataannya hadist Rosul
itu dapat terbukti, dulu orang islam ditakuti orang kafir namun sekarang
orang kafir ditakuti orang islam misalnya Arab Saudi yang merupakan
negara islam dan tempat dilahirkannya Rosulullah sekarang tunduk kepada
negara AS dan ketika Irak di serang oleh AS tanpa ada sebab orang muslim
sedunia tidak membantu orang muslim yang ada di Irak. Dan sekarang
bagaimana dengan nasib islam nantinya?
C. Penyakit-penyakit Da'i
Adalah bentuk hambatan yang dialami juru dakwah(da'i) sehingga
berakibat mengganggu aktivitinya sebagai muballigh. Di antara
bentuk-bentuk penyakit tersebut adalah:
1. Futuur
Penyakit hati (ruhani) yang melanda juru da'wah dari yang semula
giat dan bersemangat, menjadi lemah dan kehilangan gairah. hal-hal yang
menyebabkan juru da'wah terserang penyakit ini adalah: (1) Sikap
berlebihan yang tidak mempertimbangkan situasi dan kondisi baik fizikal,
kesihatan maupun spritual; (2) Tidak mengawal hal-hal yang mubah,
seperti makan minum, tidur dan beraktivitas seksual sehingga nafsu
berkuasa; (3) Memisahkan diri dari Jamaah; (4) Kurang mengingat
kematian; (5) lalai dalam beribadah.
2. Isti'jal
Jenis penyakit juru da'wah yang ingin mencapai perubahan atas realiti
yang dialami kaum muslimin dalam waktu yang sesingkat-singkatnya tanpa
memperhatikan lingkungan, akibat, dan tanpa melihat kenyataan, juga
tanpa persiapan yang cukup sebelumnya baik sistem maupun sarana. Dengan
kata lain, Isti'jal merupakan cara-cara da'wah yang menginginkan hasil
yang maksimal dengan waktu yang sesingkat mungkin.
D. Macam-macam Metode Da’wah secara Langsung
1. Metode Dakwah Walisongo
Secara konseptual metode dakwah walisongo biasa disebut dengan
istilah ”Mau’izatul hasanah wa mujahadah billati hiya ahsan.” Metode ini
biasa digunakan untuk tokoh-tokoh khusus (pemimpin), misalnya para
bupati, adipati, para raja, maupun para tokoh-tokoh masyarakat setempat.
Dasar metode ini adalah QS An-Nahl (16) : 125, yang artinya :”Serulah
(manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah
yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan
Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.
Para tokoh khusus itu diperlakukan secara personal, dihubungi
secara istimewa. Kepada mereka diberikan keterangan, pemahaman tentang
islam, peringatan-peringatan secara lemah lembut, tukar pikiran dari
hati ke hati dan penuh toleransi. Ini yang dimaksud Mau’izatul Hasanah.
Namun apabila cara tersebut belum juga berhasil, barulah menggunakan
cara berikutnya, yakni Al Mujadalah billati hiya ihsan.
Cara kedua ini diterapkan kepada tokoh yang secara terus terang
menunjukkan sikap kurang setuju terhadap islam. Rangkain cara ini bisa
dilihat ketika Raden Rahmat atau Sunan Ampel dan kawan-kawan berdakwah
kepada Arya Damar dari Palembang. Berkat keramahan dan kebijakan Raden
Rahmat, maka Arya Damar kemudian masuk islam bersama istrinya. Dan tak
lama kemudian diikuti pula oleh hampir segenap anak negerinya.
Demikian pula halnya ketika beliau berdakwah terhadap Prabu
Brawijaya. Ketika mendengar wejangan yang demikian bagus dari Sunan
Ampel, sesunggunya terasa sulit bagi Prabu Brawijaya untuk menolak. Tapi
karena beliau berkedudukan sebagai raja, tentu banyak pertimbangan yang
membuatnya tidak mudah begitu saja menerima pendapat orang lain,
terutama dalam hal keagamaan. Meski repot mengelak, akhir nya beliau
menolak secara halus, dengan alasan bahwa sebagai raja dia terikat adat
kebiasaan kerajaan dan tradisi rakyatnya tidak bisa diabaikan begitu
saja.
Namun lain halnya dengan sang permaisuri yang tidak
mempunyai beban berat. Prabu tidak keberataan bila permaisuri memang
berkehendak masuk Islam.
Metode seperti ini digunakan pula
oleh Sunan Kalijaga ketika berdakwah kepada Adipati Pandanarang di
Semarang. Pada mulanya terjadi perdebatan seru, dan perdebatan itu
berakhir dengan tunduknya Adipati untuk masuk Islam. Ia sangat terkesan
dengan anjuran Sunan Kalijaga tentang peri kesopanan (akhlaq). Bahkan
saking tertariknya dengan Sunan Kalijaga, maka dia rela mengorbankan
pangkat dan keduniaan, harta dan keluarganya demi menuruti syarat-syarat
yang diajukan Sunan Kalijaga agar dapat diteriama sebagai murid untuk
berguru ilmu keislaman.
Lain halnya dengan Sunan Kudus.
Beliau ini berdakwah dengan lembunya yang dihias istimewa. Diberitakan
bahwa Sunan Kudus pernah mengikat seekor lembu di halaman masjid,
sehingga masyarakat yang ketika itu masih memeluk agama Hindu datang
berduyun-duyun menyaksikan lembu yang diperlakukan istimewa itu. Setelah
mereka datang berkerumun di sekitar masjid, Sunan Kudus lalu
menyampaikan dakwahnya. Cara ini sangat praktis dan strategis. Seperti
diketahui, lembu merupakan binatang ke ramat bagi umat Hidu. Menyaksikan
bahwa lembu tidak dihinakan oleh Sunan Kudus,
terbitlah
niat dan simpati masyarakat penganut Hindu. Berangkat dari titik
perhatian inilah masyarakat kemudian berhasil diislamkan.
Metode tadarruj atau tarbiyatul ummah dipergunakan sebagai proses
pengelompokan yang disesuaikan dengan tahap pendidikan ummat. Agar
ajaran islam dapat dengan mudah dimengerti dan dilaksanakan oleh
masyarakat secara merata. Maka tampaklah metode yang ditempuh walisongo
didasarkan pada pokok pikiran ‘li kulli maqam maqat’, yakni
memperhatikan bahwa setiap jenjang dan bakat ada tingkat, bidang materi
dan kurikulumnya. Begitu pula saat menyampaikan ajaran fiqih yang
ditujukan terutama bagi masyarakat awam dengan jalan pesantren dan
melalui lembaga sosial.
Metode lembaga ssosial melalui
pendidikan sosial atau usaha kemasyarakatan diupa yakan agar
ajaran-ajaran islam bersiat praktis (mudah diterapkan) dapat menjadi
tradisi yang memungkinkan terciptanya adat islami dan bersifat normatif.
Dengan begitu diharapkan ajaran islam secara sadar atau tidak sadar
masyarakaat telah menjalankan ajaran serta amalan yang islami, karena
memang sudah menjadi adat istiadat. Misalnya, menjadikan masjid sebagai
lembaga pendidikan, merayakan upacara kelahiran, pernikahan, kematian,
khitanan, dll.
Sesuai karakter yang termuat di dalamnya,
maka ilmu kalam atau tauhid disampaikan sebagai taklim (pengajaran)
melaliu pesantren. Sedang penyampaiannya kepada masyarakat ditempuh
melalui cerita-cerita wayang. Untuk keperluan itu, maka diciptakan lakon
Dewa Ruci, Jimaat Kalima Sada, dan dikarang pula buku-buku bacaan umum,
misalnya Kitab Ambiyo (kitab Al Anbiyaa), berisi kisah para nabi.
Selanjutnya ilmu tasawuf, yang oleh Sunan Bonang disebut sebagai
ilmu suluk. Ilmu ini di sampaikan melalui wirid, yaitu pengajaran dengan
wejangan, tertutup dan sangat ekslusif. Tempat dan waktunya ditentukan.
Ilmu ini hanya disediakan untuk orang-orang tertentu yg sudah memiliki
dasar yang diperlukan untuk laku tasawuf. Ketentuan ini di samping atas
suatu kelaziman karena tasawuf merupakan ilmu lanjut yang dengan
sendirinya menuntut suatu ilmu dasar, juga demi menjaga salah paham,
salah pengertian dan salah penggunaan terhadap ilmu ini. Contoh masalah
ini adalah ketika Raden Fatah menyatakaan keinginan untuk berguru kepada
Sunan Ampel, maka Raden Fatah ditanya lebih dulu apakah sudah memiliki
dasar. Dan karena ternyata Raden Fatah memilikinya, maka tidak
diharuskan masuk pondok pesantren, tetapi langsung ditempatkan dalam
kelompok wirid, Raden Fatah memang telah memiliki dasar ilmu yang
dibawanya sejak dari Palembang.
Metode lainnya adalah
kaderisasi dan penyebaran juru dakwah ke berbagai daerah. Tempat yang
dituju adalah daerah-daerah yang sama sekali kosong penghuni atau kosong
pengaruh islamnya. Sunan Kalijaga mengkader Kyai Gede Adipati
Pandanarang untuk berhijrah ke Tembayat dan mengislamkan masyarakat di
daerah tersebut dan sekitarnya, hingga kemudian Pandanarang dikenal
sebagai Sunan Tembayat.
Sunan Kalijaga juga mengutus Ki
Cakrajaya dari Purworejo dan setelah berhasil mengislamkan daerah
tersebut, maka dianjurkan pindah ke daerah Lowanu, dan terus mengalami
keberhasilan dalam penyebaran islam. Adaapun Sunan Ampel memerintahkan
Raden Fatah berhijrah ke hutan Bintara, membuka hutan tersebut dan
membuat kota baru, dan sekaligus mengimami masyarakat yang akan
terbentuk nantinya. Ternyata Bintara ini berkembang hingga menjadi
Demak, basis perjuangan Islam pada tahun-tahun berikutnya. Selain itu
Sunan Ampel juga mengirim utusan (mubaligh) kepada raja-raja, misalnya
Sayyid Ya’qub (Syaikh Wali Lanang) dikirim ke Blambangan untuk
mengislamkan Prabu Satmudha. Sedang Khalifah Kusen (Husain) ke Madura
untuk mengislamkan Arya Lembupeteng, dan lain-lain.
Mengamati metode dakwah walisongo ini berikut bukti-buktinya, maka tidak
berlebihan bila dikatakan, bahwa walisongo telah meneladani metode
dakwah sebagaimana pernah dilakukan oleh rasulullah saw. Wallahu ‘alam.
Aliran Kebatinan
Kata kebatinan diambil
dari kata bahasa Arab bathana, yang artinya batin atau dalam atau bagian
dalam, yaitu lawan kata luar, atau bagian luar. Kata tersebut dipinjam
oleh sebuah aliran yang menamakan dirinya Bathiniyah atau aliran
kebatinan. Karena dalam melaksa nakan ritual keagamaan hanya cukup di
batin saja, atau cukup eling (ingat) saja tanpa gerakan tertentu. Bila
ditinjau dari berbagai aspek baik kitab sucinya, ajarannya, cara
ibadahnya, kepercayaan, dan lain-lainnya , maka tampak jelas bahwa
aliran kebatinan atau yang lebih dikenal kejawen atau islam abangan,
bukanlah suatu agama dan bukan pula bagian dari agama Islam. Hanya saja
namanya yang mendompleng kata-kata Islam. Dimana mereka menyebutnya
dengan sebutan Islam abangan, Islam kejawen, Islam kebatinan, Islam
murni, Islam Hak, Islam kuring (Sunda), dan lain-lainnya, yang pada
umumnya dengan embel-embel islam. Namun justru ajarannya memojokkan
Islam.
Aliran kebatinan tidak lebih hanyalah merupakan
paguyuban atau organisasi yang terdiri atas beberapa manusia yang
mengadopsi suatu kepercayaan yang bersifat ruhaniah dan meditasisme yg
berujung untuk mendapatkan suatu ketenangan jiwa atau ketenangan batin,
dari hasil embrio asimilasi akhlak berbagai ajaran agama, seperti Islam,
Hindu, dan Budha. Jenis aliran kebatinan ini dikenal dengan sebutan
aliran kepercayaan. Di masa sebelum perang kemerdekaan RI, jumlahnya
sangat sedikit, namun mulai membengkak jumlahnya setelah Indonesia
merdeka yaitu antara tahun 1950-1975M. Nama aliran inipun berbeda-beda,
seperti: Ngelmu Sejati, Islam Murni, Islam Hak, Islam Kejawen, Agama
Kuring, dll.
2. Da'wah Fardiah
Metode da'wah
yang dilakukan seseorang kepada orang lain (satu orang) atau kepada
beberapa orang dalam jumlah yang kecil dan terbatas. Biasanya da'wah
fardiah terjadi tanpa persiapan yang matang dan tersusun secara tertib.
Termasuk kategori da'wah seperti ini adalah: menasihati teman sekerja,
teguran, anjuran memberi contoh. Termasuk dalam hal ini pada saat
mengunjungi orang sakit, pada waktu ada acara tahniah (ucapan selamat),
dan pada waktu upacara kelahiran (tasmiyah).
3. Da'wah Ammah
Merupakan jenis da'wah yang dilakukan oleh seseorang dengan media
lisan yang ditujukan kepada orang banyak dengan maksud menanamkan
pengaruh kepada mereka. Media yang dipakai biasanya berbentuk khitabah
(pidato).
Da'wah Ammah ini kalau ditinjau dari segi
subyeknya, ada yang dilakukan oleh perorangan dan ada yang dilakukan
oleh organisasi tertentu yang berkecimpung dalam soal-doal da'wah.
Hidayah
Petunjuk Allah Swt kepada manusia mengenai keimanan dan keislaman.
Dalam al-Qur'an tidak didapati kata hidayah tersebut. Kata hidayah
merupakan bentuk masdar (infinitif) dari kata kerja hada (telah
menunjuki atau membimbing) dan yahdi (akan atau sedang menunjuki atau
membimbing), yang sangat banyak dalam al-Qur'an. Selain itu pengertian
petunjuk atau bimbingan yang terkandung dalam kata hidayah itu persis
sama dengan kata al-huda, yang amat banyak kita jumpai dalam al-Quranul
karim.
Pengertian hidayah yang terkandung dalam kata hada,
yahdi dan al-huda itu pada umumnya mengacu kepada bimbingan atau
petunjuk bagi manusia kepada jalan yang lurus (as-sirath-al-mustaqim),
yang baik (at-thayyib) yang benar (al-haq), atau jalan yang terpuji
(as-sirat al-hamid).
Hidayah itu diberikan oleh Allah
kepada manusia supaya manusia mengikutinya dengan baik, agar mereka
berhasil memperoleh apa yang mereka butuhkan di dunia ini dengan cara
yang baik, benar, lurus, atau terpuji, sehigga mereka berbahagia dunia
dan akhirat. Tugas muballigh dalam hal ini adalah memberikan penerangan
kepada ummat manusia agar mereka dapat memperoleh hidayat dari Allah
Swt.
4. Da'wah bil-Lisan
Dakwah jenis ini
adalah penyampaian informasi atau pesan da'wah melalui lisan (ceramah
atau komunikasi langsung antara subyek dan obyek da'wah). Da'wah jenis
ini akan menjadi efektif bila: disampaikan berkaitan dengan hari ibadah
seperti khutbah Jum'at atau khutbah hari Raya, kajian yang disampaikan
menyangkut ibadah praktis, konteks sajian terprogram, disampaikan dengan
metode dialog dengan hadirin.
5. Dakwah bil-Haal
Da'wah bil al-Hal adalah da'wah yang mengedepankan perbuatan nyata.
Hal ini dimaksudkan agar si penerima da'wah (al-Mad'ulah) mengikuti
jejak dan hal ikhwal si da'i (juru da'wah). Da'wah jenis ini mempunyai
pengaruh yang besar pada diri penerima da'wah.
Pada saat
pertama kali Rasulullah Saw batu tiba di kota Madinah beliau
mencontohkan dakwah bil al hal ini dengan mendirikan masjid Quba, dan
mempersatukan kaum anshor dan kaum muhajirin dalam ikatan ukhuwah
Islamiyah.
6. Da'wah bit-Tadwin
Memasuki zaman
global seperti saat sekarang ini pola da'wah bit at-Tadwin( da'wah
melalui tulisan) baik dengan menerbitkan kitab-kitab, buku, majalah,
internet, koran, dan tulisan-tulisan yang mengandung pesan da'wah sangat
penting dan efektif.
Keuntungan lain dari da'wah model ini
tidak menjadi musnah meskipun sang dai, atau penulisnya sudah wafat.
Menyangkut da'wah bit-Tadwim ini Rasulullah saw bersabda," Sesungguhnya
tinta para ulama adalah lebih baik dari darahnya para syuhada."
7. Da'wah bil Hikmah
Yakni menyampaikan da'wah dengan cara yang arif bijaksana, yaitu
melakukan pendekatan sedemikian rupa sehingga pihak obyek da'wah mampu
melaksanakan da'wah atas kemauannya sendiri, tidak merasa ada paksaan,
tekanan maupun konflik. Dengan kata lain da'wah bi al-hikmah merupakan
suatu metode pendekatan komunikasi da'wah yang dilakukan atas dasar
persuasif.
Dalam kitab al-Hikmah fi al Da'wah Ilallah
ta'ala oleh Said bin Ali bin wahif al-Qathani diuraikan lebih jelas
tentang pengertian al-Hikmah, antara lain: Menurut bahasa; adil, ilmu,
sabar, kenabian,al-Qur'an dan Injil; memperbaiki (membuat manjadi lebih
baik atau pas) dan terhindar dari kerusakan; ungkapan untuk mengetahui
sesuatu yang utama dengan ilmu yang utama; obyek kebenaran(al-haq) yang
didapat melalui ilmu dan akal; pengetahuan atau ma'rifat. Menurut
istilah Syar'i; valid dalam perkataan dan perbuatan, mengetahui yang
benar dan mengamalkannya, wara' dalam Dinullah, meletakkan sesuatu pada
tempatnya dan menjawab dengan tegas dan tepat.
8. Metode Dakwah Rasulullah Saw
Rasulullah Saw. à Tauladan dalam Dakwah
Menciptakan Perubahan
Masyarakat Kufur MAKKAH Masyarakat Islam MADINAH
~ Karakter Dakwah Rasulullah
1.TANPA KEKERASAN = Laa Maadiyah
2.Pemikiran (Fikriyah)
1. Pemikiran Aqidah
2. Ide-ide Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, Hukum, Pendidikan, dll.
Merubah: Pemikiran & Perasaan Umat
Tdk Islami à Islami
3. Politik (Siyasah)
Mengaplikasikan Islam scr kaffah di Masyarakat oleh Negara/Daulah lslamiyah
Aktivitas Politik :
1. Membina masyarakat dengan Islam (Aqidah dan Syariah).
2. Pergolakan pemikiran à Kritik dan penentangan terhadap ide-ide kufur (Demokrasi, Nasionalisme, dll).
3. Membongkar rencana jahat negara kafir Penjajah.
4. Mengkritik dan mengoreksi penguasa yang tidak menerapkan Islam.
4. Thalabun Nushrah : Meminta dukungan dari fihak-fihak yang memiliki kekuasaan riil dalam masyarakat
* Perlindungan dakwah
* Perantara untuk mencapai kekuasaan
Kunci Perubahan Masyarakat
1. Terdapat Jamaah Dakwah
2. Terdapat ide Islam yang jelas dan komprehensip
3. Terdapat kader dakwah yang tangguh
4. Kesadaran masyarakat
5. Mendapatkan dukungan pemilik kekuasaan melalui aktivitas Thalabun Nushrah
Setiap Muslim wajib berdakwah bersama sebuah Jamaah (Partai) yang
memiliki ide-ide Islam secara menyeluruh; berjuang dengan aktivitas
politik, tanpa kekerasan, untuk mewujudkan kehidupan Islam (penerapan
Islam secara total), melalui tegaknya Khilafah Islamiyah.
9. Dakwah Bil-Qolam
Suatu metode dakwah yang
lebih efektif, efisien, dan mengena. Metode yang tetap meninggalkan
gading ketika si penulis telah wafat. Dapat dinikmati semua manusia di
berbagai penjuru. Mudah dimengerti.
Dakwah amr bi alma'ruf
wa nahyi an al mungkar adalah kewajiban setap muslim. Mengenai cara atau
metode berdakwah diserahkan kepada masing-masing individu, sesuai
dengan keadaan lingkungan masyarakatnya. Dengan catatan tidak keluar
dari tuntunan syariat dan nilai-nilai agama. Dakwah juga harus efektif,
mengena kepada obyek yang di dakwahi. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:
"Serulah manusia kepada jalan tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang
baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu
Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat di jalanNya dan
Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS
An Nahl: 125)
Ayat diatas membagi dakwah dalam tiga metode;
pertama, dengan hikmah. Hikmah ialah perkataan yang tegas dan benar
yang dapat membedakan antara yang hak dan yang batil (Al Quran, Khadim
al Haramain Asy Syarifain). Para ulama mengategorikan metode dakwah ini
(bilhikmah) diperuntukan bagi golongan intelektual yang awam terhadap
agama. Dengan sentuhan-sentuhan yang dapat dicerna oleh pemahaman
kelompok ini, dakwah dapat diterima.
Kedua, bilmau'izah
hasanah (pelajaran yang baik). Cara berdakwah yang tepat bagi masyarakat
awam dibawah tingkat para ahli pikir atau cendikiawan. Dan ketiga,
dakwah malalui bantahan atau debat adu argumentasi dengan syarat
menggunakan cara yang baik. Metode terakhir ini cara berdakwah bagi
orang yang keras membantah dan menolak dengan ajakan (dakwah) kepada
Islam. Meskipun dia mengetahui kebenaran Islam tapi dengan keras menolak
ajakan (dakwah) kepada Islam, maka cara terbaik adalah mengadu
argumentasi dan berusaha meyakinkan secara rasional.
Dari
ketiga metode yang diwarkan dalam Al Quran tampaknya dakwah melalui
tulisan (bilqolam) dapat masuk untuk ketiga segmen objek dakwah.
Walaupun, jika kita lihat bahwa budaya membaca masih terbatas pada
komunitas masyarakat yang intelektualnya "cukup mapan". Hal yang berbeda
dengan mendengar (ceramah). Bedakwah melalui media tulisan sangat besar
pengaruhnya dan memungkinkan golongan orang yang terpelajar atau bukan
akan dapat merasakannya.
Sebagai gambaran, ketika KH.
Zainuddin MZ mengadakan pengajian di lapangan terbuka, maka yang dapat
mendengarkan "hanya" dihadiri sekitar 10 ribu orang. Tetapi ketika
seorang menuliskan ceramahnyan tersebut di buku, koran atau media
lainya, maka pengajian tersebut bisa dinikmati oleh umat di seluruh
pelosok negeri yang jumlahnya berlipat-lipat dari yang hadir di lapangan
tadi. Di sisi lain, sebuah tulisan tidak akan punah dan lekang dari
laju zaman dan waktu. Bahkan dengan tulisan seseorang akan dikenang
jasanya, diamalkan filsafahnya yang semua itu menjadi amal jariah tiada
henti meski telah meninggal dunia sekalipun.
Yusuf Qardhawi
pernah mengatakan: "dahulu di Eropa dibebaskan dengan pedang, tapi kini
insya Allah akan dibebaskan melalui pena (qolam)" bahkan puluhan tahun
yang lalu KH. Imam Zarkasyi menyatakan:" andai kata murid saya tinggal
seorangpun meski tetap akan saya ajar sampai tamat. Kalau tidak ada maka
saya akan mengajar dengan pena." Pada kenyataanya, obsesi dari dua
ulama besar tersebut mempunyai andil yang besar dalam islamisasi
masyarakat.
Di negara-negara Barat (eropa dan amerika)
pertumbuhan Islam cukup signifikan. Hal ini selain usaha para ulama
berdakwah secara langsung, peran buku, majalah, internet, dan media
tulis lain sangat berperan. Cerita-cerita mengenai seseorang yang
"hanya" membaca terjemah Al-Quran dengan bahasa Inggris kemudian masuk
Islam menjadi fenomena tersendiri bagi urgennya dakwah bilqolam. Salah
seorang yang terkenal adalah Dr. Maurice Bucaile, seorang ahli bedah
berkebangsaan Prancis dengan studinya mengenai perbandingan Bible
(Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) dan Al -Quran serta Sains Modern
(La Bibble Le Qoran et La Sience). Sementara obsesi KH. Imam Zarkayi
nampaknya terealisasi dalam dua bentuk, santri di Pondok Modern kini
bertambah banyak dan buku-buku karyanya kini juga tetap terpakai.
Tetapi melihat kenyataan yang ada, dari segi kualitas maupun
kuantitas, umat Islam masih jauh tertinggal dari orang-orang Barat atau
non Islam dalam penguasaan dunia informasi dan tehnik. Hal ini tentunya
faktor yang mempengaruhi syi'ar agama melalui media tulisan yang
mengakibatkan kurang berkembangnya dan kalah bersaing dengan pengaruh
musuh-musuh islam. Di sinilah timbul ghozwul fikr, suatu perang
pemikiran atau peradaban. Tentunya timbulnya strategi pengikisan aqidah
dan syariat Islam melalui cara non fisik ini mempunyai latar belakang
yang kuat.
Ghozwul fikr dimulai ketika kaum Salib
dikalahkan dalam sembilan kali peperangan besar, mereka kalah letak oleh
kaum muslimin (Abu Syauqi Lc: 2001). Kemenangan muslim sangat
spektakuler karena semua peperangan yang terjadi di luar perkiraan akal
manusia. Misalnya, pasukan Khalid bin Walid pernah memimpin perang
dengan jumlah tentaranya sekitar 3000 pasukan, sedangkan pasukan Romawi
yang dihadapinya berjumlah 100.000 pasukan. Hampir 1 banding 35, dan
kaum muslimin memenangkan pertempuran itu. Peran-perang yang lain juga
demikian. Akhinya dunia Barat berfikir, dan strategi barupun digelar.
Apabila umat Islam telah mengambil strategi dengan ghoswul fikr via
tulisan yang terasa besar pengaruhnya, maka umat Islam hendaknya mulai
menyadari urgensi dakwah bilqolam ini.
Sebenarnya AlQuran
pada ayat pertama diturunkan, Allah SWT menyuruh umat Islam untuk
membaca (iqra' bismi robbika aladzi kholaq). "membaca" di sini menurut
para mufassir juga diartikan membaca alam dan lingkungan. Sejauh ini,
keterbelakangan umat Islam, salah satunya tidak adanya budaya membaca
dan menulis. Berhubung dengan penguasa teknologi dan organisasi oleh
dunia barat, lengkaplah kakurangan umat Islam. Kedua faktor yang
terdapat dalam kalangan muslim akan menjadi sulit untuk menfilter arus
informasi atau pengaruh dari media massa yang merugikan nilai-nilai
keislaman. Hingga ketika pengaruh yang miskin nilai-nilai keislaman
meluas, umat menjadi reaksioner sampai melakukan hal ekstrim. Kasus yang
sempat mencuat beberapa waktu lalu, sweeping buku-buku "kiri". Tepat
apa yang dikatakan Helvy Tiana Rosa, bahwa perlawanan dengan membakar
buku dan semisalnya justru membuat umat menjadi bodoh, buta dengan apa
yang selama ini dimusuhi (an-naasu aduwwun ma jahluhu). Bagaimana akan
memusuhi dan membasmi suatu paham jika tidak tahu dengan membaca? Maka,
itu semua harus dilawan dengan tulisan lagi.
Maka dapat
diambil kesimpulan, dakwah bilqolam mempunyai urgensi dalam dua hal;
syi'ar agama sebagai dakwah yang dibebankan setiap individu dan menjawab
tantangan dari musuh-musuh Islam (ghazwul fikr). Akhirnya, mari kita
renungi firman Allah SWT: Katakanlah apakah sama antara orang yang
berilmu dan orang yang tidak berilmu.” (QS. Az-Zumar: 9).
10. Metode Dakwah menurut Muthahhari
Lebih jauh, berikut ini akan disajikan mengenai metode dakwah menurut pandangan Muthahhari.
Pertama, dakwah tidak diperbolehkan melalui usaha-usaha yang
menipu dan cara-cara yang keliru. Seperti dikemukakan oleh Muthahhari,
bahwa Islam sama sekali tidak dapat berdamai dengan kesalahan, dan Islam
dengan alasan apapun tidak membolehkan untuk menggunakan jalan
kebohongan untuk mencapai kebenaran.
Dengan mengutip
pandangan dari Haji Mirza Husain Nuri, guru dari Almarhum Haji Syaikh
‘Abbas Qumi, Muthahhari menyebutkan dua kesalahan yang sering dilupakan
oleh para da’i:
1. Mereka tidak berkata benar, dengan
mengatakan jika mereka menyebutkan sebuah hadits lemah yang kemudian
terbukti palsu, maka hal itu dianggap tidak akan menjadi masalah karena
tujuan mereka lebih penting.
2. Mereka yakin bahwa tujuan mereka
adalah untuk mendorong orang untuk menangisi Imam Husain; dan karenanya
dianggap sebagai tujuan yang luhur.
Mengenai poin pertama,
Muthahhari mengatakan bahwa Islam secara tegas melarang penggunaan
kebohongan di bawah kondisi apa pun, sekalipun untuk menyiarkan agama.
Sehubungan dengan poin kedua, Muthahhari pun mengajukan kritik
khususnya terhadap para da’i syi’i yang lebih menekankan untuk menangisi
Imam Husain meskipun dengan cara-cara yang salah. Berkenaan dengan hal
tersebut, Muthahhari mengutip contoh yang dibawakan oleh Haji Mirza
Husain Nuri. Yakni kisah tentang sarjana dari kelompok Yazdi yang sedang
dalam perjalanan melewati padang pasir untuk mengunjungi tempat suci
Imam Ridha As di Masyhad. Karena perjalanan ini terjadi di bulan
Muharram dan malam Asyura, ia sangat kecewa karena takut tidak sampai ke
Masyhad agar ia dapat menghadiri upacara perkabungan untuk Imam Husain
As. Karena tidak ada pilihan lain, ia memutuskan untuk tinggal di sebuah
desa dan menghadiri upacara berkabung di sana.
Seorang
khatib naik ke mimbar dan orang-orang yang hadir di masjid membekalinya
dengan sekantung batu. Sang khatib kaget ketika tak seorang pun yang
menangis selama khutbah. Lalu si khatib mematikan lampu dan mulai
melemparkan batu-batu itu kepada orang-orang yang hadir. Orang-orang
mulai menangis dan berteriak. Setelah upacara selesai, cendekiawan Yazdi
bertanya kepada khatib, mengapa ia melakukan kejahatan seperti itu. Ia
menjawab, “Ini adalah satu-satunya cara untuk membuat orang-orang itu
menangisi Imam Husain As, dan saya harus menggunakan cara apa pun yang
mungkin untuk dapat membuat mereka menangis”. Cendekiawan itu mengatakan
bahwa sang khatib tersebut salah dan mengatakan bahwa kesyahidan Imam
Husain memiliki cerita yang cukup menyedihkan hati untuk membuat
orang-orang itu mencucurkan air mata, jika memang mereka benar-benar
cinta dan pengikut setia Imam Husain. Tetapi jika orang-orang itu tidak
mengetahui siapa Imam Husain, mereka tidak akan menangis bahkan untuk
ratusan tahun mendatang.
Dari kisah yang dikutip Muthahhari
di atas, beliau sesungguhnya hendak mengatakan bahwa tujuan utama para
da’i adalah bukan membuat orang-orang untuk menangisi Imam Husain,
melainkan memberikan pengajaran mengenai kepribadian dan keteladanan
dari Imam Husain. Setelah mereka mengenalnya, maka dengan sendirinya
mereka tidak usah dipaksa untuk menangisi Imam Husain karena mereka akan
menyelaminya sendiri berdasarkan pengajaran-pengajaran yang telah
diberikan.
Kedua, berdakwah harus dimaksudkan untuk
“melapangkan dada seseorang”, yaitu meningkatkan kapasitas iman dalam
hatinya. Terkadang penyampaian perintah melalui penjelasan-penjelasan
yang nyata tidaklah cukup; seorang da’i harus juga mempengaruhi akal
dengan menyampaikan pesan-pesan itu secara benar. Apa yang disampaikan
kepada mata dan telinga tidak selalu diterima oleh kesadaran dan
pengetahuan. Apa yang mengubah pesan menjadi kesadaran bukanlah suara
ataupun bentuk dari simbol-simbol tulisan, namun sesuatu yang disebut
dengan nalar dan logika. Pengetahuan tidak menerima selain nalar dan
logika. Muthahhari lalu mengutip ayat al-Qur’an surat an-Nahl [16]:125:
اُدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ
الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ
أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ.
Artinya: “Serulah manusia menuju jalan Tuhanmu dengan hikmat
(pengetahuan), pengajaran yang baik, dan ajaklah mereka berdebat dengan
cara-cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui siapa saja
yang telah sesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui siapa saja yang
diberikan petunjuk”.
Ayat di atas dikutip oleh Muthahhari
untuk menunjukkan bahwa al-Qur’an pun telah menggariskan metode dakwah
yang relevan, yang salah satunya melalui metode hikmat, yaitu
pengetahuan yang berbasis kepada nalar dan logika.
Ketiga,
dakwah mesti disampaikan dengan menggunakan kata-kata yang mudah
dipahami yang dapat meresap ke dalam hati dan jiwa manusia yang paling
dalam. Muthahhari menegaskan, bahwa di dalam menyampaikan pesan-pesan
Ilahi seorang Nabi sangat berbeda dengan seorang filosof. Seorang
filosof, bagaimanapun pun beratnya ia berupaya, hanya dapat mempengaruhi
pikiran manusia saja. Dan itu pun hanya untuk kalangan tertentu. Selain
itu, dalam menyampaikan gagasannya seorang filosof perlu menggunakan
terminologi khusus dengan ratusan frase dan istilah yang sulit untuk
dipahami secara sekilas. Sebenarnya mereka melakukan hal demikian karena
ketidakmampuan mereka dalam mengungkapkan secara sederhana. Di sisi
lain, para nabi tidak memerlukan ungkapan terminologi yang demikian.
Mereka mengungkapkan seluruh gagasannya dalam kata-kata yang sangat
jelas dan mudah dipahami. Apa yang telah dikatakan dalam fraseologi
filosofis yang membingungkan mengenai masalah Keesaan Tuhan, diungkapkan
oleh para Rasul dalam dua kalimat sederhana, mudah dipahami, dan
meresap ke dalam hati siapa saja yang mendengarnya.
Artinya: “Dia-lah Allah Yang Maha Esa, Allah Maha Utuh. Dia tidak
beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang
setara dengan Dia” (QS. Al-Ikhlas [114]:1-4).
Pada ayat di
atas, prinsip filosofis mengenai keesaan Allah diungkapkan dalam
kata-kata yang sederhana dan sangat mudah dipahami.
Selanjutnya Muthahhari menekankan, bahwa hanya seorang da’i yang
pesan-pesannya disampaikan dengan menggunakan kata-kata yang benar dan
kuat, namun sederhana dan memberi penerangan yang akan berhasil dalam
menyeru manusia kepada Allah. Khutbah Imam Ali, misalnya, yang amat
fasih, masih dapat dimengerti oleh orang awam dan orang yang hadir dapat
menarik manfaat dari khutbah-khutbah ini berdasarkan tingkat pemahaman
mereka masing-masing.
Keempat, dakwah harus mengandung
kabar gembira dan peringatan. Hal ini terkait dengan karakteristik utama
kenabian sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan,
sebagaimana yang termaktub dalam ayat al-Qur’an yang artinya:
“Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi,
pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan, dan untuk menjadi penyeru
kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang
menerangi. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang
mukmin bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah (QS.
Al-Ahzâb [33]:45-47).
Muthahhari menjelaskan bahwa membawa
berita gembira adalah sesuatu yang membesarkan hati. Ketika seseorang
hendak mengajak anak-anaknya untuk mengerjakan sesuatu, ada dua cara
untuk melakukannya, apakah dengan memakai kabar gembira atau dengan
memberikan peringatan, atau keduanya pada waktu yang bersamaan,
sama-sama akan membawa keberhasilan.
1. Membesarkan hati
dengan berita gembira. Sebagai contoh, jika seseorang ingin mengirim
anaknya ke sekolah, ia akan bercerita tentang segala sesuatu yang
menarik tentang sekolah dan manfaat yang akan ia peroleh dari sekolah
itu. Cerita ini akan membesarkan hati si anak dan mendorong perasaan dan
cintanya terhadap sekolah.
2. Memberi peringatan tentang
akibat buruk. Seorang anak yang telah diterangkan tentang akibat buruk
tidak bersekolah dan tetap buta huruf, akan lebih senang pergi ke
sekolah daripada tidak.
Membesarkan hati dan membawa kabar
gembira harus selalu diutamakan dan peringatan mengikutinya sebagai
pendorong. Kadang-kadang kedua metode tersebut dipergunakan karena
keduanya diperlukan dan terkadang berita gembira saja tidak mencukupi.
Membawa berita gembira sangat diperlukan, tetapi bukanlah metode yang
cukup. Hal ini berlaku pula dalam memberi peringatan. Alasan mengapa
al-Qur’an disebut sebagai Sab’u al-Matsani, adalah karena al-Qur’an
menggunakan secara selaras antara berita gembira dan peringatan.
Demikian pula dalam berdakwah, seperti disebutkan oleh Muthahhari,
dua metode ini seharusnya dipergunakan hingga yang satu menjadi
pelengkap bagi yang lainnya. Sangat salah apabila hanya menekankan pada
kabar gembira saja dan melupakan peringatan. Keduanya harus
dipergunakan, meskipun lebih banyak “kabar gembira” yang diberikan dan
lebi sedikit “peringatan”. Karena itulah, dalam kitab suci al-Qur’an
kata “membawa kabar gembira” selalu mendahului “memberi peringatan”
dalam banyak ayat-ayatnya.
Itulah pembahasan mengenai
metode dakwah yang digagas oleh Muthahhari. Metode-metode dakwah yang
telah dijelaskan di atas terlihat sangat spektakuler sebagai sebuah
metode dakwah yang original, sangat mendasar, dan aplikatif sebagai
sebuah metode ideal dalam kegiatan dakwah di masa kini. Ide-ide mengenai
dakwah Muthahhari di atas adalah sebuah jawaban dan harapan yang cerah
untuk perkembangan ilmu dakwah, dan untuk memajukan masyarakat Islam
yang memang sedang membutuhkan pemikiran cemerlang untuk kembali
membangun peradaban dunia.