Selasa, 01 Mei 2012


Berita Redaksi
Opini

FUNGSI MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH DI MUKA BUMI

ALLAH SWT menciptakan alam semesta dan menentukan fungsi-fungsi dari  setiap elemen alam ini. Mata hari punya fungsi, bumi punya fungsi, udara punya fungsi, begitulah seterusnya; bintang-bintang, awan, api, air, tumbuh-tumbuhan dan seterusnya hingga makhluk yang paling kecil masing-masing memiliki fungsi dalam kehidupan. Pertanyaan kita adalah apa sebenarnya fungsi manusia dalam pentas kehidupan ini? Apakah sama fungsinya dengan hewan dan tumbuh-tumbuhan? atau mempunyai fungsi yang lebih istimewa ?
Bagi seorang atheis, manusia tak lebih dari fenomena alam seperti makhluk yang lain. Oleh karena itu, manusia menurut mereka hadir di muka bumi secara alamiah dan akan hilang secara alamiah. Apa yang dialami manusia, seperti peperangan dan bencana alam yang menyebabkan banyak orang mati, adalah tak lebih sebagai peristiwa alam yang tidak perlu diambil pelajaran atau dihubungkan dengan kejahatan dan dosa, karena dibalik kehidupan ini tidak ada apa-apa, tidak ada Tuhan yang mengatur, tidak ada sorga atau neraka, seluruh kehidupan adalah peristiwa alam. Bagi orang atheis fungsi manusia tak berbeda dengan fungsi hewan atau tumbuh-tumbuhan, yaitu sebagai bagian dari alam.
Bagi orang yang menganut faham sekuler, manusia adalah pemilik alam yang boleh mengunakannya sesuai dengan keperluan. Manusia berhak mengatur tata kehidupan di dunia ini sesuai dengan apa yang dipandang perlu, dipandang baik dan masuk akal karena manusia memiliki akal yang bisa mengatur diri sendiri dan memutuskan apa yang dipandang perlu. Mungkin dunia dan manusia diciptakan oleh Tuhan, tetapi kehidupan dunia adalah urusan manusia, yang tidak perlu dicampuri oleh agama. Agama adalah urusan individu setiap orang yang tidak perlu dicampuri oleh orang lain apa lagi oleh negara.
Agama Islam mengajarkan bahwa manusia memiliki dua predikat, yaitu sebagai hamba Allah (`abdullah) dan sebagai wakil Allah (khalifatullah) di muka bumi. Sebagai hamba Allah, manusia adalah kecil dan tak memiliki kekuasaan. Oleh karena itu, tugasnya hanya menyembah kepada-Nya dan berpasrah diri kepada-Nya. Tetapi sebagai khalifatullah, manusia diberi fungsi sangat besar, karena Allah Maha Besar maka manusia sebagai wakil-Nya di muka bumi memiliki tanggung jawab dan otoritas yang sangat besar.
Sebagai khalifah, manusia diberi tangung jawab pengelolaan alam semesta untuk kesejahteraan umat manusia, karena alam semesta memang diciptakan Tuhan untuk manusia. Sebagai wakil Tuhan manusia juga diberi otoritas ketuhanan; menyebarkan rahmat Tuhan, menegakkan kebenaran, membasmi kebatilan, menegakkan keadilan, dan bahkan diberi otoritas untuk menghukum mati manusia. Sebagai hamba manusia adalah kecil, tetapi sebagai khalifah Allah, manusia memiliki fungsi yang sangat besar dalam menegakkan sendi-sendi kehidupan di muka bumi. Oleh karena itu, manusia dilengkapi Tuhan dengan kelengkapan psikologis yang sangat sempurna, akal, hati, syahwat dan hawa nafsu, yang kesemuanya sangat memadai bagi manusia untuk menjadi makhluk yang sangat terhormat dan mulia, disamping juga sangat potensil untuk terjerumus hingga pada posisi lebih rendah dibanding binatang.
Fungsi Khalifah
Pada  dasarnya,  akhlak  yang  diajarkan   Alquran   terhadap lingkungan bersumber dari fungi manusia sebagai khalifah. Kekhalifahan  menuntut  adanya interaksi antara manusia dengan sesamanya dan manusia terhadap alam. Kekhalifahan  mengandung arti pengayoman, pemeliharaan, serta pembimbingan, agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya. Dalam  pandangan  akhlak Islam,  seseorang  tidak  dibenarkan mengambil  buah  sebelum  matang,  atau memetik bunga sebelum mekar, karena hal ini berarti tidak memberi kesempatan kepada makhluk untuk mencapai tujuan penciptaannya.
Ini  berarti manusia dituntut untuk mampu menghormati proses-proses yang sedang berjalan, dan terhadap semua  proses yang sedang  terjadi. Yang demikian mengantarkan manusia bertanggung jawab, sehingga  ia tidak melakukan perusakan, bahkan dengan kata lain, “Setiap perusakan terhadap lingkungan harus dinilai sebagai perusakan pada diri manusia sendiri.” Binatang, tumbuhan,  dan benda-benda  tak  bernyawa  semuanya diciptakan  oleh Allah Swt. dan menjadi milik-Nya, serta semua memiliki ketergantungan kepada-Nya. Keyakinan ini mengantarkan sang Muslim untuk menyadari bahwa semuanya adalah “umat” Tuhan yang harus diperlakukan secara wajar dan baik.
Karena itu dalam Alquran ditegaskan bahwa :
Dan tidaklah binatang-binatang yang ada di bumi dan  burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan  umat-umat (juga)  seperti manusia...”  (QS. Al-An’am  [6] : 38)
Bahwa semuanya adalah milik Allah, mengantarkan manusia kepada kesadaran  bahwa  apapun  yang  berada  di  dalam  genggaman tangannya,   tidak lain   kecuali    amanat    yang    harus dipertanggungjawabkan. “Setiap jengkal tanah yang terhampar di bumi, setiap angin yang berhembus di udara,  dan setiap tetes hujan yang tercurah dari langit akan dimintakan pertanggungjawabannya, manusia menyangkut pemeliharaan  dan pemanfaatannya”, demikian   kandungan  penjelasan  Nabi  Saw. tentang firman-Nya dalam Alquran
Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kemikmatan (yang  kamu  peroleh).” (At-Takatsur, [102]:  8)
Dengan demikian  manusia bukan  saja  dituntut  agar tidak  alpa  dan angkuh terhadap sumber daya yang dimilikinya, melainkan juga dituntut untuk memperhatikan apa yang sebenarnya dikehendaki oleh Pemilik (Tuhan) menyangkut apa yang berada di sekitar manusia.
Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta yang berada di antara keduanya, kecuali dengan (tujuan) yang hak dan pada waktu yang ditentukan” (QS Al-Ahqaf [46]: 3).
Pernyataan Allah ini mengundang seluruh manusia untuk tidak hanya memikirkan  kepentingan  diri  sendiri,  kelompok, atau bangsa, dan jenisnya saja, melainkan juga harus  berpikir  dan bersikap  demi  kemaslahatan  semua pihak.  Ia  tidak  boleh bersikap  sebagai penakluk alam  atau  berlaku sewenang-wenang terhadapnya. Memang,  istilah  penaklukan  alam tidak dikenal dalam ajaran Islam. Istilah itu muncul dari pandangan mitos Yunani  yang beranggapan bahwa  benda-benda  alam  merupakan dewa-dewa yang memusuhi  manusia sehingga harus ditaklukkan.
Yang menundukkan alam menurut Alquran adalah  Allah.  Manusia tidak sedikit pun mempunyai kemampuan kecuali berkat kemampuan yang dianugerahkan Tuhan kepadanya.
Mahasuci Allah yang menjadikan (binatang) ini mudah bagi kami, sedangkan kami sendiri tidak mempunyai kemampuan untuk itu.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 13)
Jika demikian, manusia tidak mencari kemenangan, tetapi keselarasan dengan alam. Keduanya  tunduk  kepada  Allah, sehingga mereka harus dapat bersahabat. Aquran menekankan agar umat Islam meneladani Nabi Muhammad Saw. yang membawa rahmat untuk seluruh alam (segala sesuatu). Untuk menyebarkan rahmat itu, Nabi Muhammad Saw. bahkan memberi nama semua yang menjadi milik pribadinya, sekalipun benda-benda itu tak bernyawa. “Nama” memberikan kesan adanya kepribadian, sedangkan kesan itu mengantarkan kepada kesadaran untuk bersahabat dengan pemilik nama.
Ini berarti bahwa manusia dapat memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Namun pada saat yang sama, manusia tidak  boleh  tunduk  dan merendahkan diri kepada segala sesuatu yang telah direndahkan Allah untuknya, berapa pun harga benda-benda  itu. Ia tidak boleh diperbudak  oleh  benda-benda  itu. Ia tidak boleh diperbudak oleh benda-benda sehingga  mengorbankan kepentingannya sendiri. Manusia dalam hal ini dituntut untuk selalu mengingat-ingat, bahwa ia boleh meraih apapun  asalkan yang diraihnya serta cara meraihnya tidak mengorbankan kepentingannya di akhirat kelak.
Memanfaatkan Segala Potensi
Manusia merupakan khalifah di bumi ini, diciptakan oleh Allah dengan berbagai kelebihan dan kesempurnaan yang menyertainya. Kita diberi akal pikiran dan juga hawa nafsu sebagai pelengkapnya. Manusia telah diberikan berbagai fasilitas di muka bumi sebagai alat pemenuhan kebutuhan manusia. Semua yang kita perlukan telah terhampar di alam semesta, manusia hanya perlu mengelolanya saja.
Dalam kelangsungan hidup manusia terjadi berbagai perkembangan di dunia, semakin kompleksnya kebutuhan manusia, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan terciptanya berbagai mesin-mesin dan berbagai alat komunikasi yang membantu meringankan kehidupan dan pekerjaan manusia. Didorong dengan nafsu keserakahannya, manusia hanya berusaha untuk memenuhi kebutuhannya, negara hanya berpikir untuk memajukan perekonomian dan pembangunan besar-besaran diberbagai sektor, tanpa memikirkan dampak lingkungan yang diakibatkan dari apa yang dilakukan manusia. Termasuk penduduk Indonesia perilakunya juga seperti itu, bisa dikatakan kepeduliannya sangat kecil terhadap lingkungan, ini tidak lepas dari tingkat kesadaran masyarakat dan juga desakan ekonomi yang juga menuntut masyarakat berusaha untuk memenuhi kebutuhannya tanpa menghiraukan dampak lingkungan yang diakibatkan.
Kegiatan manusia di dunia ini banyak menimbulkan masalah bagi lingkungan, erosi tanah, polusi udara, banjir, tanah longsor, tanah yang hilang kesuburannya, hilangnya spesies-spesies dalam ekosistem, kekeringan, hilangnya biota-biota laut dan yang paling memprihatinkan adalah pemanasan suhu global, yaitu peristiwa pemanasan bumi yang disebabkan oleh peningkatan ERK (Efek Rumah Kaca) yang disebabkan oleh gas rumah kaca (GRK), seperti CO2, CH4, Sulfur dan lain-lain yang menyerap sinar panas atau menyebabkan terperangkapnya panas matahari (sinar infra merah). ERK (greenhouse effect) bukan berarti disebabkan oleh bangunan-bangunan yang berdinding kaca, tapi hanya merupakan istilah yang berasal dari para petani di daerah iklim sedang yang menanam tanaman di rumah kaca.
Global Warming sangat perlu diperhatikan oleh seluruh penduduk dunia, dan termasuk didalamnya penduduk Indonesia, dengan bersinergi menurunkan dan memperlambat peningkatan greenhouse effect. Langkah-langkah nyata harus dilakukan oleh masyarakat, karena sangat besarnya dampak yang diakibatkan oleh pemanasan global bagi kelangsungan hidup manusia dan makhluk lain yang hidup di bumi.
Kita ketahui Indonesia merupakan negara maritim. Pemanasan global yang saat ini terjadi akan memicu naiknya suhu atmosfer bumi, dan akan menaikkan permukaaan air laut, yang juga didukung oleh pencairan es di kutub bumi. Hal ini dapat memicu tenggelamnya negara kita, didahului dengan tenggelamnya ribuan pulau-pulau kecil yang dimiliki Indonesia. Kalau pemanasan global tidak cepat ditanggulangi dan membiarkan kegiatan-kegiatan manusia yang tidak ramah dengan lingkungan, mungkin beberapa abad lagi negara kita akan tenggelam dan berakhirlah peradaban manusia di dunia.
Seiring pertumbuhan penduduk yang cenderung tidak dapat dikendalikan dan selalu menunjukkan peningkatan. Hal ini juga terjadi di Indonesia, akan memicu naiknya kebutuhan-kebutuhan manusia seperti pangan, tempat tinggal, listrik, BBM dan banyak kebutuhan lainnya. Kesemuanya itu akan meningkatkan kebutuhan manusia akan lahan-lahan yang digunakan untuk produksi pertanian, perkebunan, pertambangan, tempat tinggal, jalan-jalan dan fasilitas umum. Hal ini tidak bisa dipungkiri, dan akhirnya terjadilah penebangan pohon-pohon dan hutan untuk memenuhi kebutuhan untuk bahan baku industri tanpa menghiraukan dampak lingkungan yang akan diderita.
Ini  berarti manusia dituntut untuk mampu menghormati proses-proses yang sedang berjalan, dan terhadap semua  proses yang sedang  terjadi. Yang demikian mengantarkan manusia bertanggung jawab, sehingga  ia tidak melakukan perusakan, bahkan dengan kata lain, “Setiap perusakan terhadap lingkungan harus dinilai sebagai perusakan pada diri manusia sendiri.” Binatang, tumbuhan,  dan benda-benda  tak  bernyawa  semuanya diciptakan  oleh Allah Swt. dan menjadi milik-Nya, serta semua memiliki ketergantungan kepada-Nya. Keyakinan ini mengantarkan sang Muslim untuk menyadari bahwa semuanya adalah “umat” Tuhan yang harus diperlakukan secara wajar dan baik.
Sebagai khalifah, manusia diberi tangung jawab pengelolaan alam semesta untuk kesejahteraan ummat manusia, karena alam semesta memang diciptakan Allah untuk manusia. Sebagai hamba manusia adalah kecil, tetapi sebagai khalifah Allah, manusia memiliki fungsi yang sangat besar dalam menegakkan sendi-sendi kehidupan di muka bumi. Oleh karena itu, manusia dilengkapi Tuhan dengan kelengkapan psikologis yang sangat sempurna, akal, hati, syahwat dan hawa nafsu, yang kesemuanya sangat memadai bagi manusia untuk menjadi makhluk yang sangat terhormat dan mulia, disamping juga sangat potensil untuk terjerumus hingga pada posisi lebih rendah dibanding binatang.

Takwa dalam Al-Quran1

Orang yang takwa dalam Al-Quran adalah manusia ideal, kekasih Tuhan. “Ketahuilah, sungguh para kekasihnya itu adalah orang-orang yang takwa” (Al-Anfal 8:34) Ibadat diwajibkan agar orang menjadi takwa. Derajat manusia ditentukan oleh ketakwaannya. Sebagian arifin berkata: Sesungguhnya kebaikan dunia dan akhirat dihimpunkan dalam satu kata- takwa. Karena itu, banyak ayat Al-Quran yang menjanjikan segala kebaikan “duniwai dan ukhrawi, lahir dan batin- untuk orang yang takwa. Sayyid Qasim Syubbar1, secara singkat mendaftar 12 keutamaan orang takwa:
  1. Pujian dan penghargaan dari Allah swt: Jika kamu bersabar dan bertakwa maka demikian itu termasuk perkara yang sangat menentukan (Ali Imran 3:186).
  2. Penjagaan dan pemeliharaan: Jika kamu bersabar dan bertakwa, tidak akan memperdayakan kamu tipuan mereka sedikit pun (Ali Imran 3:120).
  3. Bantuan dan pertolongan: Sesungguhnya Tuhan bersama orang-orang yang takwa (Al-Nahl 128).
  4. Jalan keluar dari segala kesulitan dan rezeki yang halal: Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, Allah jadikan baginya jalan keluar dan Allah beri dia rezeki dari tempat yang tidak terduga (Al-Thalaq 2,3)2.
  5. Memperbaiki amal: Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlan ucapan yang benar. Nanti Allah memperbaiki amal-amal kamu (Al-Ahzab 33:70-71).
  6. Ampunan dosa: Setelah ayat di atas “dan mengampuni dosa-dosa kamu”
  7. Memperoleh dan memastikan kecintaan Allah: Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa (Al-Tawbah 4,7).
  8. Amal-amal diterima: Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa (Al-Maidah 27).
  9. Kemuliaan dan ketinggian derajat: Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling takwa (Al-Hujurat 13).
  10. Diberikan kabar gembira di dunia dan di akhirat: Orang-orang yang beriman dan keadaan mereka bertakwa. Bagi mereka kabar gembira dalam kehidupan dunia dan di akhirat (Yunus 63-64).
  11. Keselamatan dari neraka: Kemudian kami akanmenyelamatkan orang-orang yang bertakwa danmembiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut (Maryam 19:68).
  12. Kekekalan di surga: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Allah dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa (Ali Imran 3:133).
Saya ingin menambahkan lima keutamaan lainnya yang dianugrahkan Tuhan bagi orang yang bertakwa:
Bantuan gaib berupa kedatangan malaikat: Ya, bila kamu bersabar dan bertakwa dan mereka menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda (Ali Imran 3:125).
Kemudahan dalam berbagai urusan: Maka barangsiapa yang memberikan hartanya dan bertakwa; dan membenarkan pahala yang terbaik; maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah (Al-Layl 92: 5-7). Dibukakan keberkahan dari langit dan bumi: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf 96).
Tidak takut dan tidak berdukacita: “Sebahagian diberinya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.” (Al-A’raf 30).
Diberikan ilmu dan pemisah antara benar dan salah: “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al-Anfal 29); “Dan bertakwalah kepada Allah, Allah akan mengajarimu. Dan Allah MahaMengetahui segala sesuatu.” (Al-Baqarah 282).
Dibukakan keberkahan dari langit dan bumi: Jika sekiranya penduduk negeri itu beriman dan bertakwa kami bukakan pintu keberkahan dari langit dan bumi (Al-A’raf 7:96).
Karena begitu mulianya orang yang takwa, Tuhan memberikan banyak penjelasan dalam Al-Quran berkenaan dengan karakteristik takwa. Takwa tidak diambangkan menjadi kata abstrak yang penafsirannya diserahkan kepada definisi para ulama. Paling tidak, dalam empat tempat dalam Al-Quran3 Tuhan memperinci makna takwa, hampir-hampir sangat operasional.
Karakteristik Orang Bertakwa dalam Al-Quran

Sangat menakjubkan bahwa ayat-ayat pertama yang menjelaskan karakteristik takwa dalam Al-Quran adalah ayat-ayat yang paling komprehensif. Ayat-ayat lainnya hanya memberikan penjelasan tambahan. Karena itu, pembahasan dalam makalah ini dipusatkan pada tafsir al-Baqarah 2:1-4:
Alif Lam Mim
Kitab al-Quran ini tidak ada keraguan padanya petunjuk bagi mereka yang takwa,
Yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib yang mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian rezeki yang kami anugrahkan kepada mereka
Dan mereka yang beriman kepada kitab yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu serta mereka yakin akan adanya kehidupan akhirat
Dari rangkaian ayat di atas kita dapat menyebutkan tiga karakteristik utama manusia takwa: keimanan kepada yang gaib, hubungan akrab dengan Tuhan, dan perkhidmatan kepada manusia.4
Keimanan kepada yang gaib. Seluruh perilaku orang yang bertakwa ditegakkan di atas sebuah pandangan dunia, worldview, bahwa di balik dunia yang material ini ada dunia yang lebih luas lagi. Tidak ada makna apa pun bagi perbuatan manusia yang baik seperti salat, zakat, dan kebajikan lainnya tanpa pijakan pada keyakinan akan yang gaib. Bahkan keimanan kepada Tuhan sekali pun harus dimulai dengan pandangan dunia ini. Peringatan Tuhan -dan petunjuk Tuhan- hanya akan diterima oleh orang yang percaya kepada yang gaib: Sungguh telah kami berikan kepada Musa, Harun, furqan, dan penerangan serta peringatan bagi orang yag bertakwa; yakni, orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka berdasarkan keimanan kepada yang gaib dan mereka merasa takut akan tibanya hari kiamat (Al-Anbiya 21:48-49); Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya berdasarkan keimanan kepada yang gaib dan mendirikan salat dan barangsiapa mensucikan dirinya sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri dan kepada Allah-lah kembalimu (Fathir 35:18); Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yamg mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah berdasarkan keimanan kepada yang gaib. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia (Yasin 36:11); Yaitu orang yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah berdasarkan keimana kepada yang gaib dan dia datang denga hati yang bertaubat. (Qaf 50:33).
Dr Muhammad Shadiqi5 menjelaskan “orang-orang yang beriman kepada yang gaib” sebagai berikut:
Iman secara harfiah berarti meletakkan dirimu dalam ketenangan dan ketentraman. Kehidupan dunia dan segala perhiasannya selalu berubah dan berakhir dengan kebinasaan. Beriman kepada kehidupan dunia saja akan menambah kecemasan dan kegelisahan. Sedangkan keimanan kepada yang gaib- kegaiban uluhiah hari akhir dan wahyu- adalah keimanan yang menentramkan manusia yang memberikannya ketenangan dari segala kecemasan: ketahuilah dengan zikir kepada Allah hati menjadi tentram
Percaya kepada yang gaib artinya keimanan kepada yang gaib dari panca indra mereka berupa hal-hal yang mengharuskan kita mempercayiannya seperti kebangkitan, perhitungan, surga, neraka, tauhid dan semua hal yang tidak diketahui dengan kesaksian tetapi diketahui dengan petunjuk (dalil-dalil)
Keimanan kepada yang gaib dari panca indra hewani adalah hal yang membedakan manusia dari binatang yang lain di atas alat indrannya manusia mempunyai akal. Dengan akallah dia mengetahui apa yang tidak diketahui alat indra. Sesungguhnya akal dan alat indra bekerja sama untuk membenarkan yang gaib dari panca indra sebagimana keduanya juga bekerja sama dalam pengetahuan empiris. Pengetahuan indra saja tidak mencukupi walaupun untuk pengetahuan empiris. Begitu pula semata-mata akal tidak cukup bahkan untuk membenarkan yang gaib sekalipun kecuali sedikit saja.
Membatasi persepsi hanya kepada alat-alat indra saja sangat reduksionis. Membatasi pada akal saja terlalu berlebihan. Karena itulah kita melihat ayat-ayat yang menghimpun antara akal dan indra untuk mencapai keimanan kepada yang gaib; berdasarkan petunjuk ayat-ayat yang indrawi dan ayat-ayat diri yang tidak indrawi: akan kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat kami di alam semesta dan dalam diri mereka sampai jelaslah bagi mereka bahwa Dia itu benar (41:53)
Tafsir al-Shadiqi ini mengingatkan kita pada konsep evolusi manusia dari Gary Zukav6. Ia membedakan antara “five-sensory humana” dan “multisensory human”:
We are evolving from five-sensory humans into multisensory humans. Our five senses, together, form a single sensory system that designed to perceive physical reality. The perception of multisensory human extend beyond physical reality to the larger dynamical systems of which our physical reality is a part. The multisensory human is able to perceive and to appreciate, the role that our physical reality plays in a larger picture of evolution, and the dynamic by which our physical reality is created and sustained. This realm is invisible to the five-sensory human.
It is in this invisible realm that the origins of our deepest values are found. From the perspective of this invisible realm, the motivations of those who consciously sacrifice their lives for higher purposes makes sense, the power of Gandhi is explicable, and the compassionate act of the Christ are comprehensible in a fullness that is not accessible to the five sensory human…
From the perception of the five sensory human, we are alone in a universe that is physical. From the perception of the multisensory human, we are never alone, and the Universe is alive, conscious, intelligent, and compassionate. From the perception of the five sensory human, the physical world is an unaccountable given in which we unaccountably find ourselves, and we strive to dominate it so that we can survive. From the perception of the multisensory human, the physical world is a learning environment that is created jointly by the souls that share it, and everything that occurs within it serves their learning.
1 Sayyid Qasim Syubbar. Al-Mu’minun fi Al-Quran. 1:45. Qum: Muassasah al-Nasyr akl-Islami, 1411.
2 Rasulullah saw berpesan kepada Abu Dzar: Sekiranya manusia mengambil ayat ini cukuplah itu bagi mereka. Dalam hadis lain, Nabi menjelaskan bahwa meberikan “jalan keluar” artinya dari segala kesulitan dunia dan akhirat ( Lihat Syubbar, ibid.).
3 Al-Baqarah 2:1-4; Al-Baqarah 2:177; Ali Imran 3: 133-136; Al-Dzariat 51:17.
4 Sayyid Kamal Faghih Imani et al. An Enlightening Commentary into the Light of The Holy Quran. Isfahan: Imam Ali Public Library, 1999. I:76-85, menyebutkan ketiganya dengan kata-kata: Faith in The Unseen, Relationship with Allah and Relationship with People
5 Muhammad Shadiqi. Al-Furqan fi Tafsir Al-Quran bi Al-Quran wa al-Sunnah. Teheran: Farhangg-Islami, 1406. I: 171.
6 Gary Zukav. The Seat of the Soul. New York: Simon and Schuster, 1990, hlm 27-

PENGERTIAN IMAN MENURUT AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH. [IMAN DAPAT BERTAMBAH ATAU BERKURAN

Pertanyaan.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : "Bagaimana pengertian Iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama'ah .? Apakah Iman itu bisa bertambah atau berkurang .?"

Jawab.
Pengertian Iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah ; ikrar dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota badan. Jadi, Iman itu mencakup tiga hal :

[1] Ikrar dengan hati.
[2] Pengucapan dengan lisan.
[3] Pengamalan dengan anggota badan

Jika keadaannya demikian, maka iman itu akan bisa bertambah atau bisa saja berkurang. Lagi pula nilai ikrar itu tidak selalu sama. Ikrar atau pernyataan karena memperoleh satu berita, tidak sama dengan jika langsung melihat persoalan dengan kepala mata sendiri. Pernyataan karena memperoleh berita dari satu orang tentu berbeda dari pernyataan dengan memperoleh berita dari dua orang. Demikian seterusnya. Oleh karena itu, Ibrahim 'Alaihis Sallam pernah berkata seperti yang dicantumkan oleh Allah dalam Al-Qur'an.

"Arrtinya : Ya Rabbku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang yang mati. Allah berfirman : 'Apakah kamu belum percaya'. Ibrahim menjawab :'Saya telah percaya, akan tetapi agar bertambah tetap hati saya". [Al-Baqarah : 260]

Iman akan bertambah tergantung pada pengikraran hati, ketenangan dan kemantapannya. Manusia akan mendapatkan hal itu dari dirinya sendiri, maka ketika menghadiri majlis dzikir dan mendengarkan nasehat di dalamnya, disebutkan pula perihal surga dan neraka ; maka imannya akan bertambah sehingga seakan-akan ia menyaksikannya dengan mata kepala. Namun ketika ia lengah dan meninggalkan majlis itu, maka bisa jadi keyakinan dalam hatinya akan berkurang.

Iman juga akan bertambah tergantung pada pengucapan, maka orang berdzikir sepuluh kali tentu berbeda dengan yang berdzikir seratus kali. Yang kedua tentu lebih banyak tambahannya.

Demikian halnya dengan orang yang beribadah secara sempurna tentunya akan lebih bertambah imannya ketimbang orang yang ibadahnya kurang.

Dalam hal amal perbuatan pun juga demikian, orang yang amalan dengan anggota badannya jauh lebih banyak daripada orang lain, maka ia akan lebih bertambah imannya daripada orang yang tidak melakukan perbuatan seperti dia.

Tentang bertambah atau berkurangnya iman, ini telah disebutkan di dalam Al-Qur'an maupun As-Sunnah. Allah Ta'ala berfirman.

"Artinya : Dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab yakin dan supaya orang-orang yang beriman bertambah imannya". [Al-Mudatstsir : 31]

"Artinya : Dan apabila diturunkan suatu surat, maka diantara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata :'Siapa di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini ?'. Adapun orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir". [At-Taubah : 124-125]

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, pernah bersabda bahwa kaum wanita itu memiliki kekurangan dalam soal akal dan agamanya. Dengan demikian, maka jelaslah kiranya bahwa iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang.

Namun ada masalah yang penting, apa yang menyebabkan iman itu bisa bertambah ? Ada beberapa sebab, di antaranya.

[1]. Mengenal Allah (Ma'rifatullah) dengan nama-nama (asma') dan sifat-sifat-Nya. Setiap kali marifatullahnya seseorang itu bertambah, maka tak diragukan lagi imannya akan bertambah pula. Oleh karena itu para ahli ilmu yang mengetahui benar-benar tentang asma' Allah dan sifat-sifat-Nya lebih kuat imannya dari pada yang lain.

[2]. Memperlihatkan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah yang berupa ayat-ayat kauniyah maupun syar'iyah. Seseorang jika mau memperhatikan dan merenungkan ayat-ayat kauniyah Allah, yaitu seluruh ciptaan-Nya, maka imannya akan bertambah. Allah Ta'ala berfirman. :

"Artinya : Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan" [Adz-Dzariyat : 20-21].

Ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa jika manusia mau memperhatikan dan merenungkan alam ini, maka imannya akan semakin bertambah.

[3]. Banyak melaksanakan ketaatan. Seseorang yang mau menambah ketaatannya, maka akan bertambah pula imannya, apakah ketaatan itu berupa qauliyah maupun fi'liyah. Berdzikir -umpamanya- akan menambah keimanan secara kuantitas dan kualitas. Demikian juga shalat, puasa dan haji akan menambah keimanan secara kuantitas maupun kualitas.

Adapun penyebab berkurangnya iman adalah kebalikan daripada penyebab bertambahnya iman, yaitu :

[1]. Jahil terhadap asma' Allah dan sifat-sifat-Nya. Ini akan menyebabkan berkurangnya iman. Karena, apabila mari'fatullah seseorang tentang asma' dan sifat-sifat-Nya itu berkurang, tentu akan berkurang juga imannya.

[2]. Berpaling dari tafakkur mengenai ayat-ayat Allah yang kauniyah maupun syar'iyah. Hal ini akan menyebabkan berkurangnya iman, atau paling tidak membuat keimanan seseorang menjadi statis tidak pernah berkembang.

[3]. Berbuat maksiat. Kemaksiatan memiliki pengaruh yang besar terhadap hati dan keimanan seseorang. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda :"Artinya : Tidaklah seseorang itu berbuat zina ketika melakukannnya sedang ia dalam keadaan beriman". [Al-Hadits].

[4]. Meninggalkan ketaatan. Meninggalkan keta'atan akan menyebabkan berkurangnya keimanan. Jika ketaatan itu berupa kewajiban lalu ditinggalkannya tanpa udzur, maka ini merupakan kekurangan yang dicela dan dikenai sanksi. Namun jika ketaatan itu bukan merupakan kewajiban, atau berupa kewajiban namun ditinggalkannya dengan udzur (alasan), maka ini juga merupakan kekurangan, namun tidak dicela. Karena itulah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menilai kaum wanita sebagai manusia yang kurang akal dan kurang agamanya. Alasan kurang agamanya adalah karena jika ia sedang haid tidak melakukan shalat dan puasa. Namun ia tidak dicela karena meninggalkan shalat dan puasa itu ketika sedang haid, bahkan memang diperintahkan meninggalkannya. Akan tetapi jika hal ini dilakukan oleh kaum laki-laki, maka jelas akan mengurangi keimannya dari sisi yang satu ini.


[Disalin dari kitab Fatawa Anil Iman wa Arkaniha, yang di susun oleh Abu Muhammad Asyraf bin Abdul Maqshud, edisi Indonesia Soal-Jawab Masala

METODE DA’WAH SECARA LANGSUNG





A. Pendahuluan

Setiap kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah Subhaanahu wa ta'ala sesuai dengan garis aqidah, syari'at dan akhlak Islam. Kata da'wah merupakan masdar (kata benda) dari kata kerja da'a yad'u yang berarti panggilan, seruan atau ajakan.

Syaikh Ali Mahfuzh -murid Syaikh Muhammad Abduh- sebagai pencetus gagasan dan penyusunan pola ilmiah ilmu da'wah memberi batasan mengenai da'wah sebagai: "Membangkitkan kesadaran manusia di atas kebaikan dan bimbingan, menyuruh berbuat ma'ruf dan maencegah dari perbuatan yang munkar, supaya mereka memperoleh keberuntungan kebahagiaan di dunia dan di akhirat."

Da'wah adalah usaha penyebaran pemerataan ajaran agama di samping amar ma'ruf dan nahi munkar. Terhadap umat Islam yang telah melaksanakan risalah Nabi lewat tiga macam metode yang paling pokok yakni da'wah, amar ma'ruf, dan nahi munkar, Allah memberi mereka predikat sebagai umat yang berbahagia atau umat yang menang .

Kata da'wah sering dirangkaikan dengan kata "Ilmu" dan kata "Islam", sehingga menjadi "Ilmu da'wah" dan Ilmu Islam" atau ad-da'wah al-Islamiyah.

Yang dimaksud Ilmu da'wah adalah suatu ilmu yang berisi cara-cara dan tuntunan untuk menarik perhatian orang lain supaya menganut, mengikuti, menyetujui atau melaksanakan suatu ideologi, agama, pendapat atau pekerjaan tertentu. Orang yang menyampaikan da'wah disebut da'i sedangkan yang menjadi obyek da'wah disebut mad'u. Setiap Muslim yang menjalankan fungsi da'wah Islam adalah da'i.

Adapun mengenai tujuan da'wah, yaitu: pertama, mengubah pandangan hidup. Dalam QS. Al Anfal: 24 di sana di siratkan bahwa yang menjadi maksud dari da'wah adalah menyadarkan manusia akan arti hidup yang sebenarnya. Hidup bukanlah makan, minum dan tidur saja. Manusia dituntut untuk mampu memaknai hidup yang dijalaninya.

Kedua, mengeluarkan manusia dari gelap-gulita menuju terang-benderang. Ini diterangkan dalam firman Allah: "Inilah kitab yang kami turunkan kepadamu untuk mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada terang-benderang dengan izin Tuhan mereka kepada jalan yang perkasa, lagi terpuji." (QS. Ibrahim: 1).

Selain itu da’wah juga untuk mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat yang diridlai oleh Allah Swt. Nabi Muhammad Salallaahu 'alaihi wa salam mencontohkan da'wah kepada ummatnya dengan berbagai cara melalui lisan, tulisan dan perbuatan. Dimulai dari istrinya, keluarganya, dan teman-teman karibnya hingga raja-raja yang berkuasa pada saat itu. Di antara raja-raja yang mendapat surat atau risalah Nabi Saw adalah kaisar Heraclius dari Byzantium, Mukaukis dari Mesir, Kista dari Persia(Iran) dan Raja Najasyi dari Habasyah (Ethiopia).

Suatu kaum yang senantiasa berpegang teguh pada prinsip ber-amar ma'ruf nahi munkar akan mendapatkan balasan dan pahala dari Allah Swt. yang antara lain berupa:

1. Ditinggikan derajatnya ke tingkatan yang setinggi-tingginya (QS. Ali Imran: 110).
2. Terhindar dari kebinasaan sebagaimana dibinasakannya Fir'aun beserta orang-orang yang berdiam diri ketika melihat kedzalimannya.
3. Mendapatkan pahala berlipat dari Allah sebagaimana sabda Nabi Saw.: "Barangsiapa yang mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya sampai hari kiamat, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun".
4. Terhindar dari laknat Allah sebagai mana yang terjadi pada Bani Isra'il karena keengganan mereka dalam mencegah kemunkaran. (QS. Al-Maidah: 78-79).

Secara prinsipil seorang Muslim dituntut untuk tegas dalam menyampaikan kebenaran dan melarang dari kemunkaran. Rasul Saw. bersabda: "Barang siapa di antara kamu menjumpai kemunkaran maka hendaklah ia rubah dengan tangan (kekuasaan)nya, apabila tidak mampu hendaklah dengan lisannya, dan jika masih belum mampu hendaklah ia menolak dengan hatinya. Dan (dengan hatinya) itu adalah selemah-lemahnya iman". Hadits ini memberikan dorongan kepada orang Muslim untuk ber-amar ma'ruf dengan kekuasaan dalam arti kedudukan dan kemampuan fisik dan kemampuan finansial. Amar ma'ruf dan khususnya nahi munkar minimal diamalkan dengan lisan melalui nasihat yang baik, ceramah-ceramah, ataupun khutbah-khutbah, sebab semua.

Muslim tentunya tidak ingin bila hanya termasuk di dalam golongan yang lemah imannya.Da'wah dan amar ma'ruf nahi munkar dengan metode yang tepat akan menghantarkan dan menyajikan ajaran Islam secara sempurna. Metode yang di terapkan dalam menyampaikan amar ma'ruf nahi munkar tersebut sebenarnya akan terus berubah-ubah sesuai dengan kondisi dan situasi masyarakat yang dihadapi para da'i. Amar ma'ruf dan nahi munkar tidak bertujuan memperkosa fitrah seseorang untuk tunduk dan senantiasa mengikuti tanpa mengetahui hujjah yang dipakai, tetapi untuk memberikan koreksi dan membangkitkan kesadaran dalam diri seseorang akan kesalahan dan kekurangan yang dimiliki.

Ketegasan dalam menyampaikan amar ma'ruf dan nahi munkar bukan berarti menghalalkan cara-cara yang radikal. Implementasinya harus dengan strategi yang halus dan menggunakan metode tadarruj (bertahap) agar tidak menimbulkan permusuhan dan keresahan di masyarakat. Penentuan strategi dan metode amar ma'ruf nahi munkar harus mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat yang dihadapi. Jangan sampai hanya karena kesalahan kecil dalam menyampaikan amar ma'ruf nahi munkar justru mengakibatkan kerusakan dalam satu umat dengan social cost yang tinggi.

Dalam menyampaikan amar ma'ruf nahi munkar hendaknya memperhatikan beberapa poin yang insya Allah bisa diterapkan dalam berbagai bentuk masyarakat:

1. Hendaknya amar ma'ruf nahi munkar dilakukan dengan cara yang ihsan agar tidak berubah menjadi penelanjangan aib dan menyinggung perasaan orang lain. Ingatlah ketika Allah berfirman kepada Musa dan Harun agar berbicara dengan lembut kepada Fir'aun (QS. Thaha: 44).
2. Islam adalah agama yang berdimensi individual dan sosial, maka sebelum memperbaiki orang lain seorang Muslim dituntut berintrospeksi dan berbenah diri, sebab cara amar ma'ruf yang baik adalah yang diiringi dengan keteladanan.
3. Menyampaikan amar ma'ruf nahi munkar disandarkan kepada keihklasan karena mengharap ridla Allah, bukan mencari popularitas dan dukungan politik.
4. Amar ma'ruf nahi munkar dilakukan menurut Al-Qur'an dan Al-Sunnah, serta diimplementasikan di dalam masyarakat secara berkesinambungan.

Dalam menyampaikan da'wah amar ma'ruf nahi munkar, para da'i dituntut memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, baik kepada Allah maupun masyarakat dan negara. Bertanggung jawab kepada Allah dalam arti bahwa da'wah yang ia lakukan harus benar-benar ikhlas dan sejalan dengan apa yang telah digariskan oleh Al Qur'an dan Sunnah. Bertanggung jawab kepada masyarakat atau umat menganduang arti bahwa da'wah Islamiyah memberikan kontribusi positif bagi kehidupan sosial umat yang bersangkutan. Bertanggung jawab kepada negara mengandung arti bahwa pengemban risalah senantiasa memperhatikan kaidah hukum yang berlaku di negara dimana ia berda'wah. Jika da'wah dilakukan tanpa mengindahkan hukum positif yang berlaku dalam sebuah negara, maka kelancaran da'wah itu sendiri akan terhambat dan bisa kehilangan simpati dari masyarakat.

Dalil

Adalah keterangan yang dijadikan bukti atau alasan sesuatu kebenaran. Dalam Islam (ilmu matiq) dikenal dua macam dalil, yakni dalil naqli yang bersumber dari Al-Qur'an dan as-Sunnah dan dalil aqli, yaitu dalil yang berdasarkan hukum akal(logika), analisa akal dan pembahasan ilmu pengetahuan.Kata dalil juga boleh diartikan kaidah, patokan dalam suatu pembahasan, saranan, dan sebagai kaidah yang harus diterapkan kebenarannya dalam ilmu pasti.

Dalil-dalil Naqli yang berasal dari ayat-ayat al-Qur'an semuanya berstatus sebagai dalil-dalil ang qat'i al-wurud, artinya sudah diyakini merupakan wahyu Allah swt yang terpelihara dari campur tangan manusia. Sedangkan dalil aqli yaitu dalil-dalil yang diperoleh melalui proses penalaran akal(ijtihad). Ijtihad ini adakalanya dilakukan dengan membandingkan segi persamaan ('illat) yang terdapat pada suatu perbuatan yang belum ada ketentuan hukumnya dengan berbuatan lain yang sudah ada ketentuan hukumnya dalam dalil naqli(kias). Ijtihad biasanya dilakukan dengan memperhatikan ruh tasyri'(jiwa atau semangat hukum), kemaslahatan umum, dan sebagainya.

B. Kewajiban Da’wah

Islam adalah agama yang sangat memperhatikan hubungan manusia dengan manusia yang lainnya. Sehingga individu dipandang sebagai bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat . Tidak ada satupun agama ataupun ideologi lain yang memiliki aturan seperti itu apalagi menandinginya. Rosulullah SAW telah menjelaskan hubungan individu dengan masyarakat ini melalui sabdanya :

“ Perumpamaan orang yang menjaga dan menerapkan batas ( peraturan ) Allah adalah laksana kelompok penumpang kapal yang mengundi tempat duduk mereka . Sebagian mereka mendapat tempat dibagian atas dan sebagian lain dibagian bawah, jika mereka membutuhkan air maka harus berjalan melewati bagian atas kapal. Maka merekapun berujar,” bagaimana jika kami lubangi saja bagian bawah kapal ini (untuk mendapatkan air), toh hal itu tidak menyakiti orang yang berada dibagian atas”. Jika kalian biarkan mereka berbuat menuruti keinginan mereka itu, maka binasalah mereka dan seluruh penumpang kapal itu. Tetapi jika kalian cegah mereka, maka selamatlah mereka dan seluruh penumpang yang lain”. (HR. Bukhari)

Dari hadist diatas Rasulullah menunjukkan bagaimana keterpaduan individu dan masyarakat, dimana individu berbuat untuk kemaslahatan masyarakat dan masyarakat berbuat untuk menjaga individu. Oleh karena itu jika masyarakat melakukan kemaksiatan seperti syirik kewajiban kitalah yang mengerti agama islam ini dengan kaffah menjaga mereka dari api neraka yaitu caranya dengan berdakwah.

Dulu ketika Rosulullah SAW diangkat sebagai utusan Allah SWT, Beliau menyebarkan islam dengan cara berdakwah baik secara sembunyi – sembunyi (karena pada waktu itu kaum Quraisy masih sangat kuat sedangkan Rosul tidak punya kekuatan untuk melawannya) maupun terang – terangan . Beliau berusaha untuk menyebarkan agama islam ini keseluruh penjuru dunia, setelah Beliau wafat diteruskan oleh Kulafaur Rasyidin kemudian diteruskan oleh para ulama’. Namun zaman sekarang ini yaitu zaman modernisasi, aturan - aturan agama islam semakin mengikis, dengan pengikisan aturan agama ini sehingga negara – negara yang penduduknya sebagian besar islam akan hancur karena mereka mengikuti aturan –aturan dari barat. Contohnya negara kita sendiri meskipun 87% penduduk negara kita adalah islam namun seks bebas dimana-mana sehingga AIDS menyebar dengan cepat dan dengan sangat bangga kita merupakan negara korupsi urutan ke 3 sedunia. Selain itu Rosulullah SAW juga bersabda bahwa orang-orang islam pada suatu masa akan tunduk kepada orang-orang kafir . Dalam kenyataannya hadist Rosul itu dapat terbukti, dulu orang islam ditakuti orang kafir namun sekarang orang kafir ditakuti orang islam misalnya Arab Saudi yang merupakan negara islam dan tempat dilahirkannya Rosulullah sekarang tunduk kepada negara AS dan ketika Irak di serang oleh AS tanpa ada sebab orang muslim sedunia tidak membantu orang muslim yang ada di Irak. Dan sekarang bagaimana dengan nasib islam nantinya?

C. Penyakit-penyakit Da'i

Adalah bentuk hambatan yang dialami juru dakwah(da'i) sehingga berakibat mengganggu aktivitinya sebagai muballigh. Di antara bentuk-bentuk penyakit tersebut adalah:

1. Futuur

Penyakit hati (ruhani) yang melanda juru da'wah dari yang semula giat dan bersemangat, menjadi lemah dan kehilangan gairah. hal-hal yang menyebabkan juru da'wah terserang penyakit ini adalah: (1) Sikap berlebihan yang tidak mempertimbangkan situasi dan kondisi baik fizikal, kesihatan maupun spritual; (2) Tidak mengawal hal-hal yang mubah, seperti makan minum, tidur dan beraktivitas seksual sehingga nafsu berkuasa; (3) Memisahkan diri dari Jamaah; (4) Kurang mengingat kematian; (5) lalai dalam beribadah.

2. Isti'jal

Jenis penyakit juru da'wah yang ingin mencapai perubahan atas realiti yang dialami kaum muslimin dalam waktu yang sesingkat-singkatnya tanpa memperhatikan lingkungan, akibat, dan tanpa melihat kenyataan, juga tanpa persiapan yang cukup sebelumnya baik sistem maupun sarana. Dengan kata lain, Isti'jal merupakan cara-cara da'wah yang menginginkan hasil yang maksimal dengan waktu yang sesingkat mungkin.

D. Macam-macam Metode Da’wah secara Langsung

1. Metode Dakwah Walisongo

Secara konseptual metode dakwah walisongo biasa disebut dengan istilah ”Mau’izatul hasanah wa mujahadah billati hiya ahsan.” Metode ini biasa digunakan untuk tokoh-tokoh khusus (pemimpin), misalnya para bupati, adipati, para raja, maupun para tokoh-tokoh masyarakat setempat. Dasar metode ini adalah QS An-Nahl (16) : 125, yang artinya :”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Para tokoh khusus itu diperlakukan secara personal, dihubungi secara istimewa. Kepada mereka diberikan keterangan, pemahaman tentang islam, peringatan-peringatan secara lemah lembut, tukar pikiran dari hati ke hati dan penuh toleransi. Ini yang dimaksud Mau’izatul Hasanah. Namun apabila cara tersebut belum juga berhasil, barulah menggunakan cara berikutnya, yakni Al Mujadalah billati hiya ihsan.

Cara kedua ini diterapkan kepada tokoh yang secara terus terang menunjukkan sikap kurang setuju terhadap islam. Rangkain cara ini bisa dilihat ketika Raden Rahmat atau Sunan Ampel dan kawan-kawan berdakwah kepada Arya Damar dari Palembang. Berkat keramahan dan kebijakan Raden Rahmat, maka Arya Damar kemudian masuk islam bersama istrinya. Dan tak lama kemudian diikuti pula oleh hampir segenap anak negerinya.

Demikian pula halnya ketika beliau berdakwah terhadap Prabu Brawijaya. Ketika mendengar wejangan yang demikian bagus dari Sunan Ampel, sesunggunya terasa sulit bagi Prabu Brawijaya untuk menolak. Tapi karena beliau berkedudukan sebagai raja, tentu banyak pertimbangan yang membuatnya tidak mudah begitu saja menerima pendapat orang lain, terutama dalam hal keagamaan. Meski repot mengelak, akhir nya beliau menolak secara halus, dengan alasan bahwa sebagai raja dia terikat adat kebiasaan kerajaan dan tradisi rakyatnya tidak bisa diabaikan begitu saja.

Namun lain halnya dengan sang permaisuri yang tidak mempunyai beban berat. Prabu tidak keberataan bila permaisuri memang berkehendak masuk Islam.

Metode seperti ini digunakan pula oleh Sunan Kalijaga ketika berdakwah kepada Adipati Pandanarang di Semarang. Pada mulanya terjadi perdebatan seru, dan perdebatan itu berakhir dengan tunduknya Adipati untuk masuk Islam. Ia sangat terkesan dengan anjuran Sunan Kalijaga tentang peri kesopanan (akhlaq). Bahkan saking tertariknya dengan Sunan Kalijaga, maka dia rela mengorbankan pangkat dan keduniaan, harta dan keluarganya demi menuruti syarat-syarat yang diajukan Sunan Kalijaga agar dapat diteriama sebagai murid untuk berguru ilmu keislaman.

Lain halnya dengan Sunan Kudus. Beliau ini berdakwah dengan lembunya yang dihias istimewa. Diberitakan bahwa Sunan Kudus pernah mengikat seekor lembu di halaman masjid, sehingga masyarakat yang ketika itu masih memeluk agama Hindu datang berduyun-duyun menyaksikan lembu yang diperlakukan istimewa itu. Setelah mereka datang berkerumun di sekitar masjid, Sunan Kudus lalu menyampaikan dakwahnya. Cara ini sangat praktis dan strategis. Seperti diketahui, lembu merupakan binatang ke ramat bagi umat Hidu. Menyaksikan bahwa lembu tidak dihinakan oleh Sunan Kudus,

terbitlah niat dan simpati masyarakat penganut Hindu. Berangkat dari titik perhatian inilah masyarakat kemudian berhasil diislamkan.

Metode tadarruj atau tarbiyatul ummah dipergunakan sebagai proses pengelompokan yang disesuaikan dengan tahap pendidikan ummat. Agar ajaran islam dapat dengan mudah dimengerti dan dilaksanakan oleh masyarakat secara merata. Maka tampaklah metode yang ditempuh walisongo didasarkan pada pokok pikiran ‘li kulli maqam maqat’, yakni memperhatikan bahwa setiap jenjang dan bakat ada tingkat, bidang materi dan kurikulumnya. Begitu pula saat menyampaikan ajaran fiqih yang ditujukan terutama bagi masyarakat awam dengan jalan pesantren dan melalui lembaga sosial.

Metode lembaga ssosial melalui pendidikan sosial atau usaha kemasyarakatan diupa yakan agar ajaran-ajaran islam bersiat praktis (mudah diterapkan) dapat menjadi tradisi yang memungkinkan terciptanya adat islami dan bersifat normatif. Dengan begitu diharapkan ajaran islam secara sadar atau tidak sadar masyarakaat telah menjalankan ajaran serta amalan yang islami, karena memang sudah menjadi adat istiadat. Misalnya, menjadikan masjid sebagai lembaga pendidikan, merayakan upacara kelahiran, pernikahan, kematian, khitanan, dll.

Sesuai karakter yang termuat di dalamnya, maka ilmu kalam atau tauhid disampaikan sebagai taklim (pengajaran) melaliu pesantren. Sedang penyampaiannya kepada masyarakat ditempuh melalui cerita-cerita wayang. Untuk keperluan itu, maka diciptakan lakon Dewa Ruci, Jimaat Kalima Sada, dan dikarang pula buku-buku bacaan umum, misalnya Kitab Ambiyo (kitab Al Anbiyaa), berisi kisah para nabi.

Selanjutnya ilmu tasawuf, yang oleh Sunan Bonang disebut sebagai ilmu suluk. Ilmu ini di sampaikan melalui wirid, yaitu pengajaran dengan wejangan, tertutup dan sangat ekslusif. Tempat dan waktunya ditentukan. Ilmu ini hanya disediakan untuk orang-orang tertentu yg sudah memiliki dasar yang diperlukan untuk laku tasawuf. Ketentuan ini di samping atas suatu kelaziman karena tasawuf merupakan ilmu lanjut yang dengan sendirinya menuntut suatu ilmu dasar, juga demi menjaga salah paham, salah pengertian dan salah penggunaan terhadap ilmu ini. Contoh masalah ini adalah ketika Raden Fatah menyatakaan keinginan untuk berguru kepada Sunan Ampel, maka Raden Fatah ditanya lebih dulu apakah sudah memiliki dasar. Dan karena ternyata Raden Fatah memilikinya, maka tidak diharuskan masuk pondok pesantren, tetapi langsung ditempatkan dalam kelompok wirid, Raden Fatah memang telah memiliki dasar ilmu yang dibawanya sejak dari Palembang.

Metode lainnya adalah kaderisasi dan penyebaran juru dakwah ke berbagai daerah. Tempat yang dituju adalah daerah-daerah yang sama sekali kosong penghuni atau kosong pengaruh islamnya. Sunan Kalijaga mengkader Kyai Gede Adipati Pandanarang untuk berhijrah ke Tembayat dan mengislamkan masyarakat di daerah tersebut dan sekitarnya, hingga kemudian Pandanarang dikenal sebagai Sunan Tembayat.

Sunan Kalijaga juga mengutus Ki Cakrajaya dari Purworejo dan setelah berhasil mengislamkan daerah tersebut, maka dianjurkan pindah ke daerah Lowanu, dan terus mengalami keberhasilan dalam penyebaran islam. Adaapun Sunan Ampel memerintahkan Raden Fatah berhijrah ke hutan Bintara, membuka hutan tersebut dan membuat kota baru, dan sekaligus mengimami masyarakat yang akan terbentuk nantinya. Ternyata Bintara ini berkembang hingga menjadi Demak, basis perjuangan Islam pada tahun-tahun berikutnya. Selain itu Sunan Ampel juga mengirim utusan (mubaligh) kepada raja-raja, misalnya Sayyid Ya’qub (Syaikh Wali Lanang) dikirim ke Blambangan untuk mengislamkan Prabu Satmudha. Sedang Khalifah Kusen (Husain) ke Madura untuk mengislamkan Arya Lembupeteng, dan lain-lain.

Mengamati metode dakwah walisongo ini berikut bukti-buktinya, maka tidak berlebihan bila dikatakan, bahwa walisongo telah meneladani metode dakwah sebagaimana pernah dilakukan oleh rasulullah saw. Wallahu ‘alam.

Aliran Kebatinan

Kata kebatinan diambil dari kata bahasa Arab bathana, yang artinya batin atau dalam atau bagian dalam, yaitu lawan kata luar, atau bagian luar. Kata tersebut dipinjam oleh sebuah aliran yang menamakan dirinya Bathiniyah atau aliran kebatinan. Karena dalam melaksa nakan ritual keagamaan hanya cukup di batin saja, atau cukup eling (ingat) saja tanpa gerakan tertentu. Bila ditinjau dari berbagai aspek baik kitab sucinya, ajarannya, cara ibadahnya, kepercayaan, dan lain-lainnya , maka tampak jelas bahwa aliran kebatinan atau yang lebih dikenal kejawen atau islam abangan, bukanlah suatu agama dan bukan pula bagian dari agama Islam. Hanya saja namanya yang mendompleng kata-kata Islam. Dimana mereka menyebutnya dengan sebutan Islam abangan, Islam kejawen, Islam kebatinan, Islam murni, Islam Hak, Islam kuring (Sunda), dan lain-lainnya, yang pada umumnya dengan embel-embel islam. Namun justru ajarannya memojokkan Islam.

Aliran kebatinan tidak lebih hanyalah merupakan paguyuban atau organisasi yang terdiri atas beberapa manusia yang mengadopsi suatu kepercayaan yang bersifat ruhaniah dan meditasisme yg berujung untuk mendapatkan suatu ketenangan jiwa atau ketenangan batin, dari hasil embrio asimilasi akhlak berbagai ajaran agama, seperti Islam, Hindu, dan Budha. Jenis aliran kebatinan ini dikenal dengan sebutan aliran kepercayaan. Di masa sebelum perang kemerdekaan RI, jumlahnya sangat sedikit, namun mulai membengkak jumlahnya setelah Indonesia merdeka yaitu antara tahun 1950-1975M. Nama aliran inipun berbeda-beda, seperti: Ngelmu Sejati, Islam Murni, Islam Hak, Islam Kejawen, Agama Kuring, dll.

2. Da'wah Fardiah

Metode da'wah yang dilakukan seseorang kepada orang lain (satu orang) atau kepada beberapa orang dalam jumlah yang kecil dan terbatas. Biasanya da'wah fardiah terjadi tanpa persiapan yang matang dan tersusun secara tertib. Termasuk kategori da'wah seperti ini adalah: menasihati teman sekerja, teguran, anjuran memberi contoh. Termasuk dalam hal ini pada saat mengunjungi orang sakit, pada waktu ada acara tahniah (ucapan selamat), dan pada waktu upacara kelahiran (tasmiyah).

3. Da'wah Ammah

Merupakan jenis da'wah yang dilakukan oleh seseorang dengan media lisan yang ditujukan kepada orang banyak dengan maksud menanamkan pengaruh kepada mereka. Media yang dipakai biasanya berbentuk khitabah (pidato).

Da'wah Ammah ini kalau ditinjau dari segi subyeknya, ada yang dilakukan oleh perorangan dan ada yang dilakukan oleh organisasi tertentu yang berkecimpung dalam soal-doal da'wah.

Hidayah

Petunjuk Allah Swt kepada manusia mengenai keimanan dan keislaman. Dalam al-Qur'an tidak didapati kata hidayah tersebut. Kata hidayah merupakan bentuk masdar (infinitif) dari kata kerja hada (telah menunjuki atau membimbing) dan yahdi (akan atau sedang menunjuki atau membimbing), yang sangat banyak dalam al-Qur'an. Selain itu pengertian petunjuk atau bimbingan yang terkandung dalam kata hidayah itu persis sama dengan kata al-huda, yang amat banyak kita jumpai dalam al-Quranul karim.

Pengertian hidayah yang terkandung dalam kata hada, yahdi dan al-huda itu pada umumnya mengacu kepada bimbingan atau petunjuk bagi manusia kepada jalan yang lurus (as-sirath-al-mustaqim), yang baik (at-thayyib) yang benar (al-haq), atau jalan yang terpuji (as-sirat al-hamid).

Hidayah itu diberikan oleh Allah kepada manusia supaya manusia mengikutinya dengan baik, agar mereka berhasil memperoleh apa yang mereka butuhkan di dunia ini dengan cara yang baik, benar, lurus, atau terpuji, sehigga mereka berbahagia dunia dan akhirat. Tugas muballigh dalam hal ini adalah memberikan penerangan kepada ummat manusia agar mereka dapat memperoleh hidayat dari Allah Swt.

4. Da'wah bil-Lisan

Dakwah jenis ini adalah penyampaian informasi atau pesan da'wah melalui lisan (ceramah atau komunikasi langsung antara subyek dan obyek da'wah). Da'wah jenis ini akan menjadi efektif bila: disampaikan berkaitan dengan hari ibadah seperti khutbah Jum'at atau khutbah hari Raya, kajian yang disampaikan menyangkut ibadah praktis, konteks sajian terprogram, disampaikan dengan metode dialog dengan hadirin.

5. Dakwah bil-Haal

Da'wah bil al-Hal adalah da'wah yang mengedepankan perbuatan nyata. Hal ini dimaksudkan agar si penerima da'wah (al-Mad'ulah) mengikuti jejak dan hal ikhwal si da'i (juru da'wah). Da'wah jenis ini mempunyai pengaruh yang besar pada diri penerima da'wah.

Pada saat pertama kali Rasulullah Saw batu tiba di kota Madinah beliau mencontohkan dakwah bil al hal ini dengan mendirikan masjid Quba, dan mempersatukan kaum anshor dan kaum muhajirin dalam ikatan ukhuwah Islamiyah.

6. Da'wah bit-Tadwin

Memasuki zaman global seperti saat sekarang ini pola da'wah bit at-Tadwin( da'wah melalui tulisan) baik dengan menerbitkan kitab-kitab, buku, majalah, internet, koran, dan tulisan-tulisan yang mengandung pesan da'wah sangat penting dan efektif.

Keuntungan lain dari da'wah model ini tidak menjadi musnah meskipun sang dai, atau penulisnya sudah wafat. Menyangkut da'wah bit-Tadwim ini Rasulullah saw bersabda," Sesungguhnya tinta para ulama adalah lebih baik dari darahnya para syuhada."

7. Da'wah bil Hikmah

Yakni menyampaikan da'wah dengan cara yang arif bijaksana, yaitu melakukan pendekatan sedemikian rupa sehingga pihak obyek da'wah mampu melaksanakan da'wah atas kemauannya sendiri, tidak merasa ada paksaan, tekanan maupun konflik. Dengan kata lain da'wah bi al-hikmah merupakan suatu metode pendekatan komunikasi da'wah yang dilakukan atas dasar persuasif.

Dalam kitab al-Hikmah fi al Da'wah Ilallah ta'ala oleh Said bin Ali bin wahif al-Qathani diuraikan lebih jelas tentang pengertian al-Hikmah, antara lain: Menurut bahasa; adil, ilmu, sabar, kenabian,al-Qur'an dan Injil; memperbaiki (membuat manjadi lebih baik atau pas) dan terhindar dari kerusakan; ungkapan untuk mengetahui sesuatu yang utama dengan ilmu yang utama; obyek kebenaran(al-haq) yang didapat melalui ilmu dan akal; pengetahuan atau ma'rifat. Menurut istilah Syar'i; valid dalam perkataan dan perbuatan, mengetahui yang benar dan mengamalkannya, wara' dalam Dinullah, meletakkan sesuatu pada tempatnya dan menjawab dengan tegas dan tepat.

8. Metode Dakwah Rasulullah Saw

Rasulullah Saw. à Tauladan dalam Dakwah

Menciptakan Perubahan

Masyarakat Kufur MAKKAH Masyarakat Islam MADINAH

~ Karakter Dakwah Rasulullah

1.TANPA KEKERASAN = Laa Maadiyah

2.Pemikiran (Fikriyah)

1. Pemikiran Aqidah
2. Ide-ide Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, Hukum, Pendidikan, dll.

Merubah: Pemikiran & Perasaan Umat

Tdk Islami à Islami

3. Politik (Siyasah)

Mengaplikasikan Islam scr kaffah di Masyarakat oleh Negara/Daulah lslamiyah

Aktivitas Politik :

1. Membina masyarakat dengan Islam (Aqidah dan Syariah).
2. Pergolakan pemikiran à Kritik dan penentangan terhadap ide-ide kufur (Demokrasi, Nasionalisme, dll).
3. Membongkar rencana jahat negara kafir Penjajah.
4. Mengkritik dan mengoreksi penguasa yang tidak menerapkan Islam.

4. Thalabun Nushrah : Meminta dukungan dari fihak-fihak yang memiliki kekuasaan riil dalam masyarakat

* Perlindungan dakwah
* Perantara untuk mencapai kekuasaan


Kunci Perubahan Masyarakat

1. Terdapat Jamaah Dakwah
2. Terdapat ide Islam yang jelas dan komprehensip
3. Terdapat kader dakwah yang tangguh
4. Kesadaran masyarakat
5. Mendapatkan dukungan pemilik kekuasaan melalui aktivitas Thalabun Nushrah


Setiap Muslim wajib berdakwah bersama sebuah Jamaah (Partai) yang memiliki ide-ide Islam secara menyeluruh; berjuang dengan aktivitas politik, tanpa kekerasan, untuk mewujudkan kehidupan Islam (penerapan Islam secara total), melalui tegaknya Khilafah Islamiyah.

9. Dakwah Bil-Qolam

Suatu metode dakwah yang lebih efektif, efisien, dan mengena. Metode yang tetap meninggalkan gading ketika si penulis telah wafat. Dapat dinikmati semua manusia di berbagai penjuru. Mudah dimengerti.

Dakwah amr bi alma'ruf wa nahyi an al mungkar adalah kewajiban setap muslim. Mengenai cara atau metode berdakwah diserahkan kepada masing-masing individu, sesuai dengan keadaan lingkungan masyarakatnya. Dengan catatan tidak keluar dari tuntunan syariat dan nilai-nilai agama. Dakwah juga harus efektif, mengena kepada obyek yang di dakwahi. Dalam hal ini Allah SWT berfirman: "Serulah manusia kepada jalan tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat di jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS An Nahl: 125)

Ayat diatas membagi dakwah dalam tiga metode; pertama, dengan hikmah. Hikmah ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dan yang batil (Al Quran, Khadim al Haramain Asy Syarifain). Para ulama mengategorikan metode dakwah ini (bilhikmah) diperuntukan bagi golongan intelektual yang awam terhadap agama. Dengan sentuhan-sentuhan yang dapat dicerna oleh pemahaman kelompok ini, dakwah dapat diterima.

Kedua, bilmau'izah hasanah (pelajaran yang baik). Cara berdakwah yang tepat bagi masyarakat awam dibawah tingkat para ahli pikir atau cendikiawan. Dan ketiga, dakwah malalui bantahan atau debat adu argumentasi dengan syarat menggunakan cara yang baik. Metode terakhir ini cara berdakwah bagi orang yang keras membantah dan menolak dengan ajakan (dakwah) kepada Islam. Meskipun dia mengetahui kebenaran Islam tapi dengan keras menolak ajakan (dakwah) kepada Islam, maka cara terbaik adalah mengadu argumentasi dan berusaha meyakinkan secara rasional.

Dari ketiga metode yang diwarkan dalam Al Quran tampaknya dakwah melalui tulisan (bilqolam) dapat masuk untuk ketiga segmen objek dakwah. Walaupun, jika kita lihat bahwa budaya membaca masih terbatas pada komunitas masyarakat yang intelektualnya "cukup mapan". Hal yang berbeda dengan mendengar (ceramah). Bedakwah melalui media tulisan sangat besar pengaruhnya dan memungkinkan golongan orang yang terpelajar atau bukan akan dapat merasakannya.

Sebagai gambaran, ketika KH. Zainuddin MZ mengadakan pengajian di lapangan terbuka, maka yang dapat mendengarkan "hanya" dihadiri sekitar 10 ribu orang. Tetapi ketika seorang menuliskan ceramahnyan tersebut di buku, koran atau media lainya, maka pengajian tersebut bisa dinikmati oleh umat di seluruh pelosok negeri yang jumlahnya berlipat-lipat dari yang hadir di lapangan tadi. Di sisi lain, sebuah tulisan tidak akan punah dan lekang dari laju zaman dan waktu. Bahkan dengan tulisan seseorang akan dikenang jasanya, diamalkan filsafahnya yang semua itu menjadi amal jariah tiada henti meski telah meninggal dunia sekalipun.

Yusuf Qardhawi pernah mengatakan: "dahulu di Eropa dibebaskan dengan pedang, tapi kini insya Allah akan dibebaskan melalui pena (qolam)" bahkan puluhan tahun yang lalu KH. Imam Zarkasyi menyatakan:" andai kata murid saya tinggal seorangpun meski tetap akan saya ajar sampai tamat. Kalau tidak ada maka saya akan mengajar dengan pena." Pada kenyataanya, obsesi dari dua ulama besar tersebut mempunyai andil yang besar dalam islamisasi masyarakat.

Di negara-negara Barat (eropa dan amerika) pertumbuhan Islam cukup signifikan. Hal ini selain usaha para ulama berdakwah secara langsung, peran buku, majalah, internet, dan media tulis lain sangat berperan. Cerita-cerita mengenai seseorang yang "hanya" membaca terjemah Al-Quran dengan bahasa Inggris kemudian masuk Islam menjadi fenomena tersendiri bagi urgennya dakwah bilqolam. Salah seorang yang terkenal adalah Dr. Maurice Bucaile, seorang ahli bedah berkebangsaan Prancis dengan studinya mengenai perbandingan Bible (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) dan Al -Quran serta Sains Modern (La Bibble Le Qoran et La Sience). Sementara obsesi KH. Imam Zarkayi nampaknya terealisasi dalam dua bentuk, santri di Pondok Modern kini bertambah banyak dan buku-buku karyanya kini juga tetap terpakai.

Tetapi melihat kenyataan yang ada, dari segi kualitas maupun kuantitas, umat Islam masih jauh tertinggal dari orang-orang Barat atau non Islam dalam penguasaan dunia informasi dan tehnik. Hal ini tentunya faktor yang mempengaruhi syi'ar agama melalui media tulisan yang mengakibatkan kurang berkembangnya dan kalah bersaing dengan pengaruh musuh-musuh islam. Di sinilah timbul ghozwul fikr, suatu perang pemikiran atau peradaban. Tentunya timbulnya strategi pengikisan aqidah dan syariat Islam melalui cara non fisik ini mempunyai latar belakang yang kuat.

Ghozwul fikr dimulai ketika kaum Salib dikalahkan dalam sembilan kali peperangan besar, mereka kalah letak oleh kaum muslimin (Abu Syauqi Lc: 2001). Kemenangan muslim sangat spektakuler karena semua peperangan yang terjadi di luar perkiraan akal manusia. Misalnya, pasukan Khalid bin Walid pernah memimpin perang dengan jumlah tentaranya sekitar 3000 pasukan, sedangkan pasukan Romawi yang dihadapinya berjumlah 100.000 pasukan. Hampir 1 banding 35, dan kaum muslimin memenangkan pertempuran itu. Peran-perang yang lain juga demikian. Akhinya dunia Barat berfikir, dan strategi barupun digelar. Apabila umat Islam telah mengambil strategi dengan ghoswul fikr via tulisan yang terasa besar pengaruhnya, maka umat Islam hendaknya mulai menyadari urgensi dakwah bilqolam ini.

Sebenarnya AlQuran pada ayat pertama diturunkan, Allah SWT menyuruh umat Islam untuk membaca (iqra' bismi robbika aladzi kholaq). "membaca" di sini menurut para mufassir juga diartikan membaca alam dan lingkungan. Sejauh ini, keterbelakangan umat Islam, salah satunya tidak adanya budaya membaca dan menulis. Berhubung dengan penguasa teknologi dan organisasi oleh dunia barat, lengkaplah kakurangan umat Islam. Kedua faktor yang terdapat dalam kalangan muslim akan menjadi sulit untuk menfilter arus informasi atau pengaruh dari media massa yang merugikan nilai-nilai keislaman. Hingga ketika pengaruh yang miskin nilai-nilai keislaman meluas, umat menjadi reaksioner sampai melakukan hal ekstrim. Kasus yang sempat mencuat beberapa waktu lalu, sweeping buku-buku "kiri". Tepat apa yang dikatakan Helvy Tiana Rosa, bahwa perlawanan dengan membakar buku dan semisalnya justru membuat umat menjadi bodoh, buta dengan apa yang selama ini dimusuhi (an-naasu aduwwun ma jahluhu). Bagaimana akan memusuhi dan membasmi suatu paham jika tidak tahu dengan membaca? Maka, itu semua harus dilawan dengan tulisan lagi.

Maka dapat diambil kesimpulan, dakwah bilqolam mempunyai urgensi dalam dua hal; syi'ar agama sebagai dakwah yang dibebankan setiap individu dan menjawab tantangan dari musuh-musuh Islam (ghazwul fikr). Akhirnya, mari kita renungi firman Allah SWT: Katakanlah apakah sama antara orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu.” (QS. Az-Zumar: 9).

10. Metode Dakwah menurut Muthahhari

Lebih jauh, berikut ini akan disajikan mengenai metode dakwah menurut pandangan Muthahhari.

Pertama, dakwah tidak diperbolehkan melalui usaha-usaha yang menipu dan cara-cara yang keliru. Seperti dikemukakan oleh Muthahhari, bahwa Islam sama sekali tidak dapat berdamai dengan kesalahan, dan Islam dengan alasan apapun tidak membolehkan untuk menggunakan jalan kebohongan untuk mencapai kebenaran.

Dengan mengutip pandangan dari Haji Mirza Husain Nuri, guru dari Almarhum Haji Syaikh ‘Abbas Qumi, Muthahhari menyebutkan dua kesalahan yang sering dilupakan oleh para da’i:

1. Mereka tidak berkata benar, dengan mengatakan jika mereka menyebutkan sebuah hadits lemah yang kemudian terbukti palsu, maka hal itu dianggap tidak akan menjadi masalah karena tujuan mereka lebih penting.
2. Mereka yakin bahwa tujuan mereka adalah untuk mendorong orang untuk menangisi Imam Husain; dan karenanya dianggap sebagai tujuan yang luhur.

Mengenai poin pertama, Muthahhari mengatakan bahwa Islam secara tegas melarang penggunaan kebohongan di bawah kondisi apa pun, sekalipun untuk menyiarkan agama.

Sehubungan dengan poin kedua, Muthahhari pun mengajukan kritik khususnya terhadap para da’i syi’i yang lebih menekankan untuk menangisi Imam Husain meskipun dengan cara-cara yang salah. Berkenaan dengan hal tersebut, Muthahhari mengutip contoh yang dibawakan oleh Haji Mirza Husain Nuri. Yakni kisah tentang sarjana dari kelompok Yazdi yang sedang dalam perjalanan melewati padang pasir untuk mengunjungi tempat suci Imam Ridha As di Masyhad. Karena perjalanan ini terjadi di bulan Muharram dan malam Asyura, ia sangat kecewa karena takut tidak sampai ke Masyhad agar ia dapat menghadiri upacara perkabungan untuk Imam Husain As. Karena tidak ada pilihan lain, ia memutuskan untuk tinggal di sebuah desa dan menghadiri upacara berkabung di sana.

Seorang khatib naik ke mimbar dan orang-orang yang hadir di masjid membekalinya dengan sekantung batu. Sang khatib kaget ketika tak seorang pun yang menangis selama khutbah. Lalu si khatib mematikan lampu dan mulai melemparkan batu-batu itu kepada orang-orang yang hadir. Orang-orang mulai menangis dan berteriak. Setelah upacara selesai, cendekiawan Yazdi bertanya kepada khatib, mengapa ia melakukan kejahatan seperti itu. Ia menjawab, “Ini adalah satu-satunya cara untuk membuat orang-orang itu menangisi Imam Husain As, dan saya harus menggunakan cara apa pun yang mungkin untuk dapat membuat mereka menangis”. Cendekiawan itu mengatakan bahwa sang khatib tersebut salah dan mengatakan bahwa kesyahidan Imam Husain memiliki cerita yang cukup menyedihkan hati untuk membuat orang-orang itu mencucurkan air mata, jika memang mereka benar-benar cinta dan pengikut setia Imam Husain. Tetapi jika orang-orang itu tidak mengetahui siapa Imam Husain, mereka tidak akan menangis bahkan untuk ratusan tahun mendatang.

Dari kisah yang dikutip Muthahhari di atas, beliau sesungguhnya hendak mengatakan bahwa tujuan utama para da’i adalah bukan membuat orang-orang untuk menangisi Imam Husain, melainkan memberikan pengajaran mengenai kepribadian dan keteladanan dari Imam Husain. Setelah mereka mengenalnya, maka dengan sendirinya mereka tidak usah dipaksa untuk menangisi Imam Husain karena mereka akan menyelaminya sendiri berdasarkan pengajaran-pengajaran yang telah diberikan.

Kedua, berdakwah harus dimaksudkan untuk “melapangkan dada seseorang”, yaitu meningkatkan kapasitas iman dalam hatinya. Terkadang penyampaian perintah melalui penjelasan-penjelasan yang nyata tidaklah cukup; seorang da’i harus juga mempengaruhi akal dengan menyampaikan pesan-pesan itu secara benar. Apa yang disampaikan kepada mata dan telinga tidak selalu diterima oleh kesadaran dan pengetahuan. Apa yang mengubah pesan menjadi kesadaran bukanlah suara ataupun bentuk dari simbol-simbol tulisan, namun sesuatu yang disebut dengan nalar dan logika. Pengetahuan tidak menerima selain nalar dan logika. Muthahhari lalu mengutip ayat al-Qur’an surat an-Nahl [16]:125:

اُدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ.

Artinya: “Serulah manusia menuju jalan Tuhanmu dengan hikmat (pengetahuan), pengajaran yang baik, dan ajaklah mereka berdebat dengan cara-cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui siapa saja yang telah sesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui siapa saja yang diberikan petunjuk”.

Ayat di atas dikutip oleh Muthahhari untuk menunjukkan bahwa al-Qur’an pun telah menggariskan metode dakwah yang relevan, yang salah satunya melalui metode hikmat, yaitu pengetahuan yang berbasis kepada nalar dan logika.

Ketiga, dakwah mesti disampaikan dengan menggunakan kata-kata yang mudah dipahami yang dapat meresap ke dalam hati dan jiwa manusia yang paling dalam. Muthahhari menegaskan, bahwa di dalam menyampaikan pesan-pesan Ilahi seorang Nabi sangat berbeda dengan seorang filosof. Seorang filosof, bagaimanapun pun beratnya ia berupaya, hanya dapat mempengaruhi pikiran manusia saja. Dan itu pun hanya untuk kalangan tertentu. Selain itu, dalam menyampaikan gagasannya seorang filosof perlu menggunakan terminologi khusus dengan ratusan frase dan istilah yang sulit untuk dipahami secara sekilas. Sebenarnya mereka melakukan hal demikian karena ketidakmampuan mereka dalam mengungkapkan secara sederhana. Di sisi lain, para nabi tidak memerlukan ungkapan terminologi yang demikian. Mereka mengungkapkan seluruh gagasannya dalam kata-kata yang sangat jelas dan mudah dipahami. Apa yang telah dikatakan dalam fraseologi filosofis yang membingungkan mengenai masalah Keesaan Tuhan, diungkapkan oleh para Rasul dalam dua kalimat sederhana, mudah dipahami, dan meresap ke dalam hati siapa saja yang mendengarnya.

Artinya: “Dia-lah Allah Yang Maha Esa, Allah Maha Utuh. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia” (QS. Al-Ikhlas [114]:1-4).

Pada ayat di atas, prinsip filosofis mengenai keesaan Allah diungkapkan dalam kata-kata yang sederhana dan sangat mudah dipahami.

Selanjutnya Muthahhari menekankan, bahwa hanya seorang da’i yang pesan-pesannya disampaikan dengan menggunakan kata-kata yang benar dan kuat, namun sederhana dan memberi penerangan yang akan berhasil dalam menyeru manusia kepada Allah. Khutbah Imam Ali, misalnya, yang amat fasih, masih dapat dimengerti oleh orang awam dan orang yang hadir dapat menarik manfaat dari khutbah-khutbah ini berdasarkan tingkat pemahaman mereka masing-masing.

Keempat, dakwah harus mengandung kabar gembira dan peringatan. Hal ini terkait dengan karakteristik utama kenabian sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, sebagaimana yang termaktub dalam ayat al-Qur’an yang artinya:

“Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan, dan untuk menjadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang mukmin bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah (QS. Al-Ahzâb [33]:45-47).

Muthahhari menjelaskan bahwa membawa berita gembira adalah sesuatu yang membesarkan hati. Ketika seseorang hendak mengajak anak-anaknya untuk mengerjakan sesuatu, ada dua cara untuk melakukannya, apakah dengan memakai kabar gembira atau dengan memberikan peringatan, atau keduanya pada waktu yang bersamaan, sama-sama akan membawa keberhasilan.

1. Membesarkan hati dengan berita gembira. Sebagai contoh, jika seseorang ingin mengirim anaknya ke sekolah, ia akan bercerita tentang segala sesuatu yang menarik tentang sekolah dan manfaat yang akan ia peroleh dari sekolah itu. Cerita ini akan membesarkan hati si anak dan mendorong perasaan dan cintanya terhadap sekolah.

2. Memberi peringatan tentang akibat buruk. Seorang anak yang telah diterangkan tentang akibat buruk tidak bersekolah dan tetap buta huruf, akan lebih senang pergi ke sekolah daripada tidak.

Membesarkan hati dan membawa kabar gembira harus selalu diutamakan dan peringatan mengikutinya sebagai pendorong. Kadang-kadang kedua metode tersebut dipergunakan karena keduanya diperlukan dan terkadang berita gembira saja tidak mencukupi. Membawa berita gembira sangat diperlukan, tetapi bukanlah metode yang cukup. Hal ini berlaku pula dalam memberi peringatan. Alasan mengapa al-Qur’an disebut sebagai Sab’u al-Matsani, adalah karena al-Qur’an menggunakan secara selaras antara berita gembira dan peringatan.

Demikian pula dalam berdakwah, seperti disebutkan oleh Muthahhari, dua metode ini seharusnya dipergunakan hingga yang satu menjadi pelengkap bagi yang lainnya. Sangat salah apabila hanya menekankan pada kabar gembira saja dan melupakan peringatan. Keduanya harus dipergunakan, meskipun lebih banyak “kabar gembira” yang diberikan dan lebi sedikit “peringatan”. Karena itulah, dalam kitab suci al-Qur’an kata “membawa kabar gembira” selalu mendahului “memberi peringatan” dalam banyak ayat-ayatnya.

Itulah pembahasan mengenai metode dakwah yang digagas oleh Muthahhari. Metode-metode dakwah yang telah dijelaskan di atas terlihat sangat spektakuler sebagai sebuah metode dakwah yang original, sangat mendasar, dan aplikatif sebagai sebuah metode ideal dalam kegiatan dakwah di masa kini. Ide-ide mengenai dakwah Muthahhari di atas adalah sebuah jawaban dan harapan yang cerah untuk perkembangan ilmu dakwah, dan untuk memajukan masyarakat Islam yang memang sedang membutuhkan pemikiran cemerlang untuk kembali membangun peradaban dunia.

METODE DAKWAH AL QUR’AN

Bahasa Al Quran

Al Quran sebagai kitab petunjuk bagi seluruh manusia di sepanjang zaman. Luas bumi dan panjangnya masa diliputi oleh  cahaya matahari sedangkan cahaya petunjuk Al Quran bersinar selama kehidupan manusia berlangsung.  Allah swt dalam menjelaskan ruang lingkup risalah Nabi saw berfirman:”Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada Mengetahui”. Surat Saba` ,ayat 28. Dengan demikian risalah beliau saww dan Al Quran, ialah mendunia dan abadi. Umat beliau mencakup seluruh manusia, tidak terbatas pada kelompok tertentu.  Dalam surat Al Furqaan, ayat 1 dikatakan:   ”Maha Suci Allah yang Telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam”. Kitab yang merupakan petunjuk bagi seluruh umat manusia mempunyai dua kriteria:
  1. Al Quran berbicara dengan bahasa dunia supaya dapat difahami oleh semua orang  dan tidak ada jalan  bagi mereka untuk beralasan bahwa bahasa Al Quran ialah tidak benar dan literaturnya asing bagi  mereka.
  2. Kandungan Al Quran berguna untuk semua orang laksana air yang merupakan unsur penyebab kehidupan segala makhluk hidup di sepanjang masa.

Fitrah sebagai bahasa dunia

Dalam bab ini, pembahasan masih terkait dengan kriteria pertama     Al Quran. Berkenaan dengan pemahaman terhadap ilmu-ilmu Qurani, ia tidak bergantung pada kultur tertentu sehingga tanpanya, sampai kepada rahasia-rahasia Al Quran menjadi absurd.  Kultur juga bukan sebagai penghalang manusia untuk memahami pesan-pesan pentingnya. Dengan demikian satu-satunya bahasa sebagai faktor   keteraturan alam manusia ialah bahasa fitrah. Bahasa fitrah ialah kultur umum bagi semua orang di segala waktu. Setiap orang yang memahami fitrah, akan menggunakannya sehingga ia tidak bisa beralasan dengan mengatakan bahwa bahasa fitrah adalah aneh. Dalam surat Ar Ruum, ayat 30, dikatan:”  Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. Kosakata dan literatur bukan merupakan maksud dari bahasa Al Quran dalam kajian ini. Sebab, jelas bahwa selain orang-orang arab tidak mengenal bahasa Al Quran sebelum mempelajari bahasa dan literaturnya. Berbicara dengan bahasa umum fitrah, ialah maksud dari bahasa      Al Quran disini.  Manusia berbeda-beda dari sisi bahasa, literatur, budaya-budaya kesukuan dan iklim daerah akan tetapi dari sisi fitrah, mereka mempunyai kesamaan. Dengan bahasa fitrah inilah, Al Quran berbicara dengan manusia. Oleh karenanya bahasa fitrah sebagai bahasa yang dapat difahami oleh semua orang. Rasulullah saww diutus untuk seluruh suku  maupun kelompok  manusia dan berbicara dengan bahasa fitrah sehingga dimengerti oleh berbagai macam sahabat seperti Salman Al Farisi, Shuhaib Ar Ruumi, Bilal Al Habsyi, Uwais Al Qarni, Ammar dan Abu Dzar Al Hijazi. Dalam kitab Bihar Al Anwar, jilid 16, halaman 323 Rasulullah bersabda: Aku diutus untuk orang-orang yang berkulit putih, hitam dan merah. Beragamnya bahasa, suku, iklim, adab, tradisi serta aneka ragam faktor eksternal lainnya berada dalam naungan kesatuan fitrah manusia ini. Di dalam surat An Nahl, ayat 89, Allah swt berfirman:” Dan kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur`an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”. Perkataan Al Qur`an dengan bahasa fitrah manusia dan difahaminya bahasa fitrah tersebut oleh semua orang, tidak berarti sama kadar pemahaman orang-orang terhadap Al Qur`an. Ilmu-Ilmu Al Qur`an memiliki banyak tingkatan dan setiap tingkatannya hanya dapat difahami oleh kelompok tertentu. Dalam kitab Bihar Al Anwar, jilid 75, halaman 278 dikatakan: Al Qur`an mempunyai empat sesuatu, yang pertama ialah penjelasan ( untuk kelompok awam), yang kedua, adalah isyarat ( untuk kelompok alim ), yang ketiga, ialah point-point penting ( untuk para wali ), yang keempat, adalah hakikat ( untuk para Nabi ).  Setiap orang memahami Al Qur`an sesuai dengan potensi dan kapasitasnya, adapun tingkatan  “Al Maknun” khusus untuk Rasulullah saw dan para Ahlul baitnya.  Meskipun Al Qur`an sebagai kitab yang internasional dan abadi, namun tidak semua orang mendapatkan hidayah untuk memanfaatkanya. Dosa, penyelewengan, keatheisan dan taklid batil kepada orang-orang dahulu, merupakan tirai penutup hati manusia dan sebagai penghalang manusia untuk merenung atas rahasia-rahasia Al Qur`an. Allah swt berfirman dalam surat Muhammad, ayat 24:” Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur`an ataukah hati mereka terkunci”. Hati yang tertutup tidak dapat ditembus oleh ilmu-ilmu Al Qur`an, adapun bagi mereka yang menjaga fitrahnya dari noda-noda dosa seperti sahabat yang bernama Shuhaib yang datang dari Roma, Salman Al Farisi yang datang dari Persia, Bilal yang datang dari Habasyah serta Ammar dan Abu Dzar yang datang dari Hijaz, mereka dapat memasuki ilmu-ilmu Al Qur`an. Sebab fitrah yang terjaga sebagai salah satu dari modal yang diperlukan untuk memanfaatkan  Al Qur`an. Walaupun seorang ilmuan matrealisme tatkala fitrah Tauhidinya terjaga dari penyimpangan, maka ia dapat menerima hidayah Al Qur`an. Sebab tirai keatheisan telah memadamkan cahaya fitrahnya sehingga ia tidak akan merenung tentang kebesaran Al Qur`an karena image bahwa Al Qur`an merupakan dongeng yang di buat-buat. Al Qur`an dapat difahami oleh semua orang dengan syarat bahwa mereka telah mengenal qaedah-qaedah bahasa arab dan ilmu-ilmu yang mendasari pemahaman terhadap Al Qur`an.

Metode penyampaian

Allah swt menjelaskan bahwa risalah Nabi saww dimulai dari pembacaan ayat kepada masyarakat, kemudian mengajarkan hikmah-hikmahnya dan pembenahan diri. Risalah tersebut merupakan tanggung jawab para Nabi untuk mengajak umat manusia kepada Tauhid. Dalam surat Al Jum`ah, ayat 2 di katakan:” Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah”. Allah swt telah mengajarkan pelbagai metode dakwah kepada Rasulullah dan rahasia dari metode dakwah yang beraneka ragam ini dikarenakan adanya perbedaan dan tingkatan pada intelektual quality (IQ) manusia sehingga daya pemahaman mereka tidak sama, meskipun fitrah mereka sama. Obyek Quran yang berbeda-beda ini menuntut metode dakwah yang variatif sehingga orang yang mempunyai IQ tinggi, tidak merasa sombong dan tetap memerlukan pesan-pesan wahyu dan sebaliknya bagi orang yang memiliki IQ rendah juga dapat menjangkau pesan-pesan wahyu tersebut.  Oleh karena itu, Al Quran di samping menunjukkan metode dakwahnya  dengan bentuk hikmah, nasehat yang baik serta sanggahan yang bagus, ia juga menunjukkannya dalam bentuk perumpamaan, supaya dapat dijangkau oleh orang awam sekaligus menjadi penekanan untuk orang alim yang pada intinya dapat diserap oleh semuanya. Jalan hikmah, nasehat baik, serta sanggahan yang bagus dari satu sisi dan perumpamaan serta cerita-cerita dari sisi lain merupakan  metode yang komprehensif dalam dakwah dan hal ini sebagai karakteristik Al Quran yang tidak ditemukan dalam    kitab-kitab lainnya. Di samping Al Quran menggunakan premis tertentu untuk menguatkan bukti-bukti atas klaimnya, ia juga menggunakan perumpamaan agar difahami dengan mudah. Dalam surat Az Zumar, ayat 27 Allah swt berfirman:” Sesungguhnya Telah kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran Ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran”. Untuk lebih jelasnya, kita perhatikan Burhan Tamaanu`(bukti kontradiksi) yang dijelaskan dengan Qiyas Istitsna`i dalam Al Quran. Sesuai logika Aristotelian Qiyas ini tersusun dari dua unsur muqaddam dan tali.  Proposisi  kondisional serta susunan Muqaddam dan Talinya berada dalam surat Al An biyaa`,ayat 22, yang berbunyi:“ Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu Telah rusak. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai 'Arsy dari pada apa yang mereka sifatkan”. Proposisi predikatif dan gugurnya Tali tercantum dalam surat Al Mulk, ayat 3 yang berbunyi:“ Yang Telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka Lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? surat Al Mulk, ayat 4 yang berbunyi : Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah”.
Penjelasan tentang argumen tamanu` diatas ialah, Tuhan yang berbilang merupakan faktor rusaknya tatanan yang terdapat di langit maupun di bumi. Tetapi tidak kita saksikan adanya gesekan maupun kekacauan pada tatanan alam ini, sebaliknya tatanan yang terdapat di langit maupun muka bumi berjalan tertib sesuai dengan tugas masing-masing. Dengan demikian gugurlah klaim tentang Tuhan berbilang tersebut. argumen Tamanu` ini juga dikemas dalam perumpamaan dengan penjelasan bahwa apakah seorang budak yang memiliki beberapa tuan yang berbeda kehendak dan kepentingan  sama dengan seorang budak yang hanya mempunyai satu tuan yang bijaksana?   Artinya, budak pertama bekerja dengan tidak teratur karena perintah yang berbeda-beda, namun lain hal nya dengan budak kedua, ia bekerja dengan teratur atas satu perintah. Perumpamaan ini terdapat pada surat Az Zumar, ayat 29 yang berbunyi:“ Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak Mengetahui”.

Perbedaan Al Quran dengan Buku ilmiah

  1. Sebagaimana yang telah disebutkan bahwa Al Quran memiliki metode khusus dalam menyampaikan ilmu-ilmu Ilahi. Sekarang kita amati tentang hal yang membedakan antara Al Quran dengan buku-buku ilmiah dari aspek penyampaian.  Allah swt dalam menguraikan risalah Nabi terkadang dengan metode pembacaan ayat kepada manusia, pengajaran hikmah dan pembenahan diri. Terkadang pula dengan  cahaya petunjukNya, mengangkat manusia dari  kebodohan dan kesesatan. Al Quran sebagai bekal Rasul dalam mengemban tugas risalah dan dalam membimbing serta membenahi diri umat.  Atas dasar ini,         Al Quran berbeda dengan buku ilmiah yang hanya menjelaskan kajian-kajian ilmiah seperti pengetahuan dan eksperimen  tentang kosmos, atau pembahasan tentang ilmu Usul maupun Fiqih yang hanya menguraikan metode serta dasar-dasar pengambilan hukum. Adapun metodologi Al Quran sebagai berikut:
1)    Menggunakan perumpamaan untuk memudahkan pemahaman pelik tentang ilmu-ilmu transendental
       Ilahi. 
2)    Menggunakan sanggahan yang baik dalam berdebat dengan orang-orang yang besikeras menentang
       pokok agama.
3)    Mengkombinasikan ilmu dan hukum dengan nasehat dan akhlak, pengajaran hikmah dengan bimbingan
       dan pembenahan diri.
4)    Menjustifikasikan persepsi yang dinukil dari yang lain secara akurat.
5)    Mengkaitkan permasalahan ontologi dengan teologi. Buku ilmiah mengungkap fenomena alam dan
       menguraikannya secara horizontal, adapun Al Quran sebagai cahaya petunjuk, mengungkap fenomena
       alam serta menjelaskannya secara vertikal (keterkaitan alam dengan ketuhanan dan hari kebangkitan) .
6)    Mengklasifikasikan pentas-pentas sejarah yang mengandung pelajaran dan mutiara kehidupan dalam
       menuturkan cerita-cerita.
7)    Pengulangan konteks dalam Al Quran,  diperlukan  sebagai penekanan dalam petunjuk, sebab Setan
       senantiasa menjauhkan manusia dari jalan Ilahi, sedangkan pengulangan konteks dalam buku ilmiah
       hanya akan mengurangi kualitas isinya.   

HADIS TENTANG PEMBAHASANNYA


PENDAHULUAN
  1. Pada awalnya Rasulullah saw melarang para sahabat menuliskan hadits, karena dikhawatirkan akan bercampur-baur penulisannya dengan Al-Qur’an.
  2. Perintah untuk menuliskan hadits yang pertama kali adalah oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz. Beliau menulis surat kepada gubernurnya di Madinah yaitu Abu bakar bin Muhammad bin Amr Hazm Al-Alshari untuk membukukan hadits.
  3. Ulama yang pertama kali mengumpulkan hadits adalah Ar-Rabi Bin Shabi dan Said bin Abi Arabah, akan tetapi pengumpulan hadits tersebut masih acak (tercampur antara yang shahih dengan, dha’if, dan perkataan para sahabat.
  4. Pada kurun ke-2 imam Malik menulis kitab Al-Muwatha di Madinah, di Makkah Hadits dikumpulkan oleh Abu Muhammad Abdul Malik Bin Ibnu Juraiz, di Syam oleh imam Al-Auza i, di Kuffah oleh Sufyan At-Tsauri, di Bashrah oleh Hammad Bin Salamah.
  5. Pada awal abad ke-3 hijriyah mulai dikarang kitab-kitab musnad, seperti musnad Na’im ibnu hammad.
  6. Pada pertengahan abad ke-3 hijriyah mulai dikarang kitab shahih Bukhari dan Muslim.
PEMBAHASAN Ilmu Hadits: ilmu yang membahas kaidah-kaidah untuk mengetahui kedudukan sanad dan matan, apakah diterima atau ditolak. Hadits: Apa-apa yang disandarkan kepada Rasulullah saw, berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, dan sifat (lahiriyah dan batiniyah). Sanad: Mata rantai perawi yang menghubungkannya ke matan. Matan: Perkataan-perkataan yang dinukil sampai ke akhir sanad. PEMBAGIAN HADITS Dilihat dari konsekuensi hukumnya:
  1. Hadits Maqbul (diterima): terdiri dari Hadits shahih dan Hadits Hasan
  2. Hadits Mardud (ditolak): yaitu Hadits dha’if
Penjelasan: HADITS SHAHIH: Yaitu Hadits yang memenuhi 5 syarat berikut ini:
  1. Sanadnya bersambung (telah mendengar/bertemu antara para perawi).
  2. Melalui penukilan dari perawi-perawi yang adil.Perawi yang adil adalah perawi yang muslim, baligh (dapat memahami perkataan dan menjawab pertanyaan), berakal, terhindar dari sebab-sebab kefasikan dan rusaknya kehormatan (contoh-contoh kefasikan dan rusaknya kehormatan adalah seperti melakukan kemaksiatan dan bid’ah, termasuk diantaranya merokok, mencukur jenggot, dan bermain musik).
  3. Tsiqah (yaitu hapalannya kuat).
  4. Tidak ada syadz. Syadz adalah seorang perawi yang tsiqah menyelisihi perawi yang lebih tsiqah darinya.
  5. Tidak ada illat atau kecacatan dalam Hadits
Hukum Hadits shahih: dapat diamalkan dan dijadikan hujjah. HADITS HASAN: Yaitu Hadits yang apabila perawi-perawinya yang hanya sampai pada tingkatan shaduq (tingkatannya berada di bawah tsiqah). Shaduq: tingkat kesalahannya 50: 50 atau di bawah 60% tingkat ke tsiqahannya. Shaduq bisa terjadi pada seorang perawi atau keseluruhan perawi pada rantai sanad. Para ulama dahulu meneliti tingkat ketsiqahan seorang perawi adalah dengan memberikan ujian, yaitu disuruh membawakan 100 hadits berikut sanad-sanadnya. Jika sang perawi mampu menyebutkan lebih dari 60 hadits (60%) dengan benar maka sang perawi dianggap tsiqah. Hukum Hadits Hasan: dapat diamalkan dan dijadikan hujjah.
HADITS HASAN SHAHIH Penyebutan istilah Hadits hasan shahih sering disebutkan oleh imam Tirmidzi. Hadits hasan shahih dapat dimaknai dengan 2 pengertian:
  • Imam Tirmidzi mengatakannya karena Hadits tersebut memiliki 2 rantai sanad/lebih. Sebagian sanad hasan dan sebagian lainnya shahih, maka jadilah dia Hadits hasan shahih.
  • Jika hanya ada 1 sanad, Hadits tersebut hasan menurut sebagian ulama dan shahih oleh ulama yang lainnya.
HADITS MUTTAFAQQUN ‘ALAIHI Yaitu Hadits yang sepakat dikeluarkan oleh imam Bukhari dan imam Muslim pada kitab shahih mereka masing-masing. TINGKATAN HADITS SHAHIH
  • Hadits muttafaqqun ‘alaihi
  • Hadits shahih yang dikeluarkan oleh imam Bukhari saja
  • Hadits shahih yang dikeluarkan oleh imam Muslim saja
  • Hadits yang sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim, serta tidak dicantumkan pada kitab-kitab shahih mereka.
  • Hadits yang sesuai dengan syarat Bukhari
  • Hadits yang sesuai dengan syarat Muslim
  • Hadits yang tidak sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim
Syarat Bukhari dan Muslim: perawi-perawi yang dipakai adalah perawi-perawi Bukhari dan Muslim dalam shahih mereka. HADITS DHA’IF Hadits yang tidak memenuhi salah satu/lebih syarat Hadits shahih dan Hasan. Hukum Hadits dha’if: tidak dapat diamalkan dan tidak boleh meriwayatkan Hadits dha’if kecuali dengan menyebutkan kedudukan Hadits tersebut. Hadits dha’if berbeda dengan hadits palsu atau hadits maudhu`. Hadits dha’if itu masih punya sanad kepada Rasulullah SAW, namun di beberapa rawi ada dha`f atau kelemahan. Kelemahan ini tidak terkait dengan pemalsuan hadits, tetapi lebih kepada sifat yang dimiliki seorang rawi dalam masalah dhabit atau al-`adalah. Mungkin sudah sering lupa atau ada akhlaqnya yang kurang etis di tengah masyarakatnya. Sama sekali tidak ada kaitan dengan upaya memalsukan atau mengarang hadits. Yang harus dibuang jauh-jauh adalah hadits maudhu`, hadits mungkar atau matruk. Dimana hadits itu sama sekali memang tidak punya sanad sama sekali kepada Rasulullah saw. Walau yang paling lemah sekalipun. Inilah yang harus dibuang jauh-jauh. Sedangkan kalau baru dha`if, tentu masih ada jalur sanadnya meski tidak kuat. Maka istilah yang digunakan adalah dha`if atau lemah. Meski lemah tapi masih ada jalur sanadnya. Karena itulah para ulama berbeda pendapat tentang penggunaan hadits dha`if, dimana sebagian membolehkan untuk fadha`ilul a`mal. Dan sebagian lagi memang tidak menerimanya. Namun menurut iman An-Nawawi dalam mukaddimahnya, bolehnya menggunakan hadits-hadits dha’if dalam fadailul a’mal sudah merupakan kesepakatan para ulama. Untuk tahap lanjut tentang ilmu hadits, silakan merujuk pada kitab “Mushthalahul Hadits” Buat kita orang-orang yang awam dengan ulumul hadits, tentu untuk mengetahui derajat suatu hadits bisa dengan bertanya kepada para ulama ahli hadits. Sebab merekalah yang punya kemampuan dan kapasitas dalam melakukan penelusuran sanad dan perawi suatu hadits serta menentukan derajatnya. Setiap hadits itu harus ada alur sanadnya dari perawi terakhir hingga kepada Rasulullah SAW. Para perawi hadits itu menerima hadits secara berjenjang, dari perawi di atasnya yang pertama sampai kepada yang perawi yang ke sekian hingga kepada Rasulullah SAW. Seorang ahli hadits akan melakukan penelusuran jalur periwayatan setiap hadits ini satu per satu, termasuk riwayat hidup para perawi itu pada semua level / tabaqathnya. Kalau ada cacat pada dirinya, baik dari sisi dhabit (hafalan) maupun `adalah-nya (sifat kepribadiannya), maka akan berpengaruh besar kepada nilai derajat hadits yang diriwayatkannya. Sebuah hadits yang selamat dari semua cacat pada semua jalur perawinya hingga ke Rasulullah SAW, dimana semua perawi itu lolos verifikasi dan dinyatakan sebagai perawi yang tisqah, maka hadits itu dikatakan sehat, atau istilah populernya shahih. Sedikit derajat di bawahnya disebut hadits hasan atau baik. Namun bila ada diantara perawinya yang punya cacat atau kelemahan, maka hadits yang sampai kepada kita melalui jalurnya akan dikatakan lemah atau dha`if. Para ulama mengatakan bila sebuah hadits lemah dari sisi periwayatannya namun masih tersambung kepada Rasulullah SAW, masih bisa dijadikan dalil untuk bidang fadhailul a`mal, atau keutamaan amal ibadah. Sedangkan bila sebuah hadits terputus periwayatannya dan tidak sampai jalurnya kepada Rasulullah SAW, maka hadits ini dikatakan putus atau munqathi`. Dan bisa saja hadits yang semacam ini memang sama sekali bukan dari Rasulullah SAW, sehingga bisa dikatakan hadits palsu atau maudhu`. Jenis hadits yang seperti ini sama sekali tidak boleh dijadikan dasar hukum dalam Islam. Untuk mengetahui apakah sebuah hadits itu termasuk shahih atau tidak, bisa dilihat dalam kitab susunan Imam Al-Bukhari yaitu shahih Bukhari atau Imam Muslim yaitu shahih muslim. Untuk hadits-hadits dha’if juga bisa dilihat pada kitab-kitab khusus yang disusun untuk membuat daftar hadits dha’if. Di masa sekarang ini, para ulama yang berkonsentrasi di bidang hadits banyak yang menuliskannya, seperti karya-karya Syaikh Nashiruddin Al-Albani. Di antaranya kitab Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah yang berjumlah 11 jilid.

BAB: SEBAGIAN ORANG MUSLIM YANG MASUK SURGA TANPA HISAB
11 april 2011 _Soni ahmadi 126. Sahl bin Saad r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda : Pasti akan masuk surga dari umatku tujuh puluh ribu atau tujuh ratus ribu  (periwayat ragu, 70.000 atau 700.000) bersama-sama yang satu memegang yang lain, tidak masuk yang pertama sehingga masuk juga yang akhir, wajah mereka bagaikan bulan purnama.  (Bukhari, Muslim).
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعُونَ أَلْفًا أَوْ سَبْعُ مِائَةِ أَلْفٍ شَكَّ فِي أَحَدِهِمَا مُتَمَاسِكِينَ آخِذٌ بَعْضُهُمْ بِبَعْضٍ حَتَّى يَدْخُلَ أَوَّلُهُمْ وَآخِرُهُمْ الْجَنَّةَ وَوُجُوهُهُمْ عَلَى ضَوْءِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ
قَالَ  قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعُونَ أَلْفًا أَوْ سَبْعُ مِائَةِ أَلْفٍ شَكَّ فِي أَحَدِهِمَا مُتَمَاسِكِينَ آخِذٌ بَعْضُهُمْ بِبَعْضٍ حَتَّى يَدْخُلَ أَوَّلُهُمْ وَآخِرُهُمْ الْجَنَّةَ وَوُجُوهُهُمْ عَلَى ضَوْءِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ

11 april 2011 _Soni ahmadi 113. Abu Musa r.a. berakata: Rasulullah saw. bersabda : Ada dua buah Surga yang terbuat dari perak beserta wadah dan segala isi kandungannya, dan dua buah Surga yang terbuat dari emas beserta wadah dan segala isi kandungannya. Penghalang ahli Surga untuk memandang Rabb mereka hanyalah hijab Keagungan pada Wajah-Nya di Surga Adn.  (Bukhari, Muslim).
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ جَنَّتَانِ مِنْ فِضَّةٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا وَجَنَّتَانِ مِنْ ذَهَبٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا وَمَا بَيْنَ الْقَوْمِ وَبَيْنَ أَنْ يَنْظُرُوا إِلَى رَبِّهِمْ إِلَّا رِدَاءُ الْكِبْرِيَاءِ عَلَى وَجْهِهِ فِي جَنَّةِ عَدْنٍ
11 April 2011 _Soni ahmadi
111. Masruq berkata: Aku bertanya kepada ‘Aisyah r.a.:  Hai Ibu apakah Nabi Muhammad saw. telah melihat Allah?  Jawab Aisyah r.a. :  Sungguh berdiri bulu romaku sebab pertanyaanmu itu, dimanakah engkau dari tiga macam, orang yang menerangkan itu maka ia dusta: 1. Siapa yang menerangkan padamu bahwa Nabi Muhammad saw. melihat Allah, maka ia dusta. Lalu ia membaca : Laa tudrikuhul abshaaru wa huwa yudrikul abshaara wa huwal lathiful (Allah tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, dan Dia yang mencapai semua penglihatan, dan Dia maha halus kekuasaanNya yang maha mengetahui sedalam-dalamnya) dan ayat: Wama kana libasyarin an  yukallimahullah illa wahyan au min waraa’i hijab (Tiada seorang yang berkata-kata dengan Allah melainkan dengan wahyu atau dari balik tabir/hijab). 2. Siapa yang mengatakan bahwa ia mengetahui apa yang akan terjadi esok hari, maka sungguh dusta, lalu dibacakan ayat : Wama tadri nafsun madza taksibu ghada (Dan tiada seorangpun yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari). 3. Dan siapa yang berkata bahwa Nabi Muhammad saw. menyembunyikan apa yang diwahyukan oleh Allah maka sungguh orang itu dusta, lalu Siti Aisyah membaca: Ya ayyuhar rasulu balligh maa unzila ilaika min rabbika (Hai utusan Allah sampaikanlah apa yang diturunkan oleh Tuhan kepadamu). Tetapi Nabi Muhammad saw. telah melihat Jibril dalam bentuk yang sebenarnya dua kali.  (Bukhari, Muslim).
Ditulis dalam
11 April 2011 _soni ahmadi
110.                                                                                                                                                    
أَبُو إِسْحَاقَ الشَّيْبَانِيُّ قَالَ سَأَلْتُ زِرَّ بْنَ حُبَيْشٍعَنْ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى{ فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى }قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ مَسْعُودٍ أَنَّهُ رَأَى جِبْرِيلَ لَهُ سِتُّ مِائَةِ جَنَاحٍ
Abu Ishaq asy-Syaibaniy berkata; Aku bertanya kepada Zirra bin Hubaisy tentang firman Allah Ta’ala QS an-Najm ayat 9-10: “Fa kaana qaaba qausaini aw adnaa. Fa awhaa ilaa ‘abdihii maa awhaa” (“Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) sedekat dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan”). Dia berkata, telah bercerita kepada kami Ibnu Mas’ud bahwa Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam telah melihat Jibril yang memiliki enam ratus sayap”.  (Bukhari, Muslim).